I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Menginap di Hotel



Suasana hening dalam ruangan mewah menggantung, membuat dua penghuni ruangan ini merasa sedikit canggung. Arland hendak mengantar Arsiel ke asrama beberapa jam lalu, namun gadis itu menolak mentah-mentah.


Arland juga tidak bisa membawa seorang gadis pulang ke rumah karena orang tuanya pasti akan marah dan curiga. Satu-satunya pilihan hanya menginap di sebuah hotel untuk semalam saja. Arland yang membayar semua biayanya dan membiarkan Arsiel beristirahat di kamar VIP.


Arland selalu membawa kartu rekening kemanapun dia pergi. Sebenarnya Arland ingin membawa gadis itu menaiki salah satu dari puluhan mobil yang berjejer rapi di bagasinya, namun Arsiel juga yang menolak itu. Gadis itu tidak ingin terlihat mencolok di depan orang tuanya. Itulah alasan kenapa Arland menyewa motor pada orang lain. Dia tidak membelinya karena tidak terlalu suka bepergian dengan motor.


"Andai saja aku tahu bahwa orang tuamu ingin menjodohkanmu karena uang, aku pasti akan mengantarmu menggunakan mobil termewah yang pernah Daddy belikan padaku. Siapa tahu target orang tuamu akan beralih dan malah menjodohkanmu denganku." Arland terkekeh pelan di akhir kalimat.


Saat ini ruangan yang dilengkapi dengan dua kasur itu sedang tidak dihuni oleh orang lain selain Arland. Arsiel masih berada di kamar mandi sejak satu jam lalu. Arland khawatir gadis itu akan sakit jika terlalu lama berendam di air, tapi dia tidak bisa menerobos masuk kamar mandi begitu saja.


Arland menghela napas berat, berjalan mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya dengan pelan.


"Cepatlah keluar sebelum kesabaranku habis dan menyusulmu ke dalam. Aku mempunyai kunci cadangan kamar mandi di tanganku." Arland sedikit meninggikan suara dengan nada yang sedikit mengancam.


Arland tidak mempunyai niat jahat sama sekali. Dia hanya khawatir gadis itu pingsan di dalam kamar mandi atau sesuatu yang lebih buruk dari itu. Tidak ada seorangpun yang akan betah berada di kamar mandi selama lebih dari satu jam tanpa menimbulkan suara apapun.


"Jika berani kamu masuk ke dalam sini tanpa izin dariku, akan di pastikan kamu tidak bisa melihat terbitnya matahari besok pagi!" Arsiel balas berteriak dari dalam kamar mandi.


Dapat Arsiel rasakan wajahnya saat ini sedang merah padam. Arland yang dia kenal tidak pernah berpikiran cabul seperti itu, lantas siapa yang berada di luar pintu kamar mandi? Dengan segera Arsiel bangkit dari dalam bathtub. Dia mengeringkan tubuhnya lalu langsung memakai kemeja tidur yang sempat mereka beli sebelum tiba di hotel.


Setelah selesai memakai setelan kemeja itu, Arsiel sejenak merapikan penampilannya di depan cermin full body. Arsiel merutuki kebodohan Arland yang memilih kemeja dengan motif beruang madu untuknya, dia merasa setelan baju itu tidak cocok dikenakan olehnya.


Lamanya berkutat di depan cermin akhirnya Arsiel memutuskan untuk keluar dari kamar mandi. Tepat di samping pintu kamar mandi sudut matanya menangkap batang tubuh Arland yang sedang bersandar pada dinding. Arsiel melayangkan tatapan tajam ke arahnya membuat Arland tanpa sadar menggaruk tengkuk yang tidak terasa gatal.


"Aku akan pergi mandi dulu." Arland langsung melangkah masuk kedalam kamar mandi untuk menghindari Arsiel.


*****


Kesunyian memeluk seisi ruangan. Terlihat jelas saat ini Arsiel sedang kesal dengan Arland. Gadis itu sedari tadi mengabaikan lelaki yang berada tepat di sebelahnya sedangkan Arland tanpa henti terus berusaha membujuknya.


