I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Pengkhianat Organisasi Bag.2



Kalimat dari pria rubah berhasil membuat semua anggota numbers fraksi pertama menghela napas berat. Meski cara penyampaian pria rubah masih kurang dimengerti, tapi mereka sudah memahami garis besarnya.


Operasi AM-4 adalah sebuah misi yang dioperasikan dengan tujuan untuk memusnahkan diempat tempat yang berbeda. AM merupakan singkatan dari Assassination Mission atau misi pembunuhan.


Dari pada disebut sebagai misi pembunuhan, misi itu lebih cocok disebut sebagai misi pembantaian karena mereka membunuh semua orang yang berada di tempat target tanpa menyisakan satupun untuk tetap hidup.


AM-4 yang dioperasikan secara brutal itu mengundang tokoh-tokoh penting dari dunia permukaan untuk ikut turun tangan demi menghentikan misi gila yang tak terkendali.


Bahkan pemerintah yang biasanya tidak pernah ikut campur mengenai masalah organisasi di balik layar terpaksa mengirimkan pasukan khusus perang untuk memukul mundur organisasi Bildeshem dan memintanya menandatangani surat resmi yang berisikan perjanjian bahwa operasi AM-4 akan dihentikan dan tidak akan kembali dijalankan.


Lalu agenda numbers hari ini adalah mengenai operasi AM-4 yang kembali dijalankan. Kasus yang sudah lama dipendam kini mulai muncul ke permukaan. Tentu saja Organisasi Bildeshem yang akan disalahkan jika operasi yang dilarang itu tiba-tiba saja ditemukan sedang dilakukan kembali.


"Jadi, apa yang akan anda lakukan untuk mengatasi masalah ini?" Arsiel melipat tangan di dada, memberikan kesan congkak pada pria rubah.


"Itulah mengapa saya memberikan misi pada anda sekalian. Saya adalah pemilik Platinum Card dan saya bisa memberikan misi yang sesuai dengan kedudukan saya dalam organisasi." Pria rubah menatap anggota satu persatu, memberi isyarat yang mengancam lewat tatapan matanya.


"Khusus untuk anda Agen A-09, saya akan meminta bos utama untuk memberikan pengarahan secara pribadi pada anda." Pria rubah berjalan mendekati kursi Arsiel. Namun Marchel menghalangi langkahnya sambil melayangkan satu tendangan tepat mengenai perut pria rubah, membuatnya mundur beberapa langkah.


Senyuman pria rubah pudar seketika, digantikan dengan mengeratkan rahangnya karena marah.


"Saya harap anda memiliki alasan yang tepat atas perlakuan anda pada saya, Agen A-03."


"Tentu saja saya mempuyai alasan dan mempunnyai hak untuk mempelakukan anda seperti ini." Marchel mendengus keras dengan nada yang seolah meremehkan pria di depannya saat ini.


"Apa anda ingin mengatakan bahwa seorang Gold Card memiliki hak istimewa untuk melakukan kekerasn pada seorang pemilik Card di atasnya?"


"Tidak, bukan seperti itu, Mr. Fox. Saya bermaksud untuk mengatakan bahwa seorang pengkhianat pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti ini."


Kalimat yang terlontar dari mulut Marchel berhasil membuat semua agen khusus itu berdiri dari posisi duduknya. Mereka tidak bisa percaya pada ucapan Marchel, tapi mereka juga tidak bisa mengambil resiko untuk mengabaikan perkataan tersebut. Tidak mungkin seorang Gold Card berani melakukan hal yang tidak pantas pada Card di atasnya, tidak peduli seberapa gila agen itu. Beda cerita jika seorang agen memiliki alasan dan bukti yang kuat.


"Apa maksud anda, Agen A-03? Apakah anda bermaksud untuk memprovokasi atau menjebak saya?" Pria rubah mulai menggeram, urat-urat di keningnya mencuat dari balik kulit.


"Sayangnya kami memiliki bukti yang kuat, Mr. Fox." Arsiel berjalan maju mendekati pria rubah, tangannya sudah bersiap untuk melepaskan topeng yang dikenakan oleh pria itu. Agen lain dengan cekatan langsung memegangi pria rubah agar tidak bisa kabur atau memberikan serangan.


