I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Arland Edison



“apaan, sih! Kamu rese banget gangguin aku terus!” Gerryn mendengus kesal. Tangannya mulai mengepal, bersiap melayangkan tinju kapan saja dia menginginkan itu. Tapi sayangnya, siswa yang menjadi lawan bicara Gerryn sama sekali tidak mengubris ucapan gadis itu. Dia justru langsung beralih pada Arsiel yang masih bersimpuh sambil menjulurkan tangan berniat membantunya.


“Kamu gapapa?” Siswa itu bertanya dengan wajah cemas.


Arsiel sengaja tidak membalas pertanyaan yang dilontarkan oleh siswa tersebut, akan tetapi tangannya maraih tangan yang lebih besar menerima bantuan untuk berdiri. siswa itu lalu beralih menatap Gerryn seolah olah memberikan peringatan untuk sekian kalinya agar tidak melakukan kekerasan terhadap orang lain, alih- alih merasa takut Gerryn justru merasa jengkel aktivitas membullynya jadi terganggu karena kemunculan sosok pahlawan kesiangan.


“Ini tuh urusan aku sama dia! Jangan ikut campur kamu, Arland!” Gerryn meninggikan suaranya tersulut emosi. Bukan sekali dua kali siswa tersebut mengganggunya, setiap kali Gerryn membully dia akan muncul tanpa dipanggil layaknya jailangkung.


“Urusan kamu sama dia? Meskipun kamu punya urusan, apa menendang dia itu hal yang wajar?” Siswa tersebut, Arland Edison, mengernyitkan keningnya. Selama ini dia sudah sering menahan diri melihat kelakuan Gerryn yang melewati batas.


“Ah, awas aja kamu lain kali!” Gerryn mendengus, membalik badan meninggalkan mereka berdua dengan semua temannya. Gerryn tidak ingin terlibat lebih jauh dalam pertengkaran dengan Arland. Meski Arland bisa dibilang orang yang bodoh dalam memilih teman, tapi dia adalah tipe orang yang tidak akan segan untuk membela yang lebih lemah dan membutuhkan uluran tangannya.


Arland mengeraskan rahang sambil menatap punggung Gerryn yang menghilang di balik dinding. Kemudian pandangannya Kembali dialihkan menatap Arsiel yang masih berdiri disamping kanannya.


Gadis itu terus memegangi perut yang sebenarnya sudah tidak terasa sakit, namun dia harus tetap memerankan perannya dengan baik sebagai gadis lemah.


“Sorry, Gerryn emang cewek yang suka bertindak semaunya. aku bakal anterin kamu ke UKS. Pasti perut kamu masih sakit, kan?” Arland meraih tangan Arsiel, menariknya secara paksa untuk mengikuti ritme langkah Arland.


Sebenarnya Arsiel tidak punya waktu untuk istirahat di UKS. Dia harus secepatnya melakukan complain pada markas untuk memastikan Mikhael benar berada di misi yang sama dengannya atau tidak. Jika memang mereka ditugaskan pada misi yang sama, Arsiel ingin markas menarik kembali Mikhael dari misi ini.


“Kamu kenapa? Dari tadi aku liatin cuma ngelamun terus.” Arland melambaikan tangan tepat di depan wajah Arsiel, berharap gadis itu akan kembali pada kesadarannya. Arsiel sedikit terkejut, menggelengkan kepala dengan pelan.


“Ah, maaf. Aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah menolongku.” Arsiel sedikit membungkukkan badan untuk menunjukkan rasa hormatnya. Arland perlahan tersipu melihat itu. Baru kali ini ada gadis yang sangat sopan kepadanya.


“Yah, kita teman satu sekolah. Sudah sepantasnya kita saling membantu.” Arland menggaruk kepala bagian belakang, terkekeh pelan. Arsiel menyunggingkan senyum tipis di wajahnya.


Mereka kembali berjalan di koridor sekolah menuju UKS, namun di tengah perjalanan Marchel datang mencegat.


“Charsa, pembicaraan kita terakhir kali belum selesai. Bisa minta waktu empat mata?” Marchel tanpa banyak obrolan ngalor-ngidul lainnya, Marchel langsung menembak percakapan pada inti. Arsiel dibuat terkejut oleh itu, matanya membelalak dengan wajah penuh ikan mati.


