I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Awal dari Akhir



Dapat terlihat samar cahaya syamsu mulai memudar, dengan Perlahan tapi pasti kegelapan merayap menutupi seluruh semesta. Namun kegelapan tidak sepenuhnya mendominasi karena sinar rembulan dengan tegas memukul mundur hingga mampu memberikan cahaya pantulan di setiap jengkalnya.


Dari kejauhan Arland dapat melihat jelas perubahan yang sedang terjadi, ingin segera dia kembali ke rumah untuk mengistirahatkan diri. Namun, pria di sampingnya berhasil mencegah niatnya.


pikirannya saat ini sedang kalut dengan beberapa pertanyaan yang dipertanyakan pada dirinya sendiri. Mengapa dengan mudahnya dia menyetujui permintaan seseorang yang bahkan tidak dia kenal.


Arland saat ini berada di dalam sebuah mobil mewah yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Sesekali dia melirik ke arah pria yang berada tepat di sampingnya dengan penuh kecurigaan.


"Kita akan pergi ke mana?" Arland membuka suara setelah lamanya terdiam.


"Bukit." Pria itu menjawab singkat.


Tepat setelah jawaban itu terdengar, mobil yang mereka kendarai berhenti di sebuah bukit yang berada sedikit jauh dari kota. Berbeda dengan bukit yang sering Arland singgahi, suasana bukit ini sedikit lebih mencekam karena tidak ada banyak sumber cahaya lain selain dari sinar bulan dan juga pantulan cahaya lampu mobil.


Pria di sampingnya melangkah keluar lebih dulu dari dalam mobil lalu langsung memberikan isyarat pada Arland untuk ikut mengekorinya. Tepat setelah mereka berjalan sedikit menjauh dari mobil secara tiba-tiba angin berhembus kencang menerpa keduanya.


"Jadi? Siapa kamu sebenarnya?" Arland menghentikan langkahnya lalu langsung menanyakan identitas pria di sampingnya.


"Perkenalkan nama saya Morgan." pria itu memperkenalkan diri secara singkat.


"Baiklah tuan Morgan. Apa yang kamu inginkan?" Arland kembali melempar pertanyaan pada orang yang menyebut dirinya dengan nama Morgan.


"Saya hanya ingin menanyakan satu pertanyaan padamu." Morgan menjeda ucapannya sejenak.


"Saya akan bertanya kembali untuk memastikan. Apa benar kamu mengenal seorang gadis dengan nama lengkap Arsiel Charsa?" Morgan mengalihkan pandangan ke arah Arland. Menanyakan pertanyaan serupa beberapa waktu yang lalu sebelum mereka meninggalkan pekarangan sekolah.


"Tentu saja aku mengenalinya, Arsiel adalah salah satu siswi di sekolah yang sama denganku. Sekarang biarkan aku bertanya padamu. Siapa kamu sebenarnya? Aku tahu kamu bukan orang sembarangan." Arland bertanya dengan nada seriusnya. Dia sangat yakin Morgan bukanlah orang biasa karena penampilannya terlihat sangat berkelas.


"Saya sudah memperkenalkan diri bukan? Saya Morgan." Jawaban Morgan membuat Arland tanpa sadar berdecak pelan karena kesal.


"Yang aku maksud Identitasmu sebenarnya dan bagaimana bisa kamu mengenal Arsiel?" Arland terus mendorong agar Morgan mengungkap identitasnya.


"Saya tidak tahu harus menilai dirimu bagaimana. Di lain sisi otakmu bekerja tapi ada masa dimana otak itu tidak berfungsi. Atau mungkin kamu tidak bisa memilah beberapa petunjuk?"


Arland bergeming di tempat mencoba menelaah perkalimat yang Morgan sampaikan padanya. Setelah berpikir sejenak Arland hanya mampu menangkap cercaan yang Morgan arahkan padanya.


"Apa yang coba kamu.."


