I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Pertemuan dengan Ayah Kandung



"Begitukah? Lalu apa kita bisa menghabiskan waktu bersama sebelum kamu kembali ke makas?" Arland menelan ludah. Dia berhasil mengatakan kalimat yang sedari tadi tersendat di tenggorokannya.


Arsiel terdiam mendengar itu. Dia bingung dengan kalimat 'menghabiskan waktu bersama' yang terkesan sangat ambigu. Namun Arsiel menepis pemikiran yang tidak berguna itu.


"Aku tidak yakin. Aku harus tiba di rumah orang tuaku nanti malam." Arsiel menghela napas berat. Sangat enggan rasanya kembali ke tempat yang tidak menerima kehadirannya.


"Bukankah kamu bilang akan kembali ke markas?" Arland mengernyitkan keningnya, menatap bingung wajah Arsiel.


"Memang seharusnya begitu. Aku akan memberitahu markas bahwa aku akan telat selama beberapa hari. Ayahku tidak mungkin akan langsung melepasku pergi ketika aku sudah berada di sana." Arsiel mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.


"Aku akan menemanimu pergi ke sana." Arland spontan mengatan itu dan baru sadar dengan ucapannya beberapa saat kemudian.


"Kamu yakin? Tidak akan ada yang baik jika kamu ikut."


"Tentu saja aku yakin!"


\*\*\*\*\*\*


Angin malam yang kencang ikut menemani suara mesin yang membelah keheningan malam. Arsiel melingkarkan tangannya pada pinggang Arland, berpelukan dengan erat agar tidak jatuh ketika Aland melakukan manuver yang ekstrem.


Mereka menaiki motor yang Arland sewa khusus untuk malam ini. Modelan sepeti motor pria pada umumnya dengan bentuk yang agak ramping dan apik.


"Tidak perlu terlalu terburu-buru. Bagaimana jika kamu menabrak sesuatu?" Arsiel sedikit berteriak agar Arland mendengar suaranya di tengah gemuruh angin yang kian merebak ke telinga.


Arland tidak menghiraukan perkataan Arsiel dan terus menarik gas, membuat motornya melaju lebih kencang di lorong tanpa penghuni itu.


Beberapa menit berlalu begitu saja sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sederhana. Namun tidak seperti rumah sederhana pada umumnya, rumah ini dilengkapi oleh beberapa interior yang bisa dibilang mewah.


Tepat di teras rumah berdiri seorang pria paruh baya yang terlihat sedang menunggu kedatangan seseorang. Pria dengan kulit sawo matang dan kumis tebal yang tumbuh di permukaan kulitnya.


Pria itu menatap tajam pada Arland ketika mendapati putrinya memeluