
"Apa kamu tahu siapa saya?" Pria paruh baya itu bertanya, menatap lurus ke dalam mata Harwich. Gadis itu menelan ludah ketika menerima pertanyaan yang sama sekali tidak terkonsep sebelumnya.
Tentu saja Harwich mengetahui identitas pria di depannya. Dia adalah target utama organisasi saat ini. Meski tidak banyak informasi yang bisa didapat, namun Harwich sangat yakin bahwa pria itu adalah orang yang sama. Cavasandra Chaytton, seorang eksekutif di organisasi Chjornaya. Melihat nama belakangnya saja sudah sangat jelas bahwa pria itu adalah ayah kandung Gerryn.
Harwich sedang memutar otak, menimbang antara harus memilih mengatakan 'ya' atau 'tidak' sebagai jawaban. Lalu pilihan Harwich jatuh pada menggelengkan kepalanya pelan, sambil memberikan sedikit hormat dengan menekuk leher.
Seharusnya sebagai anggota yang baru saja menapaki kaki di markas tidak akan terlalu tahu mengenai para petinggi. Namun pria di sampingnya malah langsung mengenali Cavasandra sebagai seorang petinggi. Hal itu dapat terlihat dari caranya berbicara yang terdengar sangat sopan.
Cavasandra mengerutkan kening saat menyadari kejanggalan tersebut, dengan cepat tangannya menekan alat komunikasi berukuran kecil yang terpasang di telinganya.
"Saya menunggu di pintu depan. Cepatlah ke sini atau saya patahkan kakimu!" Cavasandra menaikkan suara agar lawan bicara yang berada di seberang alat itu dapat mendengar dengan jelas.
Suara lantang Cavasandra berhasil membuat seluruh perhatian agen yang berada di dalam menoleh ke luar ruangan, menatap keadaan diluar dengan penuh tanda tanya. Kejadian tersebut membuat beberapa agen yang masih berada di luar menghela napas berat. Mereka berharap kegaduhan itu tidak akan menjadi hambatan atau hal yang lebih besar nantinya.
Tidak berselang lama setelah kalimat ancaman itu terucap, dari kejauhan terlihat seorang pria yang sedang berlari menuju pintu depan. Tampangnya lebih muda dan postur tubuhnya lebih kecil di bandingkan Cavasandra. Setelah tiba tepat di sampingnya pria itu langsung menarik napas panjang.
"Apa yang kamu inginkan kali ini?" Pria itu menatap kesal ke arah Cavasandra.
"Siapa yang mengizinkanmu menerima seorang wanita, Lucas?!" Cavasandra menolehkan pandangan pada orang yang berhadapan dengannya saat ini.
"Heii Cava, tidak bisakah kamu berbicara dengan intonasi rendah? Saya adalah rekanmu!" Lucas berdecak kesal menanggapi pertanyaan dari Cava.
"Cukup jawab pertanyaan saya!"
"Akan saya jawab nanti setelah kamu menyelesaikan pekerjaanmu." Jawab Lucas dengan ketus, berhasil membuat Cavasandra kesal padanya. Tetapi pria paruh baya itu memilih diam tidak ingin membuat keributan lebih lanjut.
Cavasandra membalikkan badan membiarkan Lucas untuk menyelesaikan urusannya. Dia hanya mampu menunggu sembari menebak-nebak pemikiran pria yang lebih muda darinya.
Sedangkan dilain sisi Lucas sedang menatap punggung Cavasandra hingga menghilang di balik dinding. Setelah memastikan siluet Cavasandra menghilang sepenuhnya, tatapan itu beralih menyapu setiap calon agen hingga pandangannya berhenti pada dua orang perempuan yang berdiri agak berjauhan.
"Saya tidak akan memperlakukan kalian dengan cara yang berbeda. Persiapkan mental kalian untuk kedepannya." Setelah selesai menyampaikan kalimat tersebut. Lucas kembali mengedarkan pandangan mencari petugas yang tersebar di sana.
"Lanjutkan tugas kalian." Lucas berintruksi singkat lalu langsung melangkahkan kakinya meninggalkan tempat.