Belum sempat Arland menyelesaikan kalimatnya, tanpa lelaki itu sadari Morgan perlahan mengangkat salah satu tangannya. Hanya dengan satu gerakan cepat Morgan memukul leher bagian belakangnya dengan sangat keras hingga membuat Arland tak sadarkan diri.


*****


WARNING!!


Part di bawah ini mengandung adegan yang tidak pantas untuk beberapa kalangan tertentu. Harap bijak dalam membaca! Adegan dalam bab ini tidak diperbolehkan untuk dipraktikkan dalam dunia nyata. Seluruh kejadian murni hasil imajinasi penulis semata.


~~~


Arland mengerjapkan mata perlahan. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan yang di tempatinya saat ini. Ruangan itu tidak terlalu besar dengan dinding berwarna putih tulang yang hanya di terangi oleh satu lampu tepat berada lurus di atasnya.


Arland mencoba untuk bangun dari posisi terlentangnya, akan tetapi usahanya gagal. Tangan dan kakinya seolah ditahan oleh sesuatu yang terbuat dari besi. Jangankan bangun, bahkan dia merasa kesulitan hanya sekedar untuk menarik napas panjang.


Pada leher Arland terdapat sebuah besi melingkar yang terhubung langsung dengan meja besi yang di tidurinya. Satu satunya bagian tubuh yang dapat bergerak bebas adalah bola matanya saja.


Arland mencoba mengingat apa yang terjadi padanya hingga berakhir bertelanjang dada di tempat seperti ini. Memang dari awal Arland sudah mencurigai Morgan, tetapi dia tidak berpikir sosok Morgan adalah orang yang harus dia hindari. Setelah mendengar nama 'Arsiel' di sebut olehnya, Arland menjadi penasaran pada sosok pria yang baru saja dia temui beberapa menit yang lalu.


"Dari mana saya harus memulai?" Sebuah pertanyaan di lontarkan oleh seorang pria yang baru saja memasuki ruangan. Arland dapat langsung mengenali orang itu, dia adalah Morgan orang yang telah membawanya ke tempat ini.


"Lepaskan aku sialan!!" Arland memberontak membuat tangan dan kakinya bergesekan dengan besi.


"Berhenti bergerak, jangan menyiksa dirimu sendiri. Cukup berteriaklah dengan kencang agar saya semakin bersemangat." Morgan berkata dengan santai di selingi seringan yang terlihat sangat menyeramkan.


Morgan berjalan mendekati meja yang penuh dengan berbagai macam alat penyiksaan. Pria itu berpikir alat mana yang harus dia gunakan sebagai permulaan. Setelah beberapa detik berlalu pilihannya jatuh pada sebilah mata pisau lipat yang terlihat sangat tajam.


Morgan kembali berjalan mendekati Arland. Namun kali ini dia berdiri tepat pada sisi bagian kanan dengan membawa mata pisau yang dia genggam di tangannya.


Suasana di dalam ruangan itu semakin mencekam. Keringat dingin terus mengalir membasahi pelipisnya. Jujur saja Arland merasakan takut yang teramat dalam, air muka yang ditunjukkan oleh Morgan berhasil membuat tubuh Arland sedikit bergetar.


"Arland, seharusnya kamu bersyukur karena saya yang akan memermak tubuh ini. Jika orang lain selain saya, maka rasanya tidak akan memuaskan." Morgan tersenyum penuh arti sambil sesekali memeriksa ketajaman mata pisau lipatnya.


"Siapa kamu sebenarnya?" Arland bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.


"Saya yakin kamu tidak sebodoh itu, Arland. Di situasi seperti ini apakah layak mempertanyakan identitas orang lain? Bukankah Seharusnya kamu mengkhawatirkan keselamatan diri sendiri?" Morgan mengangkat salah satu alisnya merasa heran.