"Apa yang anda katakan? Pemilik dadu kedelapan? Jadi bedebah ini adalah anjing pemerintah?" Agen A-06 mendengus kesal, tatapannya seolah ingin membunuh pria itu. Dia adalah agen yang paling merasa anti dengan pemerintahan yang menurutnya penuh dengan kemunafikan.


"Sungguh penuh kejutan. Dengan bodohnya kita menuruti keinginan dari seekor anjing jinakan?" Agen A-02 menambahi, dilihat dari penekanan di setiap kata yang dia lontarkan terdapat emosi yang sangat kentara.


"Apakah otak kalian berhenti bekerja?! Saya sudah lama mengabdi pada organisasi bahkan sebelum kalian terbentuk. Jadi tidak mungkin saya berkhianat pada organisasi ini!" Pria rubah membela diri, raut wajahnya menampakkan kemarahan yang tidak bisa di bendung lagi.


"Otak anda yang mulai menyusut dimakan hasutan pemerintah, dasar domba yang tamak!" Marchel berkata dengan intonasi rendah tanpa adanya emosi yang terselip di dalamnya.


Pria rubah memberontak agar terlepas dari jeratan para agen. Namun usahanya tidak membuahkan hasil, cengkraman yang menahannya begitu banyak membuat dia kesulitan untuk melepaskan diri. Arsiel mendekatkan wajahnya, dia mencoba menghapus jarak diantara keduanya.


"Mr. Fox, menurut anda mengapa organisasi kesulitan menemukan pelakunya? Saya baru saja menemukan jawabannya. Kendala itu terjadi karena adanya pendukung orang luar yang menyandang status tinggi di dalam suatu organisasi."


Kalimat itu mampu membuatnya terdiam beberapa saat. Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa semua usaha yang sudah dia lakukan beberapa tahun terakhir ini akan menjadi sesuatu yang sia-sia.


"Omong kosong! Memangnya bukti seperti apa yang anda miliki? Saya harap itu bukan hanya gertakan belaka." Pria itu mengeratkan rahangnya, berusaha untuk menahan amarah yang sedari tadi bergejolak. Arsiel kembali menarik wajahnya menjauh.


"Anda menginginkan bukti? Tenang saja, karena kami sudah menyiapkan bukti yang tidak hanya gertakan belaka, seperti harapan anda." Arsiel mengambil sesuatu dari balik jasnya, mengeluarkan sebuah alat penyimpanan data memori kilat dengan ukuran yang lumayan kecil. Arsiel melempar alat penyimpanan itu, kemudian Marchel dengan cepat menangkapnya.


"Periksalah sendiri. Saya dan Agen A-03 akan keluar dari ruangan mendahului kalian." Arsiel memberikan isyarat pada Marchel untuk menyerahkan alat penyimpanan itu pada agen yang tidak sedang melakukan apapun.


"Ah, jangan lupa untuk mengikat pengkhianat itu dengan benar. Jangan dulu melaporkan hal ini pada atasan, karena saya memiliki ide yang luar biasa untuk mengolah sampah menjadi sesuatu yang berguna. Tenang saja, saya yakin anda sekalian juga akan menyukainya."


Setelah mengatakan itu Arsiel langsung melangkah menuju pintu keluar ruangan dan disusul oleh Marchel yang mengekor di belakangnya.


Di lorong koridor yang tidak jauh dari tempat pertemuan numbers diadakan, Marchel dan Arsiel melepaskan topeng sesak yang dipakainya selama pertemuan.


"Akhirnya selesai. Saya tidak akan tahan jika harus lebh lama lagi berada di tempat seperti itu dengan pria yang sangat berbelit-belit." Arsiel menghela napas lega. Wajahnya terlihat dipenuhi oleh keringat akibat mengenakan topeng dalam kurun waktu yang cukup lama.


"Bagaimana hasilnya?" Suara di ujung lorong berhasil membuat Arsiel tersenyum.


"Sangat sempurna, bahkan melebihi perkiraan."