
Waktu berjalan begitu cepat, menambah kesan rindu selang berganti hari semakin kuat. Namun sialnya rasa itu harus dia pendam tanpa mengetahui jawabannya. Tapi meskipun demikian, perasaan puas selalu dia rasakan ketika mengingat momen pengakuan tanpa balasan.
Kembali pada suasana sekolah yang terasa lebih tenang setelah kepergian Arsiel dan Marchel beberapa hari yang lalu, namun ketenangan itu menimbulkan rasa bosan bagi orang yang telah di tinggalkan.
Saat ini Arland sedang menikmati senja dan semilir angin yang berhembus pelan menerpa wajahnya. Jam pelajaran sudah berakhir beberapa menit yang lalu, bukannya kembali untuk beristirahat, namun lelaki muda itu justru memilih untuk berdiam diri di rooftop sekolah.
Tidak ada yang berubah, semuanya berjalan seperti biasa. Dimulai dari kewajiban Arland untuk belajar juga tugas tambahan mengawasi Jacob di waktu istirahat tiba. Mengingat tentang Jacob membuat Arland sedikit merasa kesal pada Gerryn. Selama pengawasan sedang berlangsung Gerryn selalu menempelinya membuat Arland sedikit kesulitan.
Pikirann Arland berkelana jauh memikirkan keadaan Arsiel. Pandangannya beralih menatap Smartphone yang sedari tadi dia genggam. Kemudian dengan perlahan ibu jari itu menggeser pelan di atas layar smartphone hingga menampilkan sederet pesan yang dia kirim beberapa jam lalu.
Air muka Arland jelas terlihat sedikit kecewa ketika menatap pesan yang belum sempat di baca oleh si penerima. Arland tahu pasti Arsiel tidak akan ada waktu luang hanya untuk membalas pesan yang dia kirim, tetapi tidak ada salahnya bukan berharap suatu waktu dia menerima kabar dari orang yang berhasil merebut seluruh perhatiannya.
"Aku merindukanmu dan akan selalu seperti itu sapai nanti kita berjumpa lagi." Kalimat itu dia tuturkan pada orang yang berada jauh di sana, dimana tempat yang bahkan tidak Arland ketahui.
Setelah puas bernostalgia di titik awal bertemunya mereka, akhirnya Arland memutuskan untuk beranjak pergi dari sana. Meskipun ada jarak di antara keduanya Arland tetap yakin bahwa suatu hari nanti dia akan bertemu lagi dengan gadis cantik itu.
Arland melangkah menelusuri koridor yang terasa nyenyat. Suasana hening seperti ini tidak membuatnya merasa cemas sedikitpun, mungkin karena sudah terbiasa pulang sedikit terlambat dari biasanya.
“Aku berharap semoga kita bisa cepat bertemu kembali.” Arland bergumam di tengah keheningan. Kakinya terus berjalan menyusuri koridor, menuruni beberapa tangga hingga sampai di lantai bawah.
Tanpa Arland sadari, seorang pria tengah menunggu batang tubuhnya keluar dari gerbang sekolah. Lelaki itu memakai setelan kelas atas dengan jas hitam yang sedikit ketat menutupi tubuh tanpa kemeja.
Arland terus berjalan dengan langkah kaki yang sangat ringan. Banyak hal yang dipikirkan, namun selama perjalanan ke rumah Arland mencoba untuk memfokuskan diri agar langkahnya tidak berhalusinasi.
“Arland Edison, benar?”
“Maaf?” Arland bertanya dengan penuh kebingungan. Kepalanya sedikit memiring dengan kerlingan yang dibanjiri tanda tanya.
“Bisa tolong ikut saya sebentar?”
\*\*\*\*\*
Sebuah ruangan yang sangat luas dengan berbagai macam alat di setiap incinya. Seorang gadis tengah menyapukan pandangan menatap isi tempatnya saat ini berada. Perasaan mual langsung menghampirinya setelah matanya menangkap tubuh seseorang yang terbaring di sebuah ranjang dengan kondisi sangat mengenaskan.
Meskipun gadis itu pernah terlibat dalam sebagian aksi pembunuhan dan baru saja beberapa waktu lalu melakukan penyiksaan, namun kondisi orang yang kini berada di hadapannya jauh lebih mengenaskan.
“Eksperimen seperti apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan?” Harwich menelan ludah meski ludahnya terasa sulit untuk ditelan.
Saat ini dia sedang sendirian karena terpisah ketika menemui persimpangan tangga yang lain. Beruntungnya Harwich menemukan jalan yang tepat untuk menuju ruang bawah tanah.
“Informasi mengenai tangga menuju ruang bawah tanah ternyata salah, atau mungkin itu sengaja dibuat untuk mengecoh mata-mata yang sedang menyamar. Ternyata mereka penuh dengan persiapan.” Harwich kembali bergumam di tengah kesunyian suasana yang kini menyelimuti ruangan besar itu.
“Untuk sekarang aku harus menghubungi agen yang lain terlebih dahulu. Setidaknya aku berharap Helwer dan kelompoknya belum sampai di lantai tiga. Di sana pasti banyak agen dan mereka mungkin akan berada dalam kesulitan.”
Harwich menekan tombol di dekat kerah jasnya, mendekatkan bibir pada nanofon yang melekat di sana. Dia ingin memanggil seluruh agen, tapi rasanya itu sangat mustahil. Jika ada banyak orang yang terus-menerus memasuki ruangan yang sama, maka hal itu akan mengundang curiga untuk orang-orang di sekitarnya. Belum lagi jika pergerakan mereka tertangkap oleh lensa kamera pengawas.
“Baiklah, setidaknya aku akan memanggil agen yang saat ini sudah berada dalam labirin tangga saja.” Harwich menghela napas. Bersiap memberikan perintah.
“Untuk para agen yang sedang berada di labirin tangga, saya memerintahkan semuanya untuk berkumpul di titik awal.”