
Suasana dingin malam hari terasa menusuk kulit. Atmosfer yang kian memadat semakin menambah hawa yang tidak menyenangkan.
Didalam sebuah ruangan berkelas yang dihiasi oleh lampu terang berpendar di setiap jengkal, sepuluh orang yang saling menutupi wajahnya dengan topeng sedang berkumpul.
Selama sepuluh menit terakhir tidak ada satupun yang membuka suara. Seolah mereka saling mengawasi selama selang waktu tersebut.
"Jadi, apa agenda hari ini?"
Merasa kesal dengan tatapan beberapa pasang mata yang saling mengintimidasi, salah satu dari mereka akhirnya membuka suara. Di bagian dada sebelah kiri Jas yang dikenakannya tertulis 'A-05' yang menandakan sebagai identitas dalam agen khusus.
"Bukankah agenda hari ini sudah dijelaskan di dalam pesan yang dikirim?" Salah seorang lain dari mereka yang merupakan seorang perempuan dengan tulisan 'A-04' berdecak keras. Nadanya yang ketus membuat hampir semua pasang mata mengarah padanya.
"Maksudmu tentang misi pembunuhan? Apa ini ada kaitannya dengan AM-4?" Suara berat seorang lelaki bertanya dari balik topeng. Dia adalah A-01, seorang agen terkuat di dalam numbers fraksi pertama.
"Tidak ada yang tahu. Bahkan 'dia' masih belum datang untuk menjelaskan tujuannya mengumpulkan kita sekarang." Seorang agen numbers, A-10, memdengus kesal karena sudah lama menunggu.
Arsiel dan Marchel hanya diam saja dari balik topeng mereka, bersikap seperti orang asing satu sama lain.
Tidak lama setelah itu satu-satunya pintu ruangan terbuka lebar, memperlihatkan sosok lelaki dengan perawakan tinggi besar. Otot-ototnya mencuat dari balik kemeja yang sangat ketat. Rambut hitam legam yang panjang, serta topeng rubah yang dia kenakan di separuh wajah bagian atasnya. Berbeda dengan topeng para numbers yang dipakai untuk menutupi seluruh wajah dengan model topeng yang sama.
"Maaf telah membuat kalian menunggu." Lelaki itu memasuki ruangan dengan langkah yang berat. Suara sepatu miliknya mengisi keheningan suasana.
"Akhirnya datang juga."
"Anda pikir sudah berapa lama kami menunggu?"
"Datanglah lebih tepat waktu, Mr. Fox."
Satu persatu dari para numbers mulai mengoceh ketika lelaki itu telah sempurna berada di tempat duduknya. Namun tidak ada sepatah kata yang dilontarkan untuk menanggapi ocehan mereka. Pria bertopeng rubah itu hanya menatap para numbers tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Setelah selesai menyampaikan keluh kesahnya, suasana ruangan kembali sunyi. Semua atensi tertuju pada pria rubah, sedangkan pusat tatapan tidak ada pergerakan untuk membuka suara sedikitpun.
"Baiklah, izinkan saya memulai lebih dulu." Agen numbers A-01 meminta izin untuk memulai. Pria rubah menganggukkan kepala pelan memberi izin.
"Perihal pesan yang kami terima, apa semua itu berhubungan?"
"Saya tahu kalian semua mendengar kabar yang tidak pasti kebenarannya. Namun, ada yang lebih penting dari pada itu...Saya memberi kepercayaan penuh pada kalian, mengingat fakta bahwa kalian sudah lama mengabdi pada organisasi."
"Apa yang sedang anda bicarakan?" Agen numbers A-04 mewakili untuk bertanya.
"Salah satu dari numbers telah berkhianat. Kami dalam proses pencarian, jadi saya tekankan pada kalian, jangan membuat saya marah karena hal serupa." Lelaki bertopeng rubah itu menyelesaikan kalimat diakhiri dengan ancaman.
"Bagaimana bisa anda menuduh tanpa adanya bukti pasti." Seorang agen numbers A-07 yang sedari tadi diam mulai ikut bersuara.
"Data informasi telah di retas oleh seseorang dan sialnya dia tidak meninggalkan jejak sedikitpun. Bagaimana pendapat anda, Agen A-09?"
"Sudah jelas data itu tidak mungkin di salin oleh orang luar. Dilihat dari keamanan organisasi kita yang begitu sulit dimengerti. Namun juga ada sedikit kemungkinan data informasi itu ditembus oleh seseorang yang bukan dari organisasi kita." Arsiel menjelaskan apa yang ditangkap oleh otaknya.
"Mengapa anda bisa mendapat kesimpulan yang demikian?" Pria rubah itu menyunggingkan senyum yang nampak bagi seluruh anggota numbers fraksi pertama.
"Sederhana saja, dulu organisasi kita memiliki pengkhianat dalam hal yang sama. Bisa saja yang membobol keamanan informasi organisasi juga dilakukan oleh orang yang sama." Arsiel memberikan penjelasan singkat seraya membetulkan posisi topengnya yang terasa tidak nyaman.
Suara tepuk tangan dari pria rubah mengambang, membuat suasana yang canggung menjadi semakin canggung.
"Seperti yang diharapkan dari agen paling cerdas dalam numbers. Anda tidak pernah mengecewakan saya, Nona."
"Jangan terlalu banyak membuang waktu, Mr. Fox. Sampaikan saja yang sebenarnya ingin anda katakan di pertemuan ini." Arsiel menyeletuk di tengah kecanggungan yang menggantung.
"Baiklah, ada yang tidak sabaran di sini. Saya akan memberikan tugas baru pada kalian." Pria rubah mengeluarkan sepuntung rokok dari saku jasnya. Dia membakar ujung rokok, lalu menghisap asap itu dalam-dalam.
"Tunggu sebentar! Apa yang anda pikirkan? Saya masih mempunyai misi yang diberikan oleh petinggi organisasi." Arsiel berseru keberatan. Suaranya sedikit lebih tinggi karena merasa terkejut.
"Anda tetap bisa menjalankan misi yang akan saya berikan tanpa harus mengganggu misi dari organisasi." Pria itu berjalan mendekati kursi Arsiel, lalu memangkas jarak diantara wajah mereka.
"Nona, anda tahu bahwa saya paling tidak suka jika ada yang membantah perintah. Jadi, anda hanya perlu duduk manis sambil mendengarkan saya."
Arsiel hanya bisa terdiam mendengar itu. Semua anggota numbers tahu bahwa 'The Fox Master of Platinum Card' adalah orang dengan sikap dan hati dingin. Banyak rumor buruk tentangnya yang mengatakan bahwa dia sudah beberapa kali membuat cedera fatal pada bawahannya.
"Baiklah, saya akan memulai dari awal." Pria rubah kembali berjalan menuju kursinya, duduk dengan mengangkat satu kaki pada meja kecil di depannya.
"Dimulai dari kasus AM-4, misi pembunuhan."