
"Perang besar? Berhenti berbicara omong kosong seperti itu!" Arsiel menautkan alis, menatap lelaki di depannya dengan heran. Dia tahu kenapa organisasi memberikan misi ini padanya, dan itu tidak ada hubungannya dengan perang besar seperti yang dia katakan.
"Baiklah, saya tahu ini tidak masuk akal. Saya juga tidak mempunyai bukti yang pasti untuk ditunjukkan padamu." Marchel berhenti sejenak, menarik napas dalam. Dia tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan supaya gadis di depannya bisa menaruh sedikit saja kepercayaan yang bisa digunakan.
"Ya, karena itulah berhenti mengatakan sesuatu seperti kebohongan. Jika kamu hanya ingin bermain dengan saya, maka saya tidak mempunyai waktu untukmu." Arsiel membuang muka, berbalik memunggungi Marchel. Kakinya sudah hendak mengambil langkah, namun Marchel berhasil menghentikannya.
"Operasi AM-4 yang ketiga akan terjadi tidak lama lagi." Nada kalimat Marchel terdengar lurus dan dingin, namun dapat dirasakan emosi yang bergejolak dalam ucapannya.
Arsiel tertegun mendengar itu. Operasi AM-4 adalah operasi yang sudah lama dihentikan. Dalam pelaksanaannya, bahkan pemerintah yang selalu menutup mata dan telinga sampai turun tangan supaya bisa menekan pelaksanaan Operasi AM-4. Dan sekarang, seorang numbers tiga besar dengan goldcard mengatakan bahwa operasi itu akan terjadi lagi?
"Hei, saya harap kamu bisa bertanggung jawab atas ucapanmu, Tuan Mikhael!" Raut wajah Arsiel langsung berubah seketika. Ucapan barusan bukan sesuatu yang bisa dijadikan sebagai lelucon. Orang-orang biasapun tahu mengenai Operasi AM-4, saking besarnya kekacauan yang diakibatkan oleh itu.
"Saya bisa menjamin itu benar-benar akan terjadi di masa depan. Saya mengatakan ini karena saya tahu tentang keterlibatanmu di dalamnya."
"Darimana kamu mengetahui itu?" Arsiel menundukkan kepala, menggigit bibir bawah hingga berdarah. Tangannya mengepal, semakin erat dan erat. Kejadian itu, kejadian tiga tahun lalu dan kenyataan bahwa dia menjadi salah satu diantara para 'pelaku' yang terlibat dalam aksi pembunuhan membuatnya mengingat kembali trauma yang selama ini terpendam.
Meski kenyataannya dia tanpa sengaja terlibat, namun tetap saja kejadian itu memberikan damage tersendiri pada mentalnya yang saat itu masih sangat labil. Rasa bersalah menjadi trauma terbesarnya yang belum bisa dia tebus sampai saat ini.
"Kita bicarakan lain kali saja. Saya membutuhkan waktu untuk beristirahat." Arsiel mengakhiri perbincangan empat mata dengan satu kalimat yang berhasil membuat Marchel tidak bisa mencegatnya lagi.
"Temui saya kapanpun kamu mau." Marchel sedikit meninggikan suara, berharap ucapannya akan terdengar hingga daun telinga gadis itu.
Tanpa mereka sadari, ada seorang siswa yang sedaritadi memerhatikan mereka. Dia adalah siswa yang sama dengan siswa yang membantu Arsiel terakhir kali, Arland Edison. Mulai dari saat ini, dialah satu-satunya siswa biasa yang mengetahui identitas keduanya.
....................
Sungguh Arsiel merasa sangat lelah hari ini, hanya untuk meluangkan waktu berbincang dengan Marchel membuat tenaganya seolah terkuras habis. Berbagai masalah seakan membuntutinya dari belakang, secara bergantian mendorong Arsiel ke tepian jurang yang gelap.
Rasanya Arsiel tidak ingin memikirkan sesuatu yang membuat dirinya pening untuk saat ini. Namun, semakin dia mencoba melupakan maka akan semakin teringat. Bagaimana jika yang dikatakan oleh Marchel benar-benar terjadi nantinya?
Arsiel berjalan lunglai ke arah UKS, berniat ingin mengistirahatkan dirinya. Tidak ada guru juga di kelas, dari pada dia membuang waktu di sana lebih baik pergi ke UKS. Pelaksanaan MPLS Masi tersisa satu hari lagi, untuk saat ini para junior sedang menyesuaikan diri sebelum menerima pelajaran.
