I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Perintah Markas Utama



Setelah mobil bergaya mewah itu menghilang di balik cakrawala, perlahan semua atensi tertuju pada Arsiel. Antara merasa takut dan kagum, ada juga yang merasa iri padanya.


Arsiel menghela napas pelan. Memang tidak sepenuhnya sesuai dengan rencana, tapi hal ini masih bisa dianggap sebagai keberhasilan.


"Dengan begini setidaknya murid lain tidak akan berani menggangguku lagi, kan? Mereka sangat merepotkan. Fokusku untuk mencari informasi malah terhambat karena hama sialan. Sekarang aku mengerti kenapa 03 tidak mendapatkan informasi apapun selama dua tahun berada di tempat ini." Arsiel bergumam pelan, hampir seperti sedang berbisik.


Arland dengan cekatan berjalan menghampiri Arsiel, menarik paksa pergelangan tangan gadis itu untuk mengikuti langkahnya. Arsiel tidak tahu kenapa Arland melakukan itu, tapi dia tidak dapat menolak Arland di hadapan banyak mata yang sedang memerhatikannya. Marchel yang melihat itu bergegas mengekor pada mereka.


Arland membawa gadis itu ke ruang OSIS yang memang sudah menjadi markas mereka selama berada di sekolah. Setelah pintu ruang OSIS tertutup dengan sempurna, Arsiel menepis genggaman tangan Arland dengan kasar.


"Ada apa? Kenapa kamu menarik aku seperti itu?"


"Apa kamu tidak sadar ponselmu terjatuh?" Arland mendengus, tangannya menyerahkan sebuah smartphone yang sangat akrab di mata Arsiel.


"Maaf, dan terima kasih." Arsiel mengambil smartphone itu dari tangan Arland.


"Tidak mau mengecek pesan yang diterima?"


"Apa?! Ada pesan yang diterima?"


"Ya! Jika dilihat dari isi pesannya, seharusnya Marchel juga menerima hal yang sama."


Mendengar perkataan Arland sontak mebuat Arsiel dan Marchel terkejut. Mereka langsung mengecek pesan yang diterima seperti yang dikatakan oleh Arland.


[Ditujukan pada Agen A-09]


[Anda dipromosikan menjadi Agen Gold Card dan akan menjalankan misi bersama Agen A-03 dengan beberapa agen numbers dari fraksi kedua.]


[Dengan ini, Black Card menarik Agen A-09 dari misi saat ini.]


[Perintah untuk segera kembali ke markas utama.]


Arsiel merasa kebingungan setelah membaca pesan yang tertera di sana. Di sisi lain Marchel tersenyum miris menatap layar smartphonenya. Bagaimana bisa Arsiel di promosikan secepat itu? Bahkan misinya kali ini masih jauh dari kata selesai. Arsiel menatap Marchel meminta penjelasan. Namun, Marchel menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanda bahwa dia tidak mengetahui jawabannya.


"Apa kalian akan meninggalkan sekolah begitu saja?" Arland bertanya dengan ekspresi datarnya. Suara yang keluar dari mulut Arland berhasil menghilangkan kesunyian. Secara serentak keduanya mengalihkan pandangan pada Arland.


"Tentu. Ini pesan dari ketua utama, kami tidak bisa menundanya."


"Sekarang juga?"


"Jika dia mengirimkan pesan hari ini, maka kami harus segera angkat kaki sebelum malam tiba."


"Arland bisakah kamu menjaga rahasia ini untukku? saat ini hanya kamu yang mengetahui identitas kami." Arsiel menatap Arland dengan sorot mata serius.


Arland mengangguk menyetujui permintaan Arsiel. Sebenarnya Arland ingin mencegah Arsiel agar tidak meninggalkan sekolah, namun dia sadar gadis itu tidak akan mengikuti keinginannya.


Di perjalanan menuju kelas Arsiel sejenak ingin melupakan segala pertanyaan yang hinggap di benaknya. Namun jika di pikirkan lagi, sandiwara yang telah dia rencanakan hanya membuang waktu dan tenaga menjadi hal yang sia-sia.


"Berhentilah berpikir sialan! Harusnya aku merasa senang saat ini. Tapi mengapa? Apa yang telah terjadi hingga mampu membuatnya berubah pikiran?" Arsiel terus bergumam di setiap langkahnya.


Secara tiba-tiba benda persegi di saku roknya bergetar, pertanda adanya panggilan masuk. Dengan segera tangannya meraih smartphone lalu mengecek nama yang tertera di layar.


"Apa yang dia inginkan kali ini?" Arsiel berdecak kesal. Jarinya menggeser lingkaran hijau untuk menerima panggilan.


["Bagaimana kabarmu?"]


Terdengar suara seorang lelaki dewasa dari speaker smartphone milik Arsiel.


"Aku baik, Ayah. Ada apa menghubungiku?" Arsiel bertanya dengan nada yang ketus.


["Kamu tetap sama sampai sekarang. Bersikaplah sopan, aku adalah ayahmu!"]


"Bukan begitu, Ayah. Saat ini aku sedang menuju kelas untuk mengikuti pelajaran, jika ayah tidak mengatakan intinya aku akan terlambat mengikuti kelas." 


["Berkunjunglah nanti malam. Ada yang ingin aku sampaikan padamu."]


Kalimat singkat itu mampu membuat Arsiel terdiam sejenak. Rahangnya mengeras ketika mengingat keadaan rumah yang seolah menolak kehadirannya.  


"....Tidak bisakah kita membahasnya melalui telepon?" Arsiel menggigit bibir bawah, berusaha mengontrol nada bicaranya.


["Tidak bisa. Jangan mencari alasan, aku menunggu kedatanganmu nanti malam."] Sambungan telepon terputus setelah kalimat itu berhasil terucap. 


Arsiel menggenggam smartphonenya erat melampiaskan rasa kesalnya. Beraninya pria tua itu mengatainya tidak sopan, apakah dia tidak sadar dirinya sangat egois. Arsiel berdecak kesal lalu langsung berlari menuju kelasnya.


Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Arsiel bergegas pulang ke tempatnya. Selama ini dia berbohong pada orang tuanya mengenai dirinya yang tinggal di asrama. Sebenarnya dia tinggal di tempat yang sudah disediakan oleh markas.


"Arsiel tunggu!" Suara yang tidak asing mencegat Arsiel di bibir gerbang sekolah. Arsiel membalik badan, pandangannya menangkap pemilik suara itu yang tidak lain adalah Arland.


"Ada apa?" Arsiel melontarkan pertanyaan yang membuat Arland harus menarik napas dalam.


"Jika kamu kembali ke markas, lalu bagaimana dengan sekolah?"


"Sekolah? Markas yang akan mengurusnya. Aku tidak mengursi hal seperti itu." Arsiel menggeleng pelan.


"Jadi, berapa lama kamu tidak akan kembali ke sekolah?"


"Entahlah. Tapi aku rasa tidak akan dalam waktu dekat."


"Begitukah? Lalu apa kita bisa menghabiskan waktu bersama sebelum kamu kembali ke makas?" Arland menelan ludah. Dia berhasil mengatakan kalimat yang sedari tadi tersendat di tenggorokannya.