
Harwich menggeram. Dia merasa sangat frustasi karena tidak bisa terbangun dari dimensi yang mengekangnya saat ini. Padahal dia sedang terburu-buru, tapi selalu saja ada hal yang menghambatnya.
"Sial! Apa mereka berdua juga mengalami hal yang sama?" Harwich menghela napas. Gadis itu menengadah, mencoba meringankan kepalanya yang terasa sangat berat.
"Kenapa anda berhenti, Nona? Kita tidak punya banyak waktu lagi." Dandelion semakin mendesak, namun gadis yang diajak bicara olehnya tidak merespon sama sekali seolah sibuk berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Matanya bergerak acak mulai merasa gelisah. Harwich menarik napas dalam mencoba mengendalikan dirinya, dalam situasi seperti ini dia harus segera menemukan jalan keluarnya.
"Apa yang sedang anda khawatirkan nona? Dan sampai kapan kita akan berdiam diri di sini?" Dandelion kembali bersuara mempertanyakan gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Harwich.
Lamanya menuruni tangga membuat Harwich menyadari keanehan yang sedang terjadi meskipun sedikit terlambat. Harwich sangat yakin bahwa dia terjebak di alam bawah sadarnya. Jelas sekali bahwa dia saat ini tidak sedang berada dunia nyata. Jika memang tebakannya salah, maka tidak mungkin agen Dandelion menjawab sesuatu seperti waktu yang lalu.
Harwich memang tidak begitu mengenali sosok Dandelion, tapi meskipun begitu seorang agen sepertinya tidak mungkin diam saja tanpa memberikan spekulasi di situasi seperti saat ini.
"Sudahlah mari kita lanjutkan saja." Andromeda mengambil langkah maju diikuti oleh Dandelion setelahnya. Mereka berdua turun satu tangga mendahului Harwich. Namun, belum sempat mereka menapakkan kaki pada tangga selanjutnya dengan satu gerakan cepat Harwich menendang Andromeda pada bagian lengannya.
Meskipun tendangan itu tidak begitu kuat, tetapi mampu membuyarkan keseimbangan tubuh Andromeda. Tubuhnya terhuyung kesamping membentur tubuh Dandelion. Detik itu juga Harwich membelalak tidak percaya, tepat di depannya dua tubuh rekannya menghilang menyerupai asap berwarna hitam pekat.
"Apa yang terjadi? Apa aku sedang berhalusinasi?" Harwich memejamkan mata berharap segalanya kembali normal.
Setelah beberapa detik berlalu Harwich kembali membuka mata. Tidak ada yang berubah, dia masih berdiri kaku sendirian di tangga panjang yang sesak dan mencekam.
"Aku tidak membutuhkan orang sepertimu!" Dari arah belakang terdengar suara dari seseorang yang sangat dia kenali. Sesegera mungkin Harwich membalikkan badan untuk menatap wujudnya. Wajah pucatnya semakin pucat ketika menatap orang yang sedang berdiri satu tangga lebih tinggi di depannya.
"Master?" Harwich semakin di buat bingung meskipun dia sadar ini hanyalah ilusi semata, tetapi ilusi ini begitu terasa nyata baginya.
Secara tiba-tiba tangan panjang itu mendorong tubuh Harwich hingga terhuyung kebelakang. Harwich ingin meraih tangan itu sebagai pegangan namun semuanya sudah terlambat. Tubuhnya terjatuh berguling menuruni tangga hingga tertelan kegelapan.
*****
Harwich membuka mata untuk sekian kalinya dengan keringat dingin mengalir membasahi wajahnya. Napasnya memburu seperti baru saja di kejar oleh maut. Keterkejutan yang dia alami berkali-kali membuat Harwich terdiam memproses beberapa kejadian sebelum akhirnya berhasil kembali merebut kesadarannya.
Hal seperti itu tidaklah mustahil untuk terjadi. Harwich sudah mengira bahwa organisasi Chjornaya bisa saja mengembangkan suatu gas yang membuat seseorang pingsan dalam hitungan kurang dari satu detik dan langsung membawa kesadaran menuju alam yang berbeda.
Harwich segera beranjak berdiri dari posisi awalnya, berjalan secepat mungkin menuju dua tubuh lain yang tergeletak tidak jauh dari tempatnya berada.
Gadis itu memilih untuk menghampiri Dandelion terlebih dahulu. Dia menatap wajah yang ditutupi oleh masker kulit itu sejenak, lalu dengan sengaja menendang tengkorak Dandelion dengan cukup keras.
Tubuh lelaki itu langsung berguling jatuh menuruni tangga, lalu kesadarannya kembali dan dengan sigap mengambil gerakan yang tepat untuk menghentikan tubuhnya.
Lelaki itu tersengal dengan napas yang menderu. Baru saja dia berada di alam bawah sadar yang cukup mengerikan untuknya, lalu dibangunkan dengan cara yang mengerikan juga. Setelah selesai mengatur napas, lelaki itu menatap Harwich yang berada beberapa tangga di atasnya. Tatapan yang penuh dengan rasa tidak suka.
Gadis itu sama sekali tidak menghiraukan Dandelion dan tidak merasa bersalah padanya. Dia justru langsung menuju pada tempat dimana tubuh Andromeda tergeletak. Harwich melakukan hal yang sama seperti yang sudah dia lakukan pada Dandelion sebelumnya, mengembalikan kesadaran rekannya dengan cara yang sedikit ekstrim.
Tubuh Andromeda juga mengalami hal yang sama, berguling jatuh menuruni tangga sampai akhirnya kesadaran lelaki itu dipaksa kembali pada dunia nyata. Napasnya tidak terdengar seperti sedang terkejut, namun bisa dilihat dari sorot mata yang membelalak itu.
“Akhirnya kalian sadar. Ayo lanjutkan dan kali ini lebih berhati-hati. Saya tidak menyangka kita bisa terlalu ceroboh seperti ini.” Harwich mengedarkan pandangannya menatap seluruh dinding yang berada di sekitar.
Tidak butuh waktu lama bagi gadis untuk menangkap sebuah ventilasi yang terletak tepat di atap tidak jauh darinya. Tiga lubang ventilasi berbentuk bulat dengan ukuran yang sangat kecil.
“Ternyata benar.” Harwich menggigit bibir bawah dengan air muka kesal ketika menengadah, membuat perhatian dua agen di depannya juga menuju pada tempat yang sama.
“Apa itu ventilasi? Tapi ukurannya terlalu kecil jika disebut sebagai ventilasi udara.” Dandelion menatap heran, kemudian mengalihkan perhatian pada Harwich seolah meminta penjelasan.
“Ini hanya spekulasi saya semata. Bisa jadi ventilasi itu dibuat sebagai sarana penyaluran gas yang digunakan untuk membuat kita tidak sadarkan diri.”
“Pantas saja saya merasa ada yang aneh.” Andromeda memberi komentar untuk mengiyakan pendapat Harwich.
“Karena itulah kita harus lebih waspada mulai dari sekarang. Jangan sampai waktu kita terbuang percuma hanya karena hal semacam ini lagi.” Harwich berujar dengan nada yang datar dan tegas.
“Benar, mari lanjutkan dengan lebih pintar.”