I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Labirin Tangga



"Hal yang paling masuk akal adalah pernyataan bahwa dia mungkin sedang dalam masalah. Kemungkinan terburuknya adalah dia bisa saja sudah tertangkap." Harwich menghela napas dengan berat. Memikirkan kemungkinan terburuk membuatnya menjadi semakin cemas.


'Jika itu benar terjadi, maka situasi kami akan menjadi sangat rumit.' Harwich menggigit kuku ibu jarinya, mencoba bepikir.


"Tapi saya rasa itu tidak mungkin." Helwer memecah suasana kepanikan yang menggantung diantara keeduanya.


"Kenapa anda begitu yakin?" Harwich beralih menatap perempuan di sampingnya dengan heran. Gadis itu menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Helwer dengan perasaan yang tidak sabar.


"Alat nano yang terpasang di perlengkapan kita pasti akan memberikan sinyal darurat jika mendeteksi bahaya, kan? Kita sudah diberitahu mengenai itu sebelum berangkat ke tempat ini." Helwer balas menatap Harwich, mereka saling bertukar pandang.


Harwich diam sejenak mendengar itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh Helwer barusan. Bisa saja ada sesuatu yang terjadi atau agen organisasi Chjornaya memiliki alat yang bisa menghancurkan perlengkapan komunikasi seperti itu dengan mudah.


"Baiklah, situasinya sedang tidak mendukung untuk saat ini. Bagaimana selanjutnya? Apa kita akan berharap ada pintu masuk lain?" Helwer memegangi keningnya, merasa dipusingkan oleh banyak hal.


"Tunggu dulu! Mungkin saja memang ada!!" Harwich berkata antusias. Tanpa pikir panjang, dia langsung melangkah menuruni anak tangga menuju lantai dua. Gadis itu berpikir mungkin saja pintu masuk disana adalah pengalihan. Pintu masuk lantai tiga sebenarnya tidak terletak di tempat itu melainkan berada di tempat lain.


Helwer tidak punya pilihan lain selain mengekor pada Harwich dan mengikuti langkahnya menuju tempat yang entah tidak tahu kemana. Sedangkan Harwich dengan semangat mempercepat langkah kakinya, seolah dia sudah mengetahui kemana harus pergi.


Sama seperti sebelumnya, lantai dua ini tidak terlalu banyak agen yang berseliweran. Kebanyakan pasti sedang singgah di lantai tiga dan di atasnya. Biasanya lantai bawah dan lantai dua hanya diisi oleh anggota-anggota baru. Jadi seharusnya tidak ada hal buruk yang sedang atau akan terjadi.


Diperjalanan mereka sempat berpapasan dengan salah satu rekan yang mungkin menghubungi mereka beberapa saat lalu. Ternyata dia sedang bersama dengan seorang atasan dan terlihat seperti tengah ditanyai banyak hal.


Dua gadis itu melewati mereka begitu saja. Pandangan si atasan sempat teralihkan, namun kemudian dia kembali pada aktivitas awalnya.


Harwich menghela napas lega karena tidak sampai dihentikan oleh petinggi organisasi sehingga mereka bisa menghemat lebih banyak waktu karena itu.


Mereka terus berjalan menuju ruang ganti yang tadi sempat mereka singgahi. Harwich baru ingat bahwa dia sempat melihat pintu yang terlihat seperti terbuat dari kayu di dekat pojok ruangan. Mungkin saja dibalik pintu itu bukanlah sebuah ruangan penyimpanan, melainkan tangga menuju lantai tiga. Sebuah pintu masuk yang sebenarnya.


Meski demikian, Harwich masih mengkhawatirkan banyak hal. Terutama soal keamanan di lantai tiga yang diperketat. Tidak mungkin mereka bisa masuk begitu saja meski mereka sudah menemukan jalan yang benar untuk sampai di tempat tujuan.


