
Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu. Mereka bertiga kembali menjalani masa sekolah seperti biasanya. Tentu saja penindasan yang dialami Arsiel juga tetap sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah terkecuali Arland yang berpura-pura membela Arsiel.
Semenjak kejadian malam itu rasa kekhawatiran Arland pada Arsiel memudar seketika. Sekarang dia mengerti bahwa satu-satunya yang harus dikhawatirkan adalah dirinya sendiri. Meski begitu, Arland tetap peduli pada gadis yang dijumpainya di rooftop waktu itu.
Lalu pada saat ini, dalam sebuah ruang kelas yang dipenuhi oleh suara berisik sebelum bel istirahat berbunyi. Arsiel tengah duduk di kursinya seperti biasa dan tatapan tidak mengenakkan juga tidak bisa lepas darinya.
Arsiel berusaha keras untuk menyembunyikan rasa bahagia karena rencana Marchel berjalan dengan sempurna. Ditambah lagi akhir dari rencana itu membawa keberuntungan padanya.
"Lihat siapa yang sedang melamun? Oh, ternyata j*l*ng kecil yang tidak tahu diri!" Satu hinaan mendarat dari salah satu mulut siswi yang sekelas dengan Arsiel. Dia hanya berdiam karena malas untuk menanggapi.
Tidak lama setelah itu, Marchel menampakkan batang tubuhnya di ambang pintu. Kehadiran yang penuh kharisma selalu memancar darinya sehingga banyak siswi yang langsung memalingkan wajah padanya.
"Charsa!" Marchel sedikit berteriak ketika memanggil Arsiel. Tanpa perlu mengatakan apapun lagi, Arsiel langsung berdiri dari tempat duduknya, berjalan mengekori Marchel.
"Sebenarnya mereka punya hubungan seperti apa?"
samar-samar Arsiel mendengar pertanyaan yang kemudian disambut oleh bebagai cemoohan.
"Tidak bisakah kamu hanya mengirimkan pesan pada saya? Kedatanganmu semakin mempersulit prosesnya." Arsiel mendengus kesal, berusaha untuk tidak terlihat seperti gadis top ketika berada di depan orang lain.
"Sebenarnya saya mempunyai satu pertanyaan sederhana."
"Katakan!"
"Bagaimana kamu bisa mengetahui pertemuan saya dengan Arland waktu itu?"
"Hanya pertanyaan itu? Mungkin saya tidak perlu menjawabnya karena kamu sudah mengetahui jawaban atas pertanyaanmu sendiri." Arsiel menjawab tanpa mengalihkan pandangannya menatap lantai koridor. Dia tidak bisa mengambil resiko dengan mendongakkan kepalanya. Bisa saja ada siswa yang melihat tatapan tajam Arsiel dan malah menjadi awas terhadap dirinya.
"Ah, apa aku sudah ketahuan?" Marchel berdeham pelan.
"Mana mungkin seorang agen khusus dari organisasi tidak akan menyadari adanya penyadap yang terpasang pada Arland." Arsiel melirik kesal ke arah Marchel. Pertanyaan itu terdengar begitu bodoh untuknya.
"Sayang sekali. Saya sudah berusaha agar terlihat senatural mungkin, rupanya tidak berhasil."
Arsiel kembali menatap lantai koridor mengabaikan ocehan Marchel yang seolah kecewa karena sandiwaranya gagal total.
Kedekatan Arsiel dan Marchel menyebabkan tatapan iri serta dengki dari para penggemar fanatiknya. Bahkan tanpa menatap secara langsung Arsiel dapat merasakannya.
Dengan penampilan yang bisa dikatakan sangat biasa dirinya berharap tidak mendapatkan perhatian lebih dari banyak orang. Namun nyatanya, kemunculan Marchel secara terang-terangan membuat Arsiel mau tak mau menjadi pusat perhatian.
Jika Marchel menggunakan ketenarannya untuk mengorek informasi maka berbanding terbalik dengan Arsiel yang lebih memilih mencari informasi secara diam-diam. Meskipun dengan cara yang berbeda keduanya sama-sama mendapatkan informasi penting dari sekitar target.
