
Setelah pertengkaran kecil antara agen di markas tunggal, mereka kembali ke markas utama untuk mendapat perincian misi dan mempersiapkan segala sembari menunggu perintah untuk menjalankan misi dari Black Card.
Ketika mereka sampai di halaman markas tunggal, beberapa mobil hitam dengan model yang sama sedang berjejer menunggu untuk membawa para agen kembali ke markas utama. Orang yang menjadi supir Arsiel berbeda dengan yang tadi mengantarnya. Ditambah lagi dia berada satu mobil dengan dua pria, salah satunya adalah Mikhael.
Lalu kembali pada keadaan saat ini di dalam markas utama. Para agen menuju ruangan masing-masing untuk menyiapkan berbagai hal, tidak terkecuali dengan Arsiel.
Sudah lama dia tidak berada di tempat ini, bahkan sebelum misi di SMA. Rasanya seperti harus kembali menyesuaikan diri dengan tempat yang penuh nostalgia ini.
Di tengah lamunannya, Arsiel tiba-tiba teringat pada Arland. Padahal mereka baru berpisah tadi pagi. Hanya saja Arsiel merasa khawatir karena akhir-akhir ini Arland selalu membelanya. Bisa saja beberapa murid di SMA mencari gara-gara karena Marchel tidak ada.
"Lupakan saja. Jika fokusku teralihkan karena hal seperti itu dan malah gagal menjalankan misi, maka semuanya sudah berakhir untukku." Arsiel mendesah pelan, dengan cepat berusaha menghilangkan kekhawatiran yang berlebihan.
Tidak banyak hal yang bisa mereka lakukan di markas utama. Sebagai agen khusus, mereka tidak bertugas dalam menjaga keamanan markas atau hal lainnya. Anggap saja hal itu sebagai waktu libur dan hadiah atas kerja keras mereka selama latihan sampai menjalankan misi.
Ketika Arsiel hendak merebahkan tubuh sejenak, tiba-tiba suara alarm berbunyi nyaring, membuat gadis itu tersentak pelan. Dengan cepat Arsiel membuka pintu ruangannya, kemudian menghentikan salah satu anggota patroli yang kebetulan sedang lewat di depannya.
"Apa yang terjadi?" Arsiel menautkan alis, menatap lelaki yang terlihat lebih muda darinya dengan serius.
"Maaf, tapi saya tidak mengetahuinya dengan pasti. Hanya saja laporan yang saya terima mengatakan bahwa ada orang asing yang sedang menyusup ke dalam markas dan mencuri 'benda itu' dari ruang penyimpanan." Lelaki itu menjelaskan dalam satu tarikan napas.
Arsiel membelalak mendengar bahwa benda berharga organisasi telah dicuri oleh orang tidak dikenal. Pikirannya berputar memikirkan banyak hal, terutama ketika Black card mengetahui hal ini.
"Sial! Apa yang kalian lakukan sampai membiarkan penyusup masuk? Bersyukurlah jika dia tidak melakukan pembantaian pada kalian!" Setelah mengatakan itu, Arsiel mendorong tubuh lelaki di depannya, bergegas berlari menuju pintu utama markas.
Lelaki itu hanya bisa terdiam mendengar perkataan Arsiel. Apalagi mendengar kata 'pembantaian' yang mungkin akan menjadi masa depannya. Dia tahu bahwa tidak ada gunanya melarian diri saat ini.
"Sial, aku harus menemukan penyusup keparat itu meski harus mati sekalipun! Setidaknya akan lebih baik daripada mati di tangan orang sepertinya." Lelaki itu bergegas berdiri, mengejar seluruh anggota organisasi yang mulai berkumpul di pintu utama.
Selama di perjalanan, Arsiel bertemu dengan agen yang lain. Mereka selalu menanyakan hal yang sama mengenai yang terjadi saat ini. Arsiel hanya mengatakan tiga kata yang membuat semua agen langsung mengerti.
'Penyusup mengambil itu.'
Di halaman markas, tepat setelah pintu utama, sekumpulan anggota organisasi tingkat rendah berkumpul di sana. Arsiel menerobos kerumunan dan mendapati seorang perempuan tengah tergeletak di tengah kerumunan.
Tanpa penjelasan juga Arsiel sudah menyadari bahwa perempuan di hadapannya saat ini adalah penyusup yang menyebabkan keributan. Arsiel ingin mengambil tindakan, namun agen lain mendahuluinya.
Seluruh agen khusus saat ini tidak sempat mengenakan topeng begitu mengetahui keadaan darurat saat ini. Seorang agen lelaki tanpa topeng berjalan mendekati target, memegang wajahnya untuk saling bersitatap. Wajah agen itu tidak asing bagi Arsiel, sehingga dia tidak ikut campur atau menghentikannya. Gadis itu berharap Mikhael dapat menyelesaikan ini dengan sempurna.
"Siapa yang mengutusmu?" Mikhael bertanya dengan nada berat dan dingin, menatap tajam wanita di depannya.
Wanita itu bungkam dengan air muka yang tidak menyenangkan, membuat Mikhael menjadi semakin kesal.
"Baiklah, tidak masalah jika kamu tidak ingin mengatakannya. Saya hanya perlu membuatmu membuka suara." Mikhael menampar pipi perempuan itu, membuat tubuhnya terjatuh karena dorongan yang kuat.
"Bawa jal*ng ini ke ruang teratu! Saya dan beberapa rekan saya yang akan mengurusnya." Mikhael menatap anggota organisasi tingkat rendah dengan tajam sehingga beberapa dari mereka bergegas mengikat tubuh perempuan itu dengat erat, lalu membawanya ke ruang teratu seperti yang diminta.
"Saya harap kalian bisa merahasiakan ini agar tidak di dengar oleh petinggi organisasi, terutama menjaga kabar ini agar tidak sampai ditelinganya. Kalian pasti sudah mengerti apa yang akan terjadi jika kejadian kali ini merebak ke telinga orang itu, kan?" Mikhael menatap seluruh anggota yang berkumpul secara bergiliran.
Mereka semua terdiam, tidak ada jawaban setuju ataupun tidak. Mereka tahu bahwa bencana mungkin akan datang melanda jika ada yang melaporkan kejadian ini.Tapi disisi lain jika mereka menyembunyikan ini dan suatu saat orang itu mengetahuinya, maka bencana yang lebih besar akan terjadi.
"Lupakan itu! Dimana benda yang dicuri?" Mikhael menyapukan pandangannya, mencari benda keramat yang menyebabkan kepanikan seluruh anggota organisasi.
Tidak perlu menunggu waktu lama, salah satu dari mereka maju dengan membawa sebuah koper di kedua tangannya. Mikhael dengan cepat menerima koper itu, memasukkan sandi untuk membuka koper. Dia harus memastikan benda di dalamnya masih aman.
"Bagus, tidak ada masalah." Mikhael menghela napas lega, diikuti oleh helaan napas yang lain.
"Aku akan menaruh ini pada tempatnya." Seorang perempuan dewasa dengan pakaian erotis berjalan ke arah Mikhael, mengajukan diri untuk menaruh benda penting itu kembali pada habitatnya.
Tanpa ragu Mikhael menyerahkan koper begitu saja, memercayakan sesuatu penyebab bencana pada perempuan di hadapannya.
"Baiklah, aku harus melanjutkan tugasku untuk mencari informasi dari perempuan keparat itu!"