
Suasana malam terasa sedikit sunyi dari biasanya. Arland memacu motornya menuju suatu tempat, membawa Arsiel untuk menenangkan diri sejenak. Ada banyak sekali pertanyaan yang menghantui Arland, namun dia memilih untuk diam.
Arland tahu bahwa Arsiel tidak sedang dalam keadaan siap untuk segala pertanyaan. Sekuat dan setangguh apapun gadis yang memeluknya saat ini pasti juga memiliki sisi lemah dan membutuhkan tempat untuk bersandar.
"Aku tidak bisa mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Aku juga tidak bisa mengatakan bahwa aku bisa mengerti perasaanmu, karena aku bukan kamu dan aku tidak mengalami seperti yang kamu alami. Aku tidak berada dalam posisimu." Arland membuka suara di tengah isak tangis Arsiel yang tertahan.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi dan aku tidak bisa menyuruhmu untuk terus bertahan." Arland diam sejenak, membuat keheningan menggantung di suasana untuk beberapa saat.
Hembusan angin kencang meredam suara tangis Arsiel yang semakin melemah. Entah apa yang sedang dipikirkan gadis itu saat ini.
"Aku hanya bisa mengatakan satu hal. Aku masih ada di sini. Lampiaskan semua amarahmu, semua rasa tidak nyaman dihatimu, lampiaskan semuanya padaku. Selama itu bisa membuatmu lebih baik, aku siap menerimanya." Arland menghela napas. Pikirannya sedang kacau memikiran banyak hal. Apalagi melihat yang terjadi di ruang tamu beberapa menit yang lalu.
Arsiel sedikit tersentak mendengar itu, namun dia terlalu letih untuk merespon. Gadis itu hanya bisa menenggelamkan kepalanya pada jaket tebal Arland sambil semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh lelaki itu.
Tidak ada percakapan lagi setelahnya. Mereka menunggangi motor membelah angin malam di atas bukit. Arland membawa Arsiel pada tempat yang dulunya menjadi zona pelarian Arland ketika masalah sedang melanda.
Mereka tiba di atas bukit dengan angin sejuk. Arsiel sedikit kebingungan, namun dia tidak bertanya dan langsung turun dari motor disusul oleh Arland. Dari ketinggian ini Arsiel bisa melihat pemandangan kota yang nampak luar biasa.
Lampu malam yang menghiasi setiap sudut kota dengan berbagai warna, juga beberapa taman hiburan yang dipenuhi gemerlap lampu kerlap-kerlip mampu membuat perasaan Arsiel menjadi sedikit lebih ringan.
"Apa kamu menyukai tempat ini?" Arland mengusap pelan rambut Arsiel sambil ikut memandang keindahan dari atas sana. Arsiel mengangguk pelan. Gadis itu mulai melukiskan senyum tulus di wajahnya.
"Terimakasih, Arland. Maaf sudah membawamu pada masalah pribadiku."
"Apa maksudmu? Kita adalah rekan sekaligus teman. Sudah sepatutnya aku melakukan itu." Arland mendesah pelan. Dia baru menyadari bahwa seorang Arsiel juga bisa tersenyum semanis itu.
Hembusan angin membuat rambut mereka bergerak mengikuti arahnya. Arsiel memejamkan mata menikmati sensasi yang sangat menenangkan. Berbeda dengan Arland, dia lebih memilih untuk menatap wajah gadis cantik di sampingnya.
Setelah puas memandang wajah milik gadis itu, dengan kesadaran yang masih terkumpul tangannya bergerak meraih tangan Arsiel. Kemudian Arland berjongkok membuat Arsiel memberikan atensi penuh padanya.
"Melihatmu di perlakukan sekasar itu membuat hatiku merasa tersayat. Arsiel...untuk seterusnya aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkan sandaran. Kamu harus tahu satu hal lagi. Aku sangat menyukai senyuman yang terlukis indah di wajahmu." Arland berkata dengan suara lembutnya. Dia menjeda beberapa detik lalu melanjutkan sisa kalimatnya.
"Teruslah tersenyum, meskipun senyuman itu bukan di khususkan untukku. Setidaknya dengan senyuman itu aku dapat mengetahui kondisi hatimu." Arland tersenyum hangat setelah kalimat itu berhasil di uratakan.
Arland mendongakkan kepala terkejut melihat Arsiel yang sedang menangis tanpa suara. Sesegera mungkin Arland berdiri lalu menarik tubuh Arsiel ke dalam pelukan hangatnya. Dengan perlahan tangannya mengelus punggung Arsiel mencoba menenangkan gadis itu.
"Heii aku menyuruhmu untuk tersenyum."
Arland menyentuh dagu Arsiel lalu sedikit mendongakkannya.
"Ini salahmu, dari mana kamu belajar kalimat manis itu?"
"Semua kalimat itu sepenuhnya berasal dari perasaanku."
Arland menuntun tangan Arsiel untuk menyentuh dadanya. Detik itu juga Arsiel dapat merasakan detak jantung yang semakin kencang.
"Kamu dapat merasakannya? Jantungku terus berdetak dengan tempo lebih cepat dari biasanya. Itu semua karena dirimu, Arsiel." Arland mengecup lembut kening Arsiel, membuat gadis itu terkejut untuk yang kesekian kalinya.
"Dasar curang!"
"Maaf kalau kamu merasa seperti itu." Arland memegang dua sisi pipi Arsiel, menarik wajah gadis itu untuk memangkas jarak dintara keduanya.
Mata Arsiel membelalak, spontan dia memejamkan mata ketika melihat wajah Arland perlahan mendekat dan semakin dekat. Arland mendekatkan bibirnya pada daun telinga Arsiel, meniup daun telinga gadis itu, membuatnya sedikit menggeliat.
"Aku tahu ini mendadak dan sangat tidak tepat, tapi biarkan aku mengatakan sesuatu sebelum kamu meninggalkanku untuk waktu yang lama." Arland mengecup daun telinga Arsiel sedikit lebih lama, membuat jantung gadis itu berdegup kencang.
Arland mengangkat wajahnya, menautkan kening lebarnya dengan kening Arsiel, menatap gadis itu dengan sangat dalam. Arsiel hanya bisa menahan napas sambil menunggu kalimat yang akan diucapkan oleh lelaki di hadapannya.
"Aku mencintaimu, bahkan sejak pertemuan kita di rooftop." Arland terkekeh pelan. Lalu bibirnya mengecup pipi Arsiel, kemudian beralih mengecup bibir mungil gadis itu.
"Ar.." Kalimat Arsiel terhenti ketika jari telunjuk Arland melekat pada bibirnya.
"Jangan mengatakan apapun. Meski aku tahu kamu akan menolaknya, tapi aku tidak ingin mendengar penolakan itu langsung darimu. Rasanya akan sedikit menyakitkan. Setidaknya biarkan aku mengungkapkan perasaan tanpa harus menerima jawaban. Dan aku berharap kita tidak akan saling menjauh setelah ini." Arland hendak kembali mengecup bibir Arsiel, namun gadis itu justru lebih dulu mendaratkan bibirnya pada Arland.
"Aku...."