"Lupakan saja. Mari kita lihat setajam apa benda ini." Tangan Morgan terangkat untuk mengelus pelan lengan Arland. Lalu dengan gerakan cepat Morgan menggores lengan itu menggunakan mata pisaunya.


Daging di lengan Arland terbelah hingga terlihat sedikit tulang yang timbul pada bagian akhir goresan, secara bersamaan darah segar langsung merembes keluar hingga membasahi meja. Kejadian itu begitu cempat membuat Arland sedikit tersentak. Ketajaman pisau lipat itu memberikan durasi maksimal tiga detik sebelum rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuh.


Arland meringis kesakitan sebagai respon setelah mendapat goresan yang sangat dalam. Kejadian itu membuat Morgan merasa semakin tertantang untuk membuat Arland berteriak sekencang yang dia bisa. Bagi Morgan suara teriakan korban bagaikan melodi yang sangat indah, sebut saja dia gila maka dengan senang hati Morgan mengakuinya.


"Saya akan menyalakan pengatur waktu mulai dari sekarang. Sampai menit berapa kamu akan bertahan?"


"Dasar gila." Arland berdecih pelan setelahnya.


"Saya memang gila. Terimakasih pujiannya." Morgan kembali beranjak pergi menghampiri meja tempat alatnya terpajang. Kemudian tangannya meraih sepasang sarung tangan putih polos yang sudah di siapkan. Setelah sarung tangan itu terpasang rapi Morgan kembali meraih mata pisaunya.


Sesuai dengan perkataannya barusan, Morgan menekan pengatur waktu digital yang terpasang di dinding. Setelah memastikan jam digital itu bekerja, Morgan langsung mengambil langkah mendekati tempat Arland untuk sekian kalinya.


"Let's start."


*****


Dua puluh menit berlalu begitu lambat. Dalam kurun waktu panjang itu Kondisi Arland sudah terlihat sangat menggenaskan. Meja besi yang tadinya masih bersih tanpa noda berubah di banjiri darah segar yang terus menetes hingga mengotori lantai.


Seluruh bagian tubuh Arland seolah mati rasa, dia bahkan tidak punya cukup tenaga hanya untuk membuka mata. Jari-jari tangan dan kakinya terpotong menjadi beberapa bagian, daging ditubuhnya tidak lagi menempel dengan sempurna. Arland hanya mampu bergeming dengan tubuh yang di selimuti oleh darah.


"Saya merasa takjub kamu masih bisa menarik napas sampai detik ini. Tapi setelah melihat kondisimu sekarang, rasanya tidak mungkin bertahan sampai lima menit kedepan." Morgan menyuarakan pendapatnya.


"Bunuh saja aku." Arland membuka matanya perlahan. Setalah mencoba beberapa kali akhirnya Arland bisa menyampaikan satu kalimat dengan suara lirih. Pikirannya saat ini melayang jauh memikirkan gadis yang belum lama ini berhasil mengisi ruang kosong di hatinya. Arland berharap semoga gadis itu tidak bersedih dan tidak menyalahkan dirinya sendiri.


"Saya kabulkan."


Setelah permintaan itu terucap langsung saja tangan kanan Morgan membung gunting rumput secara acak. Kemudian tangannya meraih sebilah kapak tajam yang telah dia siapkan. Dengan perlahan tapi pasti kedua tangannya mengangkat kapak setinggi mungkin.


"Aku akan selalu mencintaimu Harwich. Sampai berjumpa lagi." Tepat setelah Arland mengutarakan kembali perasaannya kepada Arsiel. Detik itu juga kapak tajam membelah tubuhnya menjadi dua bagian.


Arland terpejam sangat erat. Jika di teliti secara seksama dapat terlihat samar jejak air mata yang mengalir jatuh bercampur dengan darah.


"Jika nantinya ada kesempatan untuk hidup kembali. Lebih baik jangan ikut campur kedalam urusan orang lain lagi."