
Suara berisik di balik dinding membuat seorang anak perempuan meringkuk di pojok ruangan yang gelap tanpa penerangan. Suara di luar sana terdengar sangat keras namun tidak jelas. Gadis kecil itu tidak tahu pasti apa yang sedang mereka bicarakan, tapi satu hal yang dia tahu, yaitu mengenai mereka yang saling mengumpat.
"Apa maksudmu? Padahal kamu selalu pergi dari pagi dan pulang larut malam, lalu kamu menyalahkanku karena tidak menyiapkan makanan? Kamu pikir aku bisa mendapatkan uang dari mana jika kamu tidak bekerja?" Suara teriakan seorang wanita terdengar diiringi dengan isak tangis yang tertahan.
"Itu adalah tugasmu menyediakan makanan untuk suami! Istri macam apa kamu ini?"
Diakhir kalimat itu terdengar bunyi pukulan yang keras. Tidak lama kemudian suara wanita tadi menangis dengan sangat kencang.
Anak perempuan itu kembali terperangkap dalam suasana yang begitu mencekam. Mengingat usianya yang masih terbilang sangat muda membuat dia hanya mampu bergeming di tempat.
Pernah suatu ketika si gadis kecil mencoba untuk melerai kedua orang dewasa itu, namun bukannya berhenti bertengkar mereka justru melayangkan sebuah pukulan keras padanya. Mengingat kejadian itu membuat tubuh mungilnya bergetar hebat.
Suasana gaduh di balik dinding secara perlahan mulai menghilang. Tubuh kecil itu merangkak mendekati pintu untuk mengecek keadaan di luar sana. Namun sayangnya saat gadis kecil berada tepat di depan pintu, secara mendadak pintu itu terbuka sangat kencang hingga mampu mengenai kepalanya yang tidak sempat menghindar.
Dalam gelap sosok itu mencari saklar lampu untuk menerangi ruangan. Setelah saklar berhasil di tekan pandangannya menangkap tubuh gadis kecil yang sedang menatap dengan air bening yang menggenang di pelupuk matanya.
"Jangan menangis di hadapanku! Pergilah dari sini dasar anak tidak berguna!!"
Sosok pria dewasa berteriak kencang kearahnya, tangannya bersiap melayangkan satu pukulan. Dengan segera tubuh kecil itu berdiri untuk melangkah pergi namun satu pukulan lebih dulu mendarat pada punggungnya. Dia sebisa mungkin menahan suara tangisnya. Setelah tubuh gadis kecil itu sepenuhnya keluar pintu, detik itu juga pintu langsung tertutup rapat.
"Ibuuu....."
Dengan langkah pelan gadis itu mendekati wanita yang di panggil dengan sebutan ibu. Tangannya memeluk leher ibunya mencoba menenangkan wanita itu.
"Jangan menyentuhku!" Tangan besarnya bergerak mendorong tubuh gadis kecil hingga membentur dinding.
"Seharusnya aku tidak melahirkanmu. Pergilah susul anak biadab itu!! Pergi!!" Wanita itu berteriak kencang dengan air mata yang terus mengalir.
******
Lampu ruangan berpendar dengan sangat terang. Di atas sebuah kasur putih empuk, seorang gadis remaja tersentak dari tidurnya. Keringat dingin membasahi wajah gadis dengan ekspresi kusutnya.
"Arsiel, kamu tidak apa-apa?" Suara yang tidak asing merebak masuk ke telinganya, membuat gadis remaja itu menoleh ke asal suara. Pemilik suara itu tidak lain adalah Arland.
"Kamu menangis?" Arland membelalak, dengan cepat berjalan menghampiri gadis di depannya.
Arland beranjak duduk di tepi kasur, tepat berada di samping Arsiel. Tatapannya menyapu setiap sudut ekspresi yang terpampang di wajah gadis itu.
"Ada apa? Wajahmu terlihat sangat pucat." Arland menghela napas, menatap gadis di sampingnya dengan khawatir. Belakangan ini Arland sering mendapati sisi Arsiel yang jarang diketahui. Entah Arland harus bersyukur atau tidak karena hal itu.
"Tidak, hanya sebuah mimpi buruk." Arsiel menarik napas dalam, menyeka wajahnya untuk menenangkan diri. Mata gadis itu mendapati tubuh Arland yang setengah telanjang dengan selembar handuk pendek yang menggantung di leher melewati kedua bahu lelaki itu.
Arsiel spontan menahan napas melihat itu. Tubuh Arland sangat bersih dan terawat. Dia juga tidak menyangka kalau lelaki di depannya memiliki tubuh yang lumayan bagus. Selama ini otot-otot yang terbentuk tidak dapat terlihat karena selalu ditutupi oleh baju.
"Baru selesai mandi?" Arsiel bertanya pelan dan dibalas dengan anggukan kecil oleh Arland.
"Aku akan langsung pulang untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah seperti yang kamu minta. Jaga diri baik-baik disana. Aku yakin tidak semua orang di markas bersikap baik padamu. Apalagi setelah kejadian terakhir kali."
"Maksudmu tentang rencana Marchel saat pertemuan Numbers malam itu? Ah, untungnya mereka mendengarkan perkataanku untuk tidak melapor pada atasan apapun yang terjadi." Arsiel menghela napas, menengadah menatap langit ruangan.
Mereka menyudahi percakapan dan kembali melanjutkan kegiatan masing-masing. Arsiel bergegas mandi dan memakai setelan hitam yang sempat dia beli tadi malam. Setelah selesai dengan segala persiapan, mereka berjalan beriringan keluar dari hotel, berpisah tepat di ambang pintu.
Arsiel berdiri menunggu jemputan. Dia sudah menelepon markas beberapa waktu lalu untuk menjemputnya di tempat yang sudah dia tandai dalam pesan. Cukup lama gadis itu menunggu sampai merasa sedikit kesal.
"Apa mereka mengabaikanku hanya karena meminta izin untuk satu malam saja?" Arsiel mendengus kesal. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini sebelumnya.
Di tengah umpatan Arsiel yang terus keluar dari mulutnya, sekejap kemudian sebuah mobil bergaya mewah yang persis seperti mobil yang datang ke sekolahnya terakhir kali berhenti tepat di depannya. Kecepatan mobil itu membuat debu mengepul seperti ekor yang membuntuti. Seorang pria paruh baya keluar dari sisi pintu pengemudi dengan pakaian yang sedikit kusut dan tidak rapi.
"Mohon maaf atas keterlambatan saya. Tugas ini baru saya terima sekitar sepuluh menit yang lalu. Saya bergegas secepat yang saya bisa." Pria paruh baya itu menekuk lehernya, memberikan salam dengan sopan.
Arsiel mengangguk pelan. Jelas terlihat bahwa pria di depannya tidak mengatakan sebuah omong kosong sebagai alasan jika memperhatikan penampilannya yang berantakan. Arsiel berasumsi bahwa pria itu tidak sempat menata penampakan karena bersicepat untuk menjemputnya.
Pria itu membuka pintu penumpang, memberikan ruang pada Arsiel untuk masuk dan menyamankan diri. Setelah menutup pintu mobil dengan sempurna, pria itu kembali duduk di kursi pengemudi, membawa mobil melaju menyusuri jalanan kota menuju markas.
[Pesan Darurat kepada Agen A-09]
[Tujuan berubah dari markas utama menuju markas tunggal.]
[Seluruh agen dalam misi yang sama akan dikumpulkan pada satu tempat.]