Seorang pria yang dipanggil Lucas tadi seperti memang sudah menerima beberapa perempuan untuk bergabung ke dalam organisasi. Dia salah mengira Harwich dan rekannya merupakan salah satu dari mereka.
'Aku harus bersyukur dengan kebetulan yang sangat membantu.' Harwich bergumam dalam hati, lalu berjalan memasuki markas setelah siluet Lucas benar-benar raib dari pandangannya.
Setelah melewati pintu masuk, Harwich dikejutkan oleh kerumunan orang yang membanjiri ruangan seluas seratus meter itu. Harwich harus bergegas pergi ke ruang ganti seperti yang sudah diinstruksikan dan segera mengganti pakaiannya dengan seragam para agen kelas menengah ke atas.
Untuk itu dia juga harus mengubah penampilannya menjadi seorang lelaki karena dia baru saja mengetahui bahwa organisasi ini awalnya hanya menerima seorang lelaki.
Hal itu terbukti ketika Cavasandra yang tiba-tiba marah dan meminta penjelasan mengenai keberadaan seorang perempuan di dalam markas. Jika seorang perempuan baru saja diterima akhir-akhir ini, maka tidak mungkin ada agen kelas menengah ke atas yang diisi oleh seorang perempuan.
Harwich terus menerobos kerumunan menuju tangga yang terletak di pojok ruangan dengan bentuk melingkar tanpa ada pegangan tangan di salah satu sisinya. Sebuah tangga yang mengelilingi tiang di tengahnya.
Tanpa pikir panjang, Harwich langsung menaiki tangga itu bersama rekan perempuannya. Beberapa agen yang melihat mereka sempat berteriak dan menyuruh mereka untuk kembali, namun Harwich dan rekannya tidak menggubris itu dan terus berjalan menaiki anak tangga menuju lantai berikutnya.
Rekan yang bersamanya memiliki codename sebagai 'Hell Flower' dan biasanya kebanyakan agen akan memanggilnya dengan sebutan 'Helwer'. Dia berasal dari kelompok Flowen yang juga merupakan sebuah singkatan dari 'Flower Garden'. Meski begitu, hanya Helwer yang memiliki codename berbeda. Hell flower bukanlah bunga yang tumbuh atau ditanam di sebuah taman.
"Sedikit lagi. Perhatikan disekitar dan hindari kamera pengawas. Kita harus ekstra berhati-hati. Jika tertangkap, maka itu adalah akhir untuk kita." Helwer berbisik pelan. Pandangannya menyapu setiap sudut ruangan, memastikan tidak ada kamera yang berhasil menangkap siluet mereka.
Harwich hanya mengangguk sebagai jawaban. Dia juga mengedarkan pandangannya menyapu ruangan dengan hati-hati dan teliti. Mereka berjalan dengan tempo yang lambat karena harus memerhatikan kamera-kamera tersembunyi yang mungkin terpasang di sana. Untungnya ruang ganti yang mereka tuju tidak terlalu jauh, sehingga mereka lebih menghemat waktu.
Setelah beberapa menit yang melelahkan dan menegangkan, mereka berhasil sampai di depan pintu ruangan. Harwich langsung menekan gagang pintu, mendorong pintu itu hingga terbuka lebar dan menampakkan isi ruangan yang dipenuhi oleh lemari besi.
Mereka bergegas masuk dan kembali menutup pintu. Untungnya, ruang ganti adalah satu-satunya ruangan yang seratus persen aman dari radar kamera. Tidak ada satupun kamera yang terpasang dalam ruangan ini.
Dengan cepat mereka berpencar, mencari setelan yang pas dengan ukuran tubuh mereka. Sebelum memakai setelan kostum itu, mereka tidak lupa untuk mengubah pengaturan pada alat pengubah suara menjadi suara seorang lelaki. Setelah itu mengganti topeng kulit mereka menjadi topeng kulit wajah lelaki dan memakai korset payudara untuk menekan kedua benjolan di dada agar terlihat semirip mungkin seperti lelaki pada umumnya.
Persiapan itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Tepat setelah mereka selesai dengan sempurna, seseorang mendorong pintu dari luar. Beberapa agen lelaki masuk untuk mengganti pakaian mereka.
"Tunggu, siapa kalian? Aku tidak ingat ada agen yang sependek ini."