
Ruangan hening seketika. Arsiel dan Arland hanya bisa membeku mendengar kalimat yang terasa tidak masuk akal itu.
"Apa maksudnya ini? Kalian tahu aku baru masuk SMA dan masih di bawah umur untuk membahas hal semacam itu!" Arsiel membentak. Dia sama sekali tidak bisa menerima keputusan sepihak dari orang tuanya.
"Lupakan soal itu. Kamu tidak membutuhkan sekolah lagi. Hidup keluarga kita akan lebih baik jika kamu bersama dengan orang pilihan ayah dan ibu."
"Apa maksunya dengan 'hidup keluarga kita' akan menjadi lebih baik? Tidak ada yang lebih baik dari kehidupanku! Kalian hanya menggunakan alasan itu untuk membuat hidup kalian sendiri menjadi lebih nyaman, tapi tidak dengan kehidupanku! Aku sudah muak!"
"Jaga mulutmu!"
Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Arsiel. Tamparan itu sangat keras hingga membuat pipi Arsiel memerah, namun gadis itu tidak merasakan rasa sakit apapun.
Meski begitu, ekspresi yang saat ini terpampang di wajah Arsiel membuat Arland menahan napas. Baru kali ini dia melihat tatapan ketakutan yang singgah di mata gadis malang itu.
"Sudah cukup!" Tanpa sadar tangan Arland menahan pergelangan tangan pria paruh baya itu yang ingin melancarkan sebuah pukulan pada Arsiel. Arland tidak tahu apa yang sudah terjadi dalam keluarga ini. Tapi Arland mengetahui satu hal, yaitu mengenai fakta bahwa Arsiel tidak merasa bahagia bersama keluarganya.
"Apa-apaan bocah ini?!" Ayah Arsiel menepis tangan Arland dengan kasar. Tatapannya berhasil membuat Arland sedikit tertekan, namun Arland justru memberikan tatapan yang sama pada pria paruh baya di hadapannya.
"Cukup sampai disini. Arsiel tidak mau, jadi jangan memaksanya."
"Arsiel? Siapa yang kamu maksud dengan Arsiel?" Ayah Arsiel mengernyitkan dahinya. Dia tidak mengenal seseorang dengan nama Arsiel.
Mata Arland membelalak. Dia lupa bahwa nama 'Arsiel Charsa' bukanlah nama asli gadis itu. Arland berdeham pelan mencoba mengingat nama asli Arsiel yang sempat dia dengar saat dirinya tidak sengaja mengintip di balik pilar. Setelah berhasil mengingat namanya Arland segera ingin memperbaiki ucapannya. Namun, suara itu di dahului oleh pria paru baya yang saat ini sedang naik pitam.
"Huh! Bocah tengik ini berani menjawabku? Apa itu mungkin karena kamu? Kamu yang membuat anakku menjadi seorang pembangkang, huh?!"
Ayah Arsiel menarik kerah baju Arland, membuat tubuh Arland terangkat beberapa senti. Arsiel yang melihat itu langsung spontan menarik tubuh Arland menjauh. Arland sekilas dapat melihat pantulan cahaya di sudut mata Arsiel.
'Apapun identitasnya, dia tetaplah seorang remaja.' Arland bergumam dalam hati. Dia menyadari bahwa Arsiel dengan susah payah mencoba untuk menahan air di matanya agar tidak menetes.
"Aku tidak peduli dengan peraturan bodoh sekolah itu! Intinya mulai malam ini kamu akan tetap di rumah. Ayah akan menyuruh orang lain untuk mengangkut barangmu yang berada di asrama."
"Kenapa ayah tidak pernah mendengarkan keluhanku?!" Arsiel menarik napas dalam. Dia semakin susah mengendalikan ekspresi wajahnya. Arland hanya bisa terdiam melihat itu. Dia tidak mempunyai hak untuk ikut campur lebih dalam.
"Ada apa ini? Kenapa ruang tamu sangat berisik dari tadi?" Seorang wanita tua keluar dari salah satu ruangan yang terhubung dengan ruang tamu.
"Ibu!" Ayah Arsiel sedikit terkejut ketika mendengar suara yang tidak asing ditelinganya.
"Sialan! Bahkan nenek tua itu tidak menyebutku sebagai cucunya." Arsiel terkekeh pelan. Mendengar hal itu dari mulut putrinya membuat ayah Arsiel naik pitam.
"Dasar anak tidak tahu diuntung!" Pria itu menarik tubuh Arsiel dengan kasar. Tangannya dengan cepat memukul Arsiel dengan bengis. Arsiel bisa saja menghindari pukulan itu dengan mudah dan melayangkan serangan balasan, namun tubuhnya tidak mau bergerak sesuai keinginannya.
Arland tertegun melihat kejadian yang berlangsung di depannya. Dia ingin menolong, tapi entah kenapa ada sesuatu yang menahannya.
"Kamu berani kurang ajar karena sudah lama aku tidak memberimu pelajaran dengan benar!" Pria itu terus memukul tubuh Arsiel tanpa ampun. Meski demikian, Arsiel tidak mengeluarkan suara sedikitpun.
Rasa sakit dari pukulan ayahnya tidak bisa dibandingkan dengan rasa sakit yang gadis itu terima selama masa pelatihan agen di markas utama. Namun air mukanya tidak bisa menyembunyikan perasaan tertekan yang diterima olehnya.
"Sial!" Arland menggeram, dengan cepat tangannya menarik tubuh Arsiel, mendekap gadis itu dengan erat di dalam pelukannya. Arsiel tertegun untuk beberapa saat. Tindakan Arland berada di luar dugaan.
"Jangan ikut campur! Berikan perempuan itu dan angkat kaki dari rumahku!" Pria itu menghardik. Matanya menatap murka dengan wajah yang mulai memerah.
"Siapa dia?" Wanita tua yang sedari tadi hanya diam mulai membuka suara. Dia berjalan dengan meniti lantai perlahan, berusahan menatap Arland dari dekat.
"Siapa aku atau identitasku tidaklah penting. Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikap kalian, terutama dengan anda, Pak." Arland mendongakkan wajahnya, menatap lurus mata ayah Arsiel.
"Di awal percakapan anda memanggilnya dengan sebutan 'putriku', tapi beberapa waktu lalu anda memanggilnya 'perempuan itu'. Sangat kentara bahwa anda tidak menganggap West sebagai seorang anak."
Mendengar ucapan itu membuat ayah Arsiel semakin naik darah. Pria itu sudah mengepalkan tangannya dengan erat, bersiap melayangkan tinju kapan saja dia mau.
"Aku akan membawanya pergi entah dengan atau tanpa izin dari kalian."
BUGH!!
Tepat setelah Arland mengakhiri ucapannya, sebuah pukulan mendarat mengenai hidung, membuat darah segar sedikit mengucur dari salah satu lubang hidungnya.
Tanpa sepatah katapun, Arland menggendong tubuh Arsiel, membawa gadis itu keluar dari ruangan yang terasa sangat pengap baginya. Arsiel sontak merasa sangat terkejut. Dia menyadari bahwa baru saja dirinya menunjukkan sisi lemah di hadapan lelaki yang membagulnya saat ini.
"Jangan mengatakan apapun. Aku akan membawamu pergi dengan paksa dan aku tidak menerima penolakan."
Kalimat itu berhasil mengurungkan niat Arsiel untuk mencegah Arland.
'Mungkin inilah yang terbaik.'