I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Tiba di Markas Tunggal



Disebuah tempat terpencil yang jauh dari keramaian kota. Di tengah hamparan hutan sejauh mata memandang, terdapat sebuah bangunan yang berdiri megah dengan lampu yang berpendar sangat terang menyinari halaman penuh kemewahan.


Tepat di ambang gerbang, sebuah mobil hitam berhenti mulus. Gadis remaja dengan setelan serba hitam menampakkan diri dari balik pintu mobil, menatap bangunan di depannya dengan berat hati.


"Saya akan kembali ke markas utama."


Setelah itu mobil hitam melaju di tengah gelapnya malam, meninggalkan gadis itu sendirian.


"Tata dulu mentalmu, Arsiel." Gadis itu bergumam pada dirinya sendiri. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum mengambil langkah.


Arsiel mengetahui berapa banyak kamera tersembunyi yang ditanam di tempat ini, karena itulah dia merasa seperti sedang diawasi oleh puluhan mata. Arsiel berjalan menyusuri jalan setapak yang dipagari oleh tiang lampu model antik di pinggirannya. Di depan pintu masuk bangunan itu, berdiri dua pria dewasa muda dengan pakaian formal yang tengah bertugas.


"Tolong kartu identitas anda." Salah satu dari mereka mengulurkan tangan, menunggu Arsiel menaruh selembar kartu di telapak tangannya.


Arsiel tidak sempat untuk mencetak kartu terbarunya di markas utama, jadi dia memberikan ponselnya yang sudah tertera e-card anggota organisasi di layar. Dia masih memiliki silver card dalam sakunya, namun card dibawah gold tidak akan diizinkan untuk melewati pintu masuk markas tunggal.


Setelah memastikan keaslian identitas Arsiel, penjaga itu membukakan pintu untuk memberikan jalan pada gadis itu. Arsiel menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Baru kali ini dia menginjakan kaki di markas tunggal.


Suasana mencengkam menjadi hal pertama yang menyambutnya. Meski ruangan yang dia tapaki saat ini sangat terang, namun udara yang mengisi terasa sangat berat. Keheningan yang memenuhi telinga gadis itu semakin membuat firasatnya tidak karuan.


"Markas tunggal Black Card memang berbeda. Padahal aku hanya menapakkan kaki, tapi hawa intimidasi yang kuat sudah bisa aku raskan." Arsiel bergidik ngeri.


Dia pernah mendengar bahwa ruangan Black Card berada di lantai paling atas. Tanpa membuang waktu lagi, Arsiel berjalan menaiki tangga yang tersedia, bergegas menuju lantai enam yang menjadi lantai terakhir.


Tidak ada satupun lift dalam bangunan ini. Black Card memang sengaja mendesain bangunan yang meminimalisir penggunaan alat modern yang serba canggih. Tidak ada satupun yang tahu alasan Black Card membuat markas tunggal yang seperti itu.


[Pesan masuk]


[From : Mikhael Archie]


Arsiel mendengus melihat deretan kata yang dikirim oleh Marchel alias Mikhael. Dia sudah berusaha tiba secepat mungkin, bahkan pengemudi tadi sampai memilih jalan memotong untuk tiba lebih lekas.


Arsiel mengabaikan pesan itu tanpa membalasnya. Kaki gadis itu sedang fokus untuk melangkah melewati anak tangga demi anak tangga.


"Sial! Kenapa tidak ada lift di tempat ini?" Arsiel menggerutu dengan fokus yang masih belum teralihkan.


Melewati tangga sampai ke lantai enam akan memakan banyak waktu meskipun dia berlari dan melewatkan beberapa anak tangga untuk dipijak. Napas Arsiel mulai terengah karena rasa tertekan yang terus menyuruhnya untuk mempercepat tempo berlari.


Membutuhkan waktu sekitar lima belas menit bagi gadis itu untuk sampai di lantai terakhir. Arsiel berhenti sejenak untuk mengatur napas sebelum membuka pintu di depannya. Tidak lupa juga untuk mengelap keringat yang membasahi wajahnya.


Arsiel memasang topeng yang sama dengan saat pertemuan numbers terakhir kali. Para agen khusus harus saling menyembunyikan identitas. Hanya beberapa card tinggi yang boleh mengetahuinya.


Pertemuan kali ini melibatkan beberapa agen khusus dari fraksi kedua, hal itu mengharuskan Arsiel untuk mengenakan topengnya. Meski ini bukan pertemuan pertama dengan Black Card, tapi tetap saja Arsiel merasa tertekan untuk kembali berhadapan dengannya.


Setelah tempo napasnya berangsur normal, Arsiel mendorong masing-masing pintu hingga terbuka cukup untuk dilewati olehnya. Semua atensi pasang mata seketika tertuju padanya. Hal itu bukanlah yang pertama kali sehingga Arsiel hanya merasakan nostalgia. Namun perasaannya berubah ketika tatapan lelaki kurus pendek di depannya melayang tajam tepat ke arahnya.


Arsiel menelan ludah, mengambil langkah tenang dan pasti mendekati lelaki yang tengah duduk di 'singgasana' mewah. Arsiel bertekuk lutut ketika sudah sampai beberapa meter dari lelaki itu berada.


"Agen A-09 memohon belas kasihan kepada Pemimpin Utama Black Card." Arsiel menundukkan kepala. Tidak ada satupun Card menengah ke bawah yang diperbolehkan menatap langsung wajah Black Card dari dekat.


Ruangan hening, tidak ada suara sedikitpun. Bahkan anggota numbers sangat menjaga suara napas mereka. Rumor yang beredar diantara anggota organisasi mengenai lelaki pemilik Black Card bukanlah rumor yang baik.


Meski sedikit tidak percaya perawakan Black Card terlihat sangat lemah, namun aura yang dipancarkan membuat mereka tidak berani memikirkan hal apapun mengenai lelaki itu.


"Siapa yang memberimu izin untuk membuatku menunggu?"