
Suasana pagi hari di sekolah terasa tidak ada yang berbeda, kecuali tentang kenyataan mengenai Arsiel yang tidak akan masuk untuk waktu yang lama. Arland sedari tadi hanya termenung di tempat duduknya. Pikirannya kembali memutar kejadian semalam yang tiba-tiba membuatnya sangat rindu pada gadis itu.
"Aku harap tidak ada hal buruk yang terjadi padamu." Arland bergumam pelan, menghela napas dengan berat.
Sebelum berangkat untuk menemui ayah kandung Arsiel semalam, gadis itu meminta tolong pada Arland agar terus mengawasi Jacob untuknya. Arland juga langsung menyanggupi itu meski dia tahu tidak akan mudah.
Arland hanya bisa memerhatikan tingkah Jacob ketika jam istirahat berlangsung. Akibatnya, dia sudah dua kali melewatkan waktu istirahat ke kantin. Arland bahkan sampai lupa dengan bekal makan siang yang dia bawa.
"Ini sangat melelahkan." Arland menggerutu, namun kemudian terdiam karena teringat sesuatu.
Hanya tugas seperti ini saja sudah membuatnya sangat kelelahan, apalagi menjadi agen seperti Arsiel yang tentunya memiliki tugas lebih banyak dan lebih besar. Pemikiran itu kembali membuat Arland tidak enak hati.
Kini dia tengah berjalan menuju ruang guru untuk memastikan targetnya berada di tempat. Arland mengintip dari balik jendela, memerhatikan dengan seksama setiap kepala yang melewati pengawasannya.
"Woi, apa yang kamu lakukan di sana?" Suara yang tidak asing berhasil mengagetkan Arland, membuat lelaki itu menoleh ke asal suara. Penglihatannya tertuju pada sosok gadis yang tidak lain adalah Gerryn.
"Kecilkan suaramu!" Arland membelalak, menatap Gerryn dengan wajah marah. Gerryn sangat terkejut melihat ekspresi yang belum pernah Arland tunjukkan selama ini.
"Kamu tahu, sekarang kamu menjadi semakin menjengkelkan semenjak perempuan itu datang." Gerryn menautkan alis, menatap lelaki di depannya dengan kesal.
"Tutup saja mulutmu!" Arland menghardik, lalu pergi meninggalkan Gerryn ketika dia sudah memastikan tagetnya aman.
Gadis itu menatap lamat punggung Arland yang semakin menjauh dengan perasaan yang tidak menyenangkan. Arland masih belum mengetahui bahwa kehidupannya akan segera berada di puncak.
Kemudian kembali pada sudut pandang tempat Harwich berada. Perempuan yang terbaring sudah berada dalam keadaan yang sangat kacau. Semua kuku tangan dan kakinya telah dicabuti. Kulit di tangannya juga dilucuti sehingga menampakkan daging merah yang segar.
Meski begitu, perempuan yang tengah tidak bertenaga masih menutup rapat mulutnya. Samar tersirat rasa ketakutan dari tatapannya yang menerawang. Baik Harwich ataupun Mikhael menyadari hal itu.
Perempuan di depan mereka lebih memilih mati dari pada mengungkapkan siapa yang mengutusnya. Dia menyadari bahwa tidak ada hal baik yang menantinya apapun pilihan yang dia buat.
"Ini tidak akan mudah. Kita harus cepat mengetahui dalang dibalik kejadian ini sebelum sampai di telinga Black Card." Mikhael mengeraskan rahangnya, mulai merasakan gugup sambil memutar otak.
"Jika ini sampai bocor padanya, maka kita tidak akan bisa hidup tenang." Harwich menghela napas berat, menggigit kuku ibu jarinya.
"Haruskah kita membunuhnya? Saya yakin kita tidak akan mendapatkan apapun meski menyiksa dia lebih dari ini." Harwich menarik napas dalam, menatap tubuh perempuan itu lamat-lamat.
Harwich tahu persis tipikal orang seperti perempuan itu. Dia juga pernah berada di posisi yang sama dan memilih pilihan yang sama. Gadis itu sedang bingung harus melanjutkan dengan cara yang seperti apa. Membunuh perempuan itu tidak akan menghasikan apapun, begitu juga sebaliknya.
"Andai saya mempunyai kekuatan untuk masuk ke dalam pikirannya atau ke alam kesadarannya, semuanya pasti akan mudah." Harwich mendengus, berdecak dengan sangat keras karena kesal.
"Lalu organisasi tidak akan mencari cara dengan banyak taktik jika kamu memang mempunyai kelebihan seperti itu." Mikhael berkata dengan nada datarnya.
"Yah, yah, terserah saja. Kita sudahi untuk saat ini. Mari kembali ke ruangan masing-masing." Harwich melepas sarung tangan karet yang melekat sempurna di kulitnya, membuang itu di sembarang tempat.
"Benar. Kita akan lanjutkan lagi di lain waktu." Mikhael ikut melepas sapu tangan karetnya, melirik perempuan yang setengah sadar dengan senyuman.
"Bersiaplah untuk kesenangan di lain waktu, Nona."
Setelah kalimat itu berakhir, mereka berdua berjalan meninggalkan ruangan. Tidak lupa juga untuk mematikan saklar lampu, meninggalkan perempuan malang itu dalam kegelapan.
Harwich langsung melangkahkan kakinya menuju pintu keluar ruangan tanpa salam perpisahan apapun, begitu juga dengan Mikhael. Memang tidak seharusnya sesama agen menjadi dekat, karena itu bisa berpengaruh ketika menjalankan misi.
Lorong koridor masih terdengar ramai dengan suara-suara anggota organisasi yang masih sibuk mengurusi berbagai hal akibat keributan beberapa waktu lalu. Harwich membuka pintu ruangan, kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Harwich membuka laci nakas, mengambil sebuah kotak kecil berwarna hitam. Lalu hatinya merasa gundah ketika kotak itu sudah berada di genggamannya. Dia membuka tutup kotak perlahan, memperlihatkan selembar kertas yang terlipat rapi dengan ikatan pita hitam sebagai pelengkapnya.
Harwich membuka lipatan kertas seketika itu juga deretan kata yang ditulis oleh tangan terpampang jelas disana. Tulisan yang ditinggalkan oleh seseorang sebelum dia meninggal karena kasus AM-4.
[Hai, my little bear.]
[Kamu selalu berhasil membuatku merasa rindu. Sudah berapa lama kita tidak bertemu dan menghabiskan waktu bersama?]
[Bisa luangkan waktu sebentar untukku? Ada sesuatu yang ingin aku berikan sebagai hadiah ulang tahunmu. Maaf sedikit terlambat, heheh.]
[From your secret.]