I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Target Important



Atmosfer di ruang OSIS semakin memadat. Arsiel menatap Marchel penuh tanda tanya. Orang yang kini berada di hadapannya bukanlah orang biasa. Apa tadi yang dia bilang? 'Mohon kerjasamanya' begitu?


"Mar—Mikhael, kamu harus menjelaskan situasi saat ini!"


Perlahan Arsiel berjalan mendekati Marchel. Tatapannya sangat dingin dan mengancam. Tapi Marchel sama sekali tidak merasa terintimidasi. Dia justru tersenyum, seperti sudah terbiasa mendapatkan tatapan yang seperti itu sebelumnya.


Marchel beranjak duduk di salah satu kursi, menyilangkan kakinya. Dia berbalik menatap Arsiel dengan tatapan yang sama. Pupil Arsiel membesar, dia sontak terkejut. Namun Arsiel tidak menunjukkan perubahan pada ekspresinya.


"Seharusnya kamu sudah tahu. Saya tidak perlu memberi tahu lagi, kan? Kamu dikenal yang paling cerdas diantara numbers. Mustahil kamu tidak bisa membaca situasi sekarang." Marchel menutup mulut dengan telapak tangannya.


Posisi duduknya saat ini sangat berkharisma. Apa ini Marchel yang dia kenal? Tentu saja bukan. Dia adalah Mikhael Archie, pemilik goldcard dan sekaligus menempati 5 besar numbers.


"Kamu pasti punya alasan sendiri ada di sekolah ini, kan?"


"Tentu!"


"Jadi, kamu punya misi yang sama?"


"Seperti yang diharapkan dari Nona West! Saya memang sudah yakin kamu orang yang cepat tanggap."


Arsiel menghela napas berat. Rahangnya mengeras sejak tadi. Seharusnya dia senang karena memiliki partner yang 'sama' dengannya. Tapi setelah dia mendengar code name Marchel, pikirannya menjadi kacau. Apa tadi dia bilang? A-03?


Saat mendengar code itu, Arsiel merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Code name itu terkenal sebagai orang yang manipulatif. Dia tidak akan mau bekerjasama jika tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Selain itu, orang dengan code name A-03 mempunyai semacam 'gangguan jiwa'.


Arsiel tidak tahu harus menanggapi seperti apa. Sekarang pikirannya sedang dipenuhi berbagai pertanyaan. Bagaimana bisa seorang numbers gila ditempatkan pada misi seperti ini?


"Kamu tidak perlu tegang begitu. Saya tidak akan melakukan hal yang aneh-aneh di sekolah ini, jadi tenang saja. Dari tadi juga saya sudah bilang, kan? Saya akan jadi orang yang menurut terhadap perintah dari atasan." Marchel berdiri, berjalan ke arah meja dimana dia mengambil goldcard tadi.


"Kapten juga mengatakan kamu boleh kembali ke markas. Serahkan yang disini sama saya." Marchel berjalan mendekat. Jarak antara dia dan Arsiel semakin sedikit sampai hidung mereka hampir bersentuhan.


Marchel agak menundukkan kepala, menatap lurus mata Arsiel yang lebih pendek darinya. Sejenak Marchel membeku. Suara napas Arsiel yang semakin tidak teratur terdengar jelas olehnya. Dia semakin memangkas jarak diantara mereka.


"Lebih baik ikuti saja saran saya. Kamu bukan orang yang ingin saya sakiti. Jadilah anak baik dan penurut." Marchel berbisik di telinganya.


"Sial!" Arsiel mengumpat. Untuk sejenak dia mengira Marchel akan menciumnya.


Lengang. Mereka tidak mengeluarkan sepetah katapun setelah itu. Hanya saling menatap. Arsiel sudah menduga kalau orang yang saat ini seperti sedang mengancamnya tidak ditempatkan pada misi ini. Dia pasti diam-diam keluar dari pengawasan organisasi setelah mengumpulkan beberapa informasi. Tapi kenapa orang sepertinya malah memilih misi membosankan seperti ini? Bukannya dia tidak tertarik dengan sesuatu yang membosankan?


Arsiel kembali berkutat dengan pikirannya. Ada begitu banyak pertanyaan, tapi dia memilih untuk tetap diam. Arsiel berbalik, berjalan kembali ke ruang kelas. Dia akan mencari tahu tentang ini nanti. Sekarang dia hanya perlu fokus untuk melanjutkan pencarian informasi.


"Alice Ainsley, kan?" Batinnya.