Marchel membawa tubuhnya masuk kedalam ruang OSIS yang telah di hak paten menjadi tempat berkumpulnya mereka saat istirahat tiba. Arsiel mengikutinya dari belakang tanpa merasa terkejut dengan kehadiran seseorang di dalam ruangan.
Arland menunggu kedua teman? Atau bisa dibilang rekannya itu dengan membawakan beberapa makanan ringan lengkap dengan minumannya.
Terakhir kali mereka mengadakan pertemuan secara mendadak hingga menghabiskan waktu istirahat.
Arland tidak ingin merasakan lapar saat pelajaran terakhir dilaksanakan. Sambil menunggu kedatangan mereka dengan inisiatifnya dia pergi ke kantin untuk membeli beberapa roti agar bisa mengganjal perut.
Mereka bertiga duduk saling melempar pandangan. Arsiel menatap Arland kemudian mengalihkan pandangan ke arah Marchel. Otaknya berpikir secara logis tidak mungkin seorang Arland meminta mereka untuk berkumpul di ruangan ini.
"Apa yang ingin kamu bahas?" Arsiel bertanya pada intinya tanpa mau berbasa-basi.
"Saya hanya ingin memberi peringatan padanya." Marchel menatap Arland dengan raut wajah seriusnya.
"Peringatan tentang apa?" Arland menyatukan alis merasa kebingungan.
"Keterlibatanmu tadi malam akan menimbulkan perkara suatu saat nanti. Kami tidak bisa menjagamu setiap saat, saya berharap kamu bisa melindungi diri sendiri."
"Untuk saat ini situasi masih di dalam kendali. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun untuk sekarang. Bahaya tidak akan datang jika dadu itu tetap berada di genggaman kita." Arsiel mencoba menenangkan Arland agar tidak merasa gelisah.
"Jagalah dirimu. Keselamatanmu lebih rentan dibandingkan kami."
Pintu ruang OSIS yang semula tertutup tiba-tiba saja terbuka lebar. Atensi mereka bertiga secara bersamaan beralih menatap batang tubuh seseorang di ambang pintu. Mereka bertiga mengenali dengan jelas sosok itu, dia adalah Gerryn Chaytton target Important yang selama ini Arsiel awasi.
"Apa yang kamu lakukan di tempat ini Arland? dan sejak kapan kamu mulai akrab dengan gadis culun itu?" Gerryn menunjuk tak suka ke arah Arsiel.
"Ada apa kamu mencariku?" Alih-alih menjawab, Arland justru ikut melempar pertanyaan padanya.
Belum sempat Gerryn mengutarakan keinginannya Marchel berdiri dari tempat duduknya. Kemudian kakinya melangkah mendekati Gerryn. Mereka berdua tidak pernah berinteraksi secara langsung, selama ini Marchel hanya memandang sosok Gerryn dari kejauhan.
"Siapa namamu? Sudah lama saya ingin berkenalan denganmu. Namun banyak kendala yang menghalangi." Marchel memangkas jarak wajah diantara mereka.
Gerryn terkejut bukan main. Kejadian saat ini tidak pernah terbayangkan olehnya. Bagaimanapun juga sosok di depannya adalah senior yang terkenal dengan ketampanannya. Sudah lama Gerryn jatuh terperangkap dalam pesonanya namun dia mencoba untuk mengabaikan perasan itu.
"Gerryn, Gerryn Chaytton." Dilihat dari ekspresi wajahnya ternyata Gerryn dapat menyembunyikan perasaan itu dengan baik. Namun jantungnya tidak bisa berbohong, saat melihat Marchel mengulurkan tangan untuk bersalaman jantungnya semakin berdetak kencang.
"Saya Marchel Volgy. Salam kenal." Marchel melukis senyum di wajahnya untuk memikat target. Detik itu juga Arsiel menepuk dahinya pelan, dia tidak habis pikir dengan tingkah ajaib Marchel.