Ketika sampai di depan pintu ruang ganti, Harwich langsung membuka pintu itu perlahan lalu menutupnya kembali. Sekali lagi kakinya dipaksa bergerak menuju salah satu pojok ruangan.


Helwer baru menyadari adanya pintu disana. Warna pintu itu menyatu dengan dinding sehingga sedikit tersamarkan.


Tangan gadis itu langsung menarik gagang pintu, membuka dengan perlahan. Benar saja, saat ini di hadapan mereka terpampang anak tangga yang menjulang hingga ke dalam kegelapan. Tidak ada sedikitpun lampu yang menyala sehingga membuat pemandangan di depan mereka terasa sedikit menyeramkan.


"Sekarang atau tidak sama sekali." Harwich menelan ludah, mengambil langkah berani menaiki anak tangga yang diselimuti oleh kegelapan itu. Helwer kembali mengekor dari belakang.


Kali ini mereka merasa sedang sial karena tidak membawa senter atau apapun yang bisa digunakan. Ditambah lagi mereka tidak diperbolehkan membawa smartphone saat sedang menjalankan misi.


"Ini sangat mengganggu. Tidak ada apapun yang bisa dilihat." Harwich mengeluh sambil mendengus kesal. Sedari tadi kakinya hanya bisa merasakan dan meraba dari balik sepatu berat.


Mereka terus melangkah naik sampai akhirnya mereka melihat cahaya berpendar di depan sana, tepat di atas jeda sebelum tangga berikutnya. Sesampainya di bawah cahaya lampu, mereka dikejutkan oleh hal baru.


Di sana terdapat dua tangga yang menuju ke arah berlawanan. Satu tangga menuju ke atas dan satunya lagi menuju ke bawah. Tidak satupun dari Harwich atau Helwer yang bisa melihat sedalam apa tangga yang menuju ke bawah karena terlalu gelap.


Baru saja mereka berhasil memecahkan satu teka-teki, kini mereka kembali dihadapkan pada teka-teki yang lain. Harwich menggeram marah. Dia merasa sangat dipermainkan oleh struktur bangunan yang sangat rumit ini, ingin rasanya Harwich mengumpati arsitektur yang menjadi dalang terbentuknya tempat ini.


"Bagus! Sekarang apa lagi?" Helwer menarik napas dalam. Keduanya sudah merasakan muak disaat yang bersamaan. Padahal tidak banyak waktu yang diberikan untuk menjalankan misi. Apalagi mereka harus menyelesaikan lebih dari satu tugas dalam misi ini.


"Tidakkah anda berpikir bahwa tangga ini langsung menuju pada ruang bawah tanah?" Helwer menatap lamat-lamat tangga yang berada di bawahnya. Harwich ikut memerhatikan, sejenak memikirkan hal yang sama.


"Bagaimana jika mereka memang menginginkan kita berpikir demikian?" Harwich melontarkan pertanyaan lain yang bertentangan.


"Sial!" Helwer menendang dinding di sampingnya.


Ini benar-benar buntu dan akan memakan banyak waktu. Mungkin yang dimaksud dengan memperketat keamanan adalah dengan membuat labirin tangga yang menyesatkan seperti ini. Tidak ada yang menjamin bahwa persimpangan ini adalah satu-satunya. Bisa saja ada persimpangan tangga lainnya yang tengah menunggu mereka.


"Lebih baik kita berhadapan dengan para penjaga daripada mengatasi hal seperti ini." Helwer menyeka wajah, berusaha untuk tetap tenang.


"Mungkin sudah waktunya kita memanggil seluruh anggota misi. Kita bisa membagi kelompok untuk menghemat waktu." Harwich mengeluarkan sebuah remot kecil yang hanya ada satu tombol di permukaannya.


Harwich menekan tombol itu dengan ibu jari, menekannya cukup lama sampai terdengar bunyi beep panjang.


"Saya memanggil seluruh anggota untuk datang ke tangga di balik pintu yang berada di pojok ruang ganti segera."