"Arsiel, aku minta maaf soal itu. Aku tidak bermaksud apapun, murni hanya karena merasa khawatir padamu. Apa kamu tidak sadar telah tinggal berapa lama di dalam sana?" Arland berkata pelan mencoba meyakinkan Arsiel dengan perkataannya.


Arsiel menghela napas lelah, dia mengaku kalah. Arsiel tidak bisa mendiamkan Arland lebih lama lagi. Lelaki itu tidak mengenal kata menyerah.


"Tetapi tindakanmu itu sungguh keterlaluan. Kamu bisa bertanya padaku tanpa harus menyertakan kalimat ancaman seperti itu."


"Maafkan aku."


"Sudahlah lupakan, itu bukan masalah besar. Yang lebih penting sekarang apa kamu tidak ingin tidur? Besok bukan hari libur jika kamu lupa."


"Aku terbiasa tidur larut malam."


"Kalau begitu aku akan menemanimu malam ini. Aku tidak masalah menjadi teman bicara jika kamu ingin menceritakan sesuatu." Kalimat Arland diakhiri dengan senyuman hangat.


"Baiklah terserah padamu. Intinya kamu harus pulang jauh sebelum jam sekolah dimulai." Arsiel menghempaskan tubuhnya pada kasur dan bantal yang empuk.


"Aku? Lalu kamu akan pergi kemana?"


"Kemana lagi? Tentu saja aku akan kembali ke markas. Padahal aku sudah meminta izin untuk setidaknya tiga hari ke depan." Arsiel menghela napas panjang, menarik selimut tebal hingga pangkal lehernya.


"Kalau begitu aku akan absen sekolah selama tiga hari!" Arland berseru antusias. Dapat dilihat air muka yang berseri di wajahnya.


"Haaah?!" Arsiel tercengang, sontak terduduk dari posisi tidurnya.


"Tidak, tidak! Kamu harus masuk sekolah. Aku tidak mau menerima alasan apapun." Arsiel menggelengkan kepala merasa tidak setuju. Raut wajah Arland berubah seketika mendengar perkataan Arsiel. Padahal dia berencana untuk menghabiskan waktu lebih lama dengan gadis itu.


"Tidak bisa, ya?" Arland menghela napas pasrah. Dia tidak bisa lagi membantah jika Arsiel sudah memasang rupa wajah seriusnya.


"Jika sudah mengerti, maka cepatlah berbaring dan pejamkan mata. Aku tidak ingin mendengar percakapan apapun setelah ini." Arsiel kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut dengan gerakan yang sedikit kasar.


Arland hanya bisa tersenyum paksa melihat itu. Dia segera melakukan hal yang sama, merebahkan tubuh dan menarik selimut. Arland mengambil remote yang berada di atas nakas, menekan tombol 'off' untuk memadamkan cahaya yang berpendar dalam ruangan.


Kini penerangan mereka hanyalah sebatas satu lampu tidur. Arsiel baru menyadari bahwa tempat itu sedikit menyeramkan tanpa cahaya.


"Semoga tidurmu lelap, Nona West. Selamat malam." Arland berbisik, namun bisikannya dapat terdengar hingga telinga Arsiel karena kesunyian yang mengisi ruangan.


Arsiel sedikit terperanjat dari tidurnya. Baru kali ini gadis itu mendengar Arland memanggil dengan nama aslinya, selain ketika berada di ruang tamu waktu itu. Arsiel sedikit melukiskan senyum tipis di wajahnya.


"Jangan banyak omong kosong dan cepatlah tidur!" Arsiel mendengus kesal.


"Bukankah kamu sendiri yang mengatakan 'tidak ingin mendengar percakapan apapun'? Lalu kenapa kamu mulai membuka percakapan?" Arland bertanya dengan nada usil, mencoba untuk sedikit menggoda Arsiel.


"Tutup mulutmu! Jangan sampai aku kesana dan menghajar wajahmu habis-habisan!"


"Dengan senang hati! Aku akan bersedia menerimanya."