I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Mengungkap Misi



"Saya Marchel Volgy. Salam kenal." Marchel melukis senyum di wajahnya untuk memikat target. Detik itu juga Arsiel menepuk dahinya pelan, dia tidak habis pikir dengan tingkah ajaib Marchel.


"S-Salam kenal juga." Gerryn sedikit menjauhkan wajahnya karena merasa terlalu dekat. Jantungnya semakin berdegub kencang hingga wajahnya sedikit memerah tanpa dia sadari.


"Senior, aku ingin membeli sesuatu terlebih dahulu." Arland yang mengerti situasi langsung menggandeng tangan Arsiel dan membawanya keluar dari ruang OSIS.


Arland tahu bahwa Arsiel tidak dapat pergi begitu saja karena ada Gerryn di sana. Gadis itu harus tetap mempertahankan peran sebagai karakter figuran yang sempurna.


"Baiklah, jangan lupa bawakan saya beberapa camilan dan minuman ringan."


Setelah itu Arland dan Arsiel dengan sempuna lenyap dari pandangan Marchel dan hanya menyisakan mereka berdua di ruangan itu.


"Tidak mau mampir sebentar? Masih tersisa satu kantong teh instan. Saya akan membuatkan teh hangat." Marchel perlahan meraih tangan Gerryn, membuat gadis itu tidak bisa berkutik.


Marchel menempatkan Gerryn untuk duduk di salah satu kursi yang tersedia, lalu pergi menyiapkan teh hangat seperti yang sudah dijanjikan olehnya.


"Minumlah." Marchel meletakkan secangkir teh yang lumayan hangat itu pada telapak tangan Gerryn. Gadis itu hanya bisa menerima tanpa mampu merespon.


Ketika Marchel masih sibuk dengan urusannya, disaat yang sama, Arland dan Arsiel masih bergandengan tangan. Arland terkesan seperti sedang menarik Arsiel dan membawa gadis itu bersamanya. padahal Arland hanya memegang pergelangan tangan itu tanpa menariknya sama sekali.


"Kita harus kemana?" Arland bertanya dengan nada yang pelan, hampir seperti sedang berbisik. Arsiel diam sejenak, memikirkan tempat yang sekiranya tidak terlalu mencolok.


"Ke perpustakaan. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu tanpa sepengetahuan lelaki dengan akal bulus itu." Arsiel ikut berbisik. Matanya tetap menatap lorong koridor seperti biasanya.


Mereka melewati beberapa kelas dan beberapa ruang ekstrakulikuler untuk bisa sampai di perpustakaan. Arland langsung mengedarkan pandangannya, mencari tempat yang paling sepi.


"Ikuti aku!" Arland melepas genggaman tangannya, meminta Arsiel untuk mengekor.


Mereka memilih beberapa buku lalu duduk di kursi dan meja yang terlihat usang di pojok ruangan. Mereka tidak beniat membaca, buku itu hanya sebagi kedok saja.


"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"


"Mengenai Gerryn. Apa kamu tidak merasa penasaran mengapa dia menjadi target kami?"


Perkataan Arsiel mampu membuat Arland memutar ingatannya kembali pada suasana malam yang menakutkan, dimana saat itu dia berada di tempat yang amat mengerikan. Bangunan setengah jadi dengan tiga lantai dan hanya berdiri pilar untuk menahan lantai diatasnya. Ingatannya dengan jelas menangkap bayangan tulang belulang di dalam jeruji besi dan hal itu berhasil membuat Arland bergedik ngeri.


Arland kembali mengingat inti pembicaraannya dengan Marchel dan detik itu juga matanya melebar seolah mengingat hal penting yang sempat dia lupakan. Arland berdeham pelan mencoba menghilangkan rasa takutnya.


"Lucu sekali, kenapa kamu masih menanyakannya? Sifatnya itu cerminan dari seorang pria biadab mengingat dia adalah anak kandungnya. Gerryn telah ikut andil di dalam kasus yang bersangkutan dengan organisasi gelap. Meskipun Gerryn berstatus pelajar, dia adalah seorang gadis yang sangat kejam!"


"Jadi Gerryn sama sepertimu? Pekerjaan macam apa yang dia lakukan?"


"Tidak!! jangan samakan aku dengannya! Aku tidak sebrengsek dirinya. Bicara soal pekerjaan, dia tidak di pekerjakan."


"Tidak di pekerjakan?"


"Gerryn hanya membantu orang tuanya."


"Membantu? Maksudmu..."


"Yah kamu benar. Aku yakin kamu sudah mendengarkan rekaman kejahatan Gerryn dari Marchel. Orang tuanya memiliki pekejaan yang illegal, maksudku pekerjaannya membahayakan banyak jiwa." Arsiel diam sejenak. Tangannya membalik lembaran buku tebal yang sedang dia pegang.


"Misiku mencari kelemahan si tua bangka. Dengan adanya Gerryn membuat tugasku menjadi lebih mudah. Tapi ternyata dugaanku salah. Misi ini menjadi lebih rumit, apalagi dengan kedatangan Marchel yang tidak pernah aku prediksi. Aku tidak bisa gegabah mengambil langkah. Jika sampai terjadi kesalahan, maka perang besar akan menanti."


"Siapa pria tua itu? perang dengan siapa?"


"Orang tua Gerryn adalah seorang anggota eksekutif di organisasi Chjornaya. Pria itu sangat menyayangi Gerryn yang merupakan anak semata wayangnya."


"Aku masih tidak mengerti..." Arland menggaruk leher belakangnya. Kening Arland mengerut karena berusaha mencerna kalimat Arsiel yang sulit dipahami.


"Intinya jika identitas kami sampai terbongkar pada tua bangka itu, maka organisasi Chjornaya akan bergerak dan memantau sekolah ini dari dekat. Aku tidak masalah jika terget mereka hanya kami, tapi murid lain yang tidak bersalah juga bisa berada dalam bahaya." Arsiel menghela napas berat, menutup buku tebal hardcover itu dengan kasar.


"Setidaknya aku sudah mengerti secara garis besar. Tapi ada satu pertanyaan yang masih mengusikku."


"Katakan saja."


"Bagaimana Gerryn bisa melakukan, maksudku membantu pekerjaan orang tuanya tanpa merasa bersalah sedikitpun? Itu bukan merupakan pekerjaan yang sederhana." Arland menggelengkan kepala, merasa berat hati bahwa orang yang sudah lama dikenalnya ternyata terlibat dalam hal yang tidak terduga.


"Mengenai itu kamu akan tahu jawabannya seiring waktu berjalan. untuk sekarang hanya sebatas itu yang bisa aku katakan." Arsiel memejaman mata, kemudian menoleh dan menatap wajah Arland dengan serius.


"Berhentilah berurusan dengan kami ketika situasi sudah berada di luar kendali. Kamu bukan bagian dari kami, jadi jangan libatkan dirimu terlalu dalam."


"AAARRGGHHH! DASAR SIALAN!!!!"