
Mereka kembali pada titik awal pertemuan, yaitu di persimpangan tangga pertama. Harwich terpaksa juga harus ke sana untuk menjemput mereka. Perlengkapan yang dibawa saat ini tidak ada fitur seperti GPS atau semacamnya. Karena itulah Harwich sendiri yang harus menjemput mereka di sana.
Sedikit memakan waktu untuk kembali ke tempat awal karena masing-masing dari mereka sudah berada cukup jauh dari sana. Harwich tidak berpapasan dengan satupun orang dari Andromeda dan Dandelion selama perjalanan.
Harwich terus berlari menaiki tangga demi tangga. Suara hentakan sepatunya bergema di lorong sempit yang hanya muat oleh satu tangga saja. Ketika gadis itu sudah hampir sampai, dia melihat lima orang sudah berdiri di depan sana menunggu kedatangannya.
“Ada apa memanggil kami, Agen A-09?” Dandelion menjadi yang pertama bertanya padanya mewakili agen yang lain.
“Saya sudah menemukan ruang bawah tanah.”
Jawaban dari Harwich membuat agen lain sontak terkejut sekaligus merasa bahagia. Mereka bisa menemukan tempat itu lebih cepat dari yang diperkirakan.
“Bagus sekali. Padahal saya sudah putus asa karena tidak bisa menemukan tangga yang tepat untuk menuju ke lantai tiga, tapi siapa sangka ternyata Agen A-09 dapat menemukannya.” Helwer merasa puas membuat senyum terlukis di wajahnya. Sangat kentara bahwa diantara agen yang lain, dialah yang paling senang mendengar kabar itu.
“Tidak perlu membuang waktu lagi. Saya yakin kalian akan terkejut setelah sampai di tempat itu.” Harwich menatap mereka satu persatu dengan tatapan yang sedikit menerawang, mengingat kembali pemandangan yang dia lihat di ruang bawah tanah saat beberapa menit lalu.
Harwich melangkah memimpin jalan, disusul oleh agen lain yang mengekor di belakangnya. Sebentar lagi mungkin misi mereka akan selesai dengan hasil yang memuaskan.
Tidak perlu membutuhkan waktu yang terlalu lama. Selama tujuh menit menuruni tangga mengikuti Harwich, mereka akhirnya tiba di ruang bawah tanah. Semua pasang mata membelalak, seolah tidak percaya dengan apa yang tengah ditangkap oleh penglihatan mereka.
“Ini gila! Apakah mereka masih hidup?” Dandelion bertanya keheranan. Dia menatap sekelilingnya dengan perasaan yang sedikit membuatnya bergidik ngeri. Begitupun Agen yang lain juga merasakan hal yang sama.
“Sungguh, kenapa hal itu yang anda tanyakan? Harusnya anda bertanya apakah para petinggi di organisasi ini masih bisa disebut sebagai manusia atau tidak.” tanpa sadar Helwer mengusap wajahnya kasar. Sejenak tersirat di benaknya tentang pemikiran bahwa organisasi Chjornaya harus dilenyapkan karena bisa menjadi musuh yang sangat merepotkan di masa depan.
“Kesampingkan dulu pemikiran dan pertanyaan yang tidak berguna. Untuk sekarang kita fokus menyelesaikaan misi karena itu adalah priorotas kita berada di tempat ini.”
Ucapan yang dilontarkan oleh Andromeda berhasil membuyarkan seluruh lamunan mereka. Kini seluruh agen memusatkan fokusnya untuk mencari sesuatu yang menjadi target misi kali ini.
Ruang bawah tanah yang mereka lihat dipenuhi oleh tabung-tabung berukuran raksasa. Tabung itu berisi cairan dengan setidaknya dua tubuh manusia mengambang di dalamnya dan juga dipasangkan berbagai macam alat yang ditempelkan diseluruh tubuh mereka.
Ruangan itu hanya disinari oleh cahaya lampu remang, mungkin karena sedang tidak digunakan. Cairan yang berada di dalam tabung memancarkan sinar kehijauan, sehingga pada ruangan itu sedikit berwarna hijau akibat pantulan cahaya.
Ketika Harwich sedang mencari ‘gulungan’ yang disembunyikan, gadis itu tanpa sengaja mendapati sesosok tubuh seorang pria tanpa busana. Mulut pria itu dijejali oleh setidaknya 3 selang besar, membuat mulutnya menganga lebar hingga terlihat hampir putus. Lehernya juga membesar akibat selang yang melewati tenggorokan.
Meskipun tubuh pria itu tenggelam dalam cairan sepenuhnya, namun Harwich dapat melihat ‘air mata’ yang tidak bisa ditangkap oleh mata.
“Benar-benar iblis berwujud manusia.” Harwich bergumam pelan, lalu membuyarkan lamunannya dan kembali fokus untuk mencari target. Namun kemudian perhatiannya kembali dicuri oleh tubuh yang terbaring di ranjang dengan keadaan mengenaskan. Di samping ranjang itu terdapat benda seperti nakas yang berukuran sedikit lebih besar.
