
"Bantu saya untuk mendapatkan Nona West. Ah, maksud saya mendapatkan Arsiel. Bagaimana? Itu tawaran yang cukup menarik, bukan?" Marchel menyunggingkan senyum licik di wajahnya dengan sangat kentara. Arland tertegun sejenak. Rahangnya mengeras karena menahan rasa kesal yang kian menjadi.
"Apa yang kamu maksud dengan mendapatkan? Apakah kamu menginginkan sesuatu darinya?"
"Wah, wah! Meski kamu pembohong terburuk, tapi kamu punya otak yang cukup pintar. Saya menyukai itu. Harus saya akui bahwa saya memang menginginkan sesuatu. Tapi jangan khawatir, karena saya bukan orang yang akan berani berbuat jahat padanya." Marchel kembali melayangkan tatapan dingin yang tidak bersahabat. Kali ini senyumannya menambah kesan horor yang terlukis di permukaan ekspresi.
"Bukan orang yang akan berani berbuat jahat katamu? Beritahu aku siapa orang yang akan percaya pada ucapan seseorang dengan wajah tidak meyakinkan seperti dirimu!" Arland memberikan penekanan pada beberapa kata dalam kelimatnya, membuat Marchel berdecak keras dengan wajah yang semakin kusut.
"Kamu cukup menjengkelkan. Darimana orang sepertimu mempelajari sesuatu tentang membuat orang menjadi kesal? Mungkinkah kamu memiliki bakat untuk itu?" Marchel menghela napas berat, menautkan kedua alisnya. Baru kali ini dia bertemu dengan orang yang memiliki lidah selincah itu tanpa rasa takut.
Wajar saja Arland tidak merasakan intimidasi apapun. Saat ini dia memandang lelaki di depannya sebagai orang asing, tidak lebih dari itu. Arland belum mengetahui seberapa menyeramkan orang yang menjadi lawan bicara saat ini, mengingat dia belum mengerti penempatan nomor dalam numbers.
"Terserah saja! Saya menyerah untuk yang satu ini. Jangan berharap kamu dapat membantu Arsiel tanpa melibatkan saya, Tuan Muda Arland." Marchel membalik badan, melangkahkan kaki meninggalkan Arland dengan sekian kecurigaan.
"Ah, hampir saja saya melupakan sesuatu." Langkah Marchel terhenti. Dia kembali membalik badan untuk menatap Arland di tempat yang sama.
"Ambil ini! Hubungi saya jika kamu berubah pikiran." Marchel melempar sebuah kartu ke arah Arland, mendaratkan kartu tepat di telapak tangan yang sedang terbuka.
"Ingat, kerjasama ini tidak akan merugikanmu." Sekali lagi Marchel memutar arahnya, kembali meneruskan langkah kaki yang tadi sempat terhenti.
Arland hanya bergeming menatap punggung Marchel yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang di tengah kerumunan. Setelah siluet Marchel tidak terlihat lagi dalam pandangan, Arland langsung jatuh bersimpuh. Telapak tangannya menutup mulut Arland dengan napas yang tengah memburu. Padahal sedari tadi dia tidak merasakan apapun, namun setelah kepergian Marchel seluruh tubuhnya menjadi lemas seketika.
"Apa-apaan ini?"
Arland tidak ingin memikat perhatian para siswa-siswi di sana. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Arland berusaha untuk kembali berdiri. Saat sedang mencoba melangkahkan kaki ke arah depan, tubuhnya terhuyung hampir terjatuh. Untung saja tangan Arland dengan sigap menahan bebannya pada tembok sehingga dia tidak jatuh bersimpuh lagi.
Aura mencekam dari Marchel memberikan efek yang sangat besar. Bagaimana bisa Arland baru merasakan intimidasi yang kuat setelah orang itu sudah menghilang? Terlalu banyak realitas yang Arland ketahui hari ini, perlahan-lahan semua terkumpul seperti serpihan puzzle yang coba dia rangkai.
Banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. Arland sudah terlibat begitu jauh dan dia terus merasa penasaran terhadap semua rahasia ini. Keterlibatan Arland bisa saja membahayakan nyawanya, dilihat dari pesan terakhir yang dia baca pada layar smartphone milik Arsiel.