Selama perjalanan menuju UKS Arsiel hanya melamun tidak memperhatikan sekitar, kepalanya menunduk menatap lantai koridor. Dia tidak melihat siswa yang sedang berjalan berlawanan arah dengannya, pundaknya terasa di tahan oleh seseorang, Arsiel langsung mendongakkan kepalanya.
"Arsiel? Urusanmu dengan senior Marchel sudah selesai?"
"Iya sudah, apa yang sedang kamu lakukan di sini Arland?" Arland muncul secara tiba-tiba membuatnya kaget.
Lengang, Arland tidak menjawab pertanyaan Arsiel seolah sedang kebingungan sendiri, Pupil matanya bergerak acak tidak menatap Arsiel. Bagaimana bisa Arland menatap gadis di depannya saat sudah tahu bahwa dia adalah siswi yang tidak biasa? Tentu saja Arsiel menyadari ada yang aneh dengan tingkah Arland, tapi dia memilih untuk mengabaikannya. Beberapa detik berlalu tanpa percakapan sampai akhirnya Arland membuka suara.
Bukannya menjawab justru melempar pertanyaan apa yang terjadi padanya, lagi dan lagi Arsiel mengabaikan tingkah aneh Arland. Dia tidak ingin menambah beban pikiran, sekarang saja pikirannya sudah kacau tidak karuan.
"Aku ingin pergi ke UKS."
"Ayo aku anterin pergi ke sana."
Arsiel menganggukkan kepalanya pelan, merekapun kembali berdampingan menelusuri koridor menuju UKS. Tidak ada obrolan selama di perjalanan, mereka berdua membisu sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Entah mengapa terasa singkat, mungkin karena mereka berjalan tanpa adanya obrolan sama sekali. Arland masuk lebih dulu sedangkan Arsiel mengekor dibelakangnya, suasana UKS sangat tenang itulah mengapa Arsiel sangat menyukai tempat ini. Meskipun begitu, dirinya tidak pernah membolos di jam pelajaran hanya untuk pergi ke UKS.
"Istirahatlah disini, Arsiel. Kamu terlihat sangat lelah."
"Terima kasih sudah mengantarku ke sini, Arland." Arsiel tersenyum tulus.
"Sudah aku bilang, bukan? kita teman satu sekolah, jika kamu ada masalah jangan sungkan untuk menghubungiku."
Arsiel merasa senang dengan kehadiran Arland, bagaimanapun Arland adalah satu-satunya orang yang mau berdekatan dengannya. Tanpa dia sadari pikiran yang tadinya membuat kepala pusing perlahan menghilang.
Arsiel membaringkan tubuhnya ke salah satu ranjang yang ada di sana. Sedangkan Arland menarik salah satu kursi ke samping ranjang yang di tempati oleh Arsiel, lalu mendudukkan dirinya di sana.
"Apakah kamu sudah makan?"
Entah mengapa setelah Arland menanyakan hal itu, Arsiel yang tadinya tidak merasakan lapar tiba-tiba teringat bahwa dia belum makan apapun. Melihat Arsiel yang hanya diam membuat Arland menyimpulkan lalu langsung menebaknya.
"Pasti belum, aku pergi dulu sebentar. Kamu tunggu di sini."
Arsiel hanya menganggukkan kepala pasrah, dia tidak mengelak karena memang benar belum makan apapun. Sembari menunggu Arland kembali, Arsiel mencoba untuk memejamkan matanya. Tidak ada orang lain di sana, entah kemana perginya petugas yang menjaga tempat ini.
Lamanya menunggu membuat Arsiel benar-benar tertidur lelap, Arland kini sudah berada di sampingnya membawa dua bungkus roti dan sekotak susu di tangannya. Namun dia tidak tega membangunkan gadis itu, pilihannya saat ini hanya menunggu Arsiel terbangun dari tidurnya.
Disaat fokus Arland sedang terpaku pada Arsiel, suara dering dari smartphone Arsiel berhasil mengalihkan perhatiannya. Layar smartphone itu menyala, menampilkan sebuah pesan dari nomor tidak dikenal.
[Unknown Massage]
[Misi pembunuhan. Harwich West, agen 09 numbers. Pertemuan para numbers dilaksanakan besok di pintu kedelapan.]