Harwich menghampiri tempat itu, berjongkok tepat di depan nakas berada. Di sana ada sekitar tiga laci yang terkunci, lalu pikirannya berasumsi bahwa kemungkinan gulungan itu berada di salah satu laci ini.
Selama masa pelatihan, hal seperti itu merupakan pelajaran mendasar yang harus dikuasai oleh para calon agen. Meskipun di zaman yang serba modern pasti akan menggunakan pengunci yang lebih canggih, namun ada kalanya kemampuan seperti itu masih akan berguna dan diperlukan. Karena itulah calon agen tetap diajari hal tersebut sebagai dasarnya.
Harwich sedikit kesulitan untuk membuka kunci itu, namun dia tetap gigih berusaha sampai akhirnya bunyi klik terdengar pelan. Dengan cepat tangan Harwich menarik laci hingga memperlihatkan isi yang berada di dalamnya. Setelah menggeledah salah satu laci, Harwich tidak menemukan apapun yang sedang dicarinya.
Gadis itu kemudian beralih pada laci yang kedua dan lagi-lagi tidak ada. Laci terakhir menjadi harapannya karena agen lain juga masih belum menemukan gulungan itu. Laci terakhir menjadi yang paling sulit untuk dibuka. Dia sampai membutuhkan waktu lebih dari lima menit untuk membukanya. Sayangnya ketika laci itu terbuka dia tidak mendapatkan apapun.
Harwich merasa frustasi karena itu, namun tiba-tiba dia kembali mengecek laci kedua. Dia memerhatikan dasar laci dengan seksama, merabanya seperti sedang memastikan sesuatu.
Tangannya sedikit menekan salah satu sudut pada dasar laci, lalu sisi lain yang berlawanan menjadi sedikit terangkat. Gadis itu tersenyum penuh arti melihat ternyata masih ada tempat tambahan pada laci itu.
“Pantas saja aku merasa laci ini terlihat lebih dangkal dari laci yang lain.” Harwich mendesah pelan, mengangkat kedua alisnya sembari mengangkat papan tipis yang sebelumnya menjadi alas dasar laci itu.
Disana terdapat sebuah kertas yang tergulung dengan penampilan lusuh. Dengan cepat Harwich segera membuka gulungan untuk memastikan bahwa itu adalah target dari misinya.
Namun organisasi Chjornaya tidak pernah ceroboh. Mereka tidak akan meletakkan sesuatu yang berharga tanpa keamanan tingkat tinggi seperti di ruang tambahan dalam laci nakas atau semacamnya.
“SIALL!!” Harwich membanting kertas itu ketika mengetahui bahwa isinya bukanlah hal yang dia cari. Harwich kemudian mengalihkan pandangan pada rekannya yang lain. Sangat terlihat jelas bahwa mereka juga berusaha keras untuk mencari benda yang sama.
“Apa mungkin gulungan itu sudah dipindahkan?” Harwich menggigit bibir bawahnya. Padahal dia dan rekannya sudah sampai sejauh ini, tapi malah tidak menghasilkan apapun yang memuaskan.
“Apa kalian mendapatkan petunjuk atau apapun?” Harwich berteriak, membuat seluruh perhatian beralih padanya.
“Sayangnya saya tidak menemukan apapun.” Andromeda menjawab dengan nada yang terdengar kesal.
“Saya juga demikian.” Helwer ikut menimpali. Agen yang lain membalas dengan anggukan.
Keadaan itu membuat atmosfer semkin memadat. Jika terus seperti ini, mereka bisa tertangkap oleh agen organisasi Chjornaya bahkan sebelum mereka bisa menemukan target.
“Haruskah kita pergi ke lantai tiga? Tapi informasi yang kita dapatkan mengatakan bahwa gulungan itu berada di tempat ini, bukan? Kenapa sekarang agen yang bertugas mencari informasi jadi sangat tidak becus? Sudah ada berapa informasi yang salah sejauh ini?” Helwer mengoceh karena mulai merasa dipermainkan oleh informasi yang tidak berguna.
“Bagaimana sekarang?” Dandelion menatap rekannya secara bergantian, berharap salah satu dari mereka bisa memberikan saran atau masukan yang bijak.
“Setelah pemeriksaan yang tidak membuahkan hasil. Saya tidak yakin ini adalah ruang bawah tanah yang dimaksud. Mungkin informasi yang kita terima adalah informasi sebelum susunan bangunan ini mengalami perombakan. Bisa saja ini bukan ruang bawah tanah yang dimaksud. Pasti ruang bawah tanah saat ini terbagi menjadi beberapa bagian lagi.” Harwich menyampaikan isi pikirannya dengan lantang. Seketika itu pula semua agen mematung.
“Berengsek!”