Gadis itu menatap tajam. Tatapannya sangat jelas menunjukkan betapa tidak sukanya gadis itu padanya.


"Arsiel, kan? Ikut aku sekarang! Ada yang mau aku omongin sama kamu!" Alice mengeraskan rahang.


Tanpa pikir panjang, Arsiel mengiyakan ajakan itu. Lagipula mereka tidak akan mampu untuk menyakitinya. Tapi walaupun begitu, Arsiel harus tetap memerankan 'karakter figuran' yang sempurna.


Alice memandu Arsiel menuju rooftop. Mereka menaiki beberapa tangga dan beberapa lantai tanpa percakapan sedikitpun. Sesampainya di sana, Arsiel mendapati beberapa gadis dari kelas lain yang tengah berkumpul. Arsiel tahu kalau Alice yang sudah merencanakan ini. Tapi Arsiel harus tetap berperan sebagai karakter figuran yang polos. Harus tetap seperti itu.


"Alice parah banget kamu! Beneran dibawa ke sini, dong tuh bocah!" Salah satu gadis yang sedang mengisap rokok tertawa kencang.


"Aduuuh! Kamu liat deh muka kucel dia. Tutututuu!! Jangan takut ya, sayang. Kita ga bakal ngapa-ngapain kok!" Gadis yang lain mendekati Arsiel sembari mengusap kepalanya.


Situasi seperti ini sudah tidak asing lagi. Arsiel tidak merasakan apapun sekarang. Dia hanya memasang wajah datar tanpa ekspresi. Arsiel menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya dibalik rambut.


Tiba-tiba tubuh Arsiel terdorong beberapa langkah. Ada sedikit rasa sakit diperutnya yang membuat dia sadar kalau sedang ada yang menyerangnya. Saat Arsiel mendongakkan kepala, dia mendapati satu kaki yang terangkat berada di depannya. Gadis yang melayangkan tendangan padanya adalah gadis yang masuk ke daftar 'Important' dalam misinya kali ini.


Walaupun tendangan tadi tidak terasa begitu sakit , tapi Arsiel harus memperlihatkan wajah kesakitan di depan mereka. Gadis itu adalah salah satu orang yang harus dia awasi karena ada kemungkinan bahaya yang akan ditimbulkan darinya.


Bahaya yang ditakutkan bukan berasal dari gadis itu, tapi seseorang yang mendukungnya dari belakang. Menurut informasi yang diberikan oleh organisasi, orang yang berada dibalik bayangannya itu adalah salah satu anggota eksekutif di Haegu. Arsiel tidak boleh bertindak sembarangan di hadapan gadis ini atau dia benar-benar akan dalam masalah besar.


"Hei, itu keterlaluan!" Gadis yang tadi mengusap kepala Arsiel mendengus kesal. Dia kadang tidak tahan melihat temannya yang selalu bermain kasar. Meski mereka adalah sekumpulan gadis perundung, tapi hanya satu orang saja yang selalu bertindak diluar batas.


"Emangnya kenapa kalo aku keterlaluan? kamu mau ngelapor, huh?" Gadis itu, Gerryn Chaytton, mencengkeram kerah baju temannya sendiri. Gadis dengan wajah ketakutan itu sontak menggelengkan kepalanya, takut akan mendapatkan kesialan jika dia melawan.


"Pinter, pinter!" Gerryn menepuk-nepuk pelan kepala gadis itu, lalu mengalihkan pandangannya pada tubuh Arsiel yang memasang wajah dengan ekspresi kesakitan.


"Sorry, kamu sakit? Ditendang gitu aja udah meringis kaya bocil! Makanya olahraga, dong! Jangan cuma tau nampangin muka polosmu buat deketin cowok inceran aku!" Gerryn berjalan mendekati Arsiel, menarik dagunya sampai mata mereka saling bersitatap.


"Gerryn, kamu udah gila?"


Entah dari mana datangnya, tiba-tiba seorang siswa dengan tinggi semampai datang menghampiri. Tangannya datang untuk menengahi dan memperluas jarak diantara dua gadis itu.


"Apaan, sih! Kamu rese banget gangguin aku terus!" Gerryn mendengus kesal. Tangannya mulai mengepal, bersiap melayangkan tinju kapan saja dia menginginkan itu. Tapi sayangnya, siswa yang menjadi lawan bicara Gerryn sama sekali tidak menggubris ucapan gadis itu. Dia justru langsung beralih pada Arsiel yang masih bersimpuh sambil menjulurkan tangan berniat membantunya.


"Kamu gapapa?"