Arland sangat penasaran hubungan apa yang terjalin di antara Arsiel dan Marchel, mereka terlihat cukup dekat namun muncul konflik diantara keduanya. Sikap kasar Marchel kepada Arsiel terakhir kali tidak menjamin bahwa Marchel tidak akan berani berbuat jahat padanya, mengingat hal itu membuat Arland merasa kesal tanpa sadar dia membanting NameCard yang diberikan Marchel ke lantai koridor.
Tidak terasa Arland sudah cukup lama berdiri bersandar pada tembok, sekarang dia sudah jauh lebih baik dari pada beberapa menit yang lalu. Arland memungut NameCard yang dia banting tadi, bagaimanpun benda itulah yang akan menjadi petunjuknya atas semua pertanyaan yang berhubungan dengan Arsiel, itupun jika dia mau menerima tawaran Marchel terakhir kali. Tanpa berlama-lama lagi Arland langsung beranjak pergi menuju kelasnya.
Arland sudah tiba di depan pintu kelasnya. Baru saja dia berjalan masuk berniat mendudukkan diri pada kursinya, secara tiba-tiba pemberitahuan waktu pulang sekolah diumumkan oleh speaker yang terpasang disetiap sudut kelas. Seluruh teman-teman sekelasnya berteriak kegirangan sedangkan Arland merasa terkejut. Bagaimana bisa waktu berlalu begitu cepat pikirannya, dia bahkan belum memutuskan untuk menerima tawaran Marchel atau tidak.
Hari sudah beranjak malam. Setelah seharian beraktivitas di sekolah, kini saatnya untuk beristirahat di tempat tidur. Namun, Arland justru memilih memuaskan rasa penasarannya yang semakin lama kian membuncah.
Sekarang Arland tengah berada di ruang kamarnya, menatap lamat-lamat NameCard yang diberikan oleh Marchel. Dengan cepat tangannya mengetuk layar ponsel untuk menyimpan nomor yang tertera di permukaan kartu.
[To : Mikhael Archie]
[Aku menerima tawaran kerjasamanya. Tapi aku tidak akan melakukan hal-hal aneh yang tidak senonoh. Camkan itu!]
[Balasan]
[Pilihan yang bagus. Saya akan mengirim koordinat suatu tempat, datanglah kesana setelah matahari tertidur.]
Layar smartphone Arland menampilkan sebuah pesan yang sangat singkat. Disana juga terdapat alamat lengkap yang disertai koordinat suatu tempat.
"Ini agak jauh, tapi tidak masalah."
Setelah itu Arland bergegas membersihkan diri dan mengganti pakaiannya. Dia mengenakan pakaian yang simple dan nyaman untuk bergerak. Malam nanti dia akan berada dengan seseorang yang eksistensinya tidak pernah terpikirkan oleh Arland.
Tidak lupa juga untuk membawa beberapa senjata dan berjaga-jaga sebagai perlindungan diri. Bisa saja pertemuan ini hanya jebakan untuk menghabisinya atau sekedar membungkamnya dengan kekuatan.
Berakhirlah dia di tempat ini, bersama dengan seorang lelaki yang tidak bisa lagi dia anggap sebagai orang biasa. Dinginnya malam terasa menusuk tulang, dengan suasana yang terasa begitu mencekam.
"Saya tidak menyangka bahwa kamu akan menerima tawaran itu." Marchel menatap Arland dengan senyuman puas yang terlihat jelas di wajahnya meski berada di tengah gelapnya malam.
Arland diam tidak menjawab. Untuk saat ini, selama dia masih belum menginjakkan kaki di rumahnya, maka dia tidak boleh lengah sedikitpun. Kemungkinan orang yang bersamanya memiliki niatan lain.
Mereka berjalan menuju bangunan yang masih dalam tahap konstruksi. Sebuah bangunan dengan tiga lantai dan hanya berdiri pilar dengan lantainya saja. Tanpa tembok, tanpa dinding. Dilihat sekilas itu seperti bangunan yang tidak terawat selama puluhan tahun. Meski samar ditangkap oleh mata, namun dapat dilihat banyak lumut yang mulai tumbuh di permukaan pilar dan lantai bangunan itu.
"Untuk apa kita datang ke tempat ini? Bukankah perjanjiannya adalah memberitahuku alasan kenapa Gerryn menjadi targetnya?" Arland mengeraskan rahang, menatap punggung Marchel dengan mata yang tidak bersahabat.
"Memang! Dan inilah tempatnya. Sebuah tempat yang memang khusus dibangun untuk gadis itu."