“Senior Marchel, selamat siang!” Arland berseru menyapa seniornnya. Selain baik, Arland juga dikenal sebagai anak yang ramah.


“Dia harus pergi ke UKS lebih dulu, jika senior mau ikut ga masalah tapi kalo engga biar nanti aja ngobrolnya.”


Arland secara tidak langsung mengusir Marchel. Dengan cepat arsiel menyetujui ajakan Marchel karna takut terjadi perang dingin diantara mereka berdua, dilihat dari tatapan Marchel yang tidak menyukai perkataan Arland barusan.


“Aku baik-baik saja, mungkin hanya butuh istirahat tidak perlu pergi ke UKS” Arsiel mencoba meyakinkan Arland dengan senyuman, Arland dengan berat hati mengiyakan perkataan Arsiel. Tangan Arsiel ditarik lagi tapi kali ini tidak sekasar tadi, dengan pasrah dia pergi bersama Marchel meninggalkan Arland sendirian.


Arsiel kembali bejalan menyusuri sekolah, bedanya kali ini tidak dengan orang yang sama. Marchel membawa gadis itu ke taman sekolah, melewati ribuan pasang mata yang memerhatikan mereka.


“Bisa tidak jangan menarik saya seperti ini? saya bisa jalan sendiri tanpa kamu tarik!” Arsiel menarik tangannya, membuat marchel yang sedari tadi fokus berjalan menjadi mengalihkan perhatian padanya.


“Saya tidak mempunyai banyak waktu Nona West!” Marchel mengeraskan rahangnya, menatap Arsiel dengan mata membara. Untuk sejenak Arsiel dibuat menciut oleh tatapan itu, namun sepersekian detik kemudian Arsiel berhasil mengembalikan keberaniannya.


“Kamu gila? Jangan sebut nama saya didepan umum, sialan!” Arsiel balik menatap Marchel dengan geram. Dia sudah menduga bahwa orang di depannya akan sulit diatur.


Marchel tetap bergeming, hanya menatap Arsiel sambil menahan emosi yang sedang menggebu. Dia benar-benar tidak memiliki banyak waktu. Ada banyak hal yang ingin dia bicarakan dengan gadis di depannya.


“Cepat ikuti saya!” Marchel memutuskan untuk menyudahi atmosfer tidak bersahabat diantara mereka, Kembali berjalan menuju taman dengan Arsiel yang mengekor di belakangnya.


Sesampainya di tempat tujuan, Marchel langsung melayangkan raut wajah serius. Arsiel yang mulai muak menatap wajah itu memilih untuk memalingkan muka sembari menunggu orang di hadapannya mengutarakan apa yang ingin disampaikan.


“Saya perintahkan kamu untuk kembali ke markas!” Marchel langsung menembak pembicaraan pada intinya tanpa basa-basi, seperti yang dia lakukan sebelumnnya.


“Hah?! Apa saya tidak salah dengar? Kamu hanya sebatas agen tiga teratas di numbers. Memangnya kamu mempunyai hak memberikan perintah pada saya?” Arsiel mengangkat jari telunjuknya, menuding tepat diwajah Marchel dengan wajah merah padam. Semakin banyak waktu yang dihabiskan bersamanya, Arsiel merasa semakin frustasi. Dia ingin secepatnya menghubungi markas untuk mengurus biang kerok yang menjadi sumber masalah.


“Dengarkan saya! Beri saya waktu setidaknya sepuluh menit untuk menjelaskan!” Marchel menautkan alis. Dia tidak mengira bahwa markas sudah mengetahui bahwa dia tidak berada di sana. Marchel harus secepatnya mengungkapkan rahasia misi ini sebelum terlambat.


“Memangnya apa yang ingin kamu jelaskan? Padahal tadi kamu bersikap sangat sombong, dimana kesombongan itu sekarang?” Arsiel meninggikan suara. Entah kapan terakhir kali dia kehilangan kesabaran seperti saat ini. Selama berada di markas dan menerima pelatihan khusus, Arsiel selalu diperingatkan untuk tetap berkepala dingin seperti apapun keadaannya.


“Misi ini tidak seperti yang mereka jelaskan padamu. Ada celah besar yang akan berbahaya. Percaya pada saya untuk kali ini saja. Jika seluruh informasi yang diminta oleh atasan berhasil kamu selesaikan, maka perang besar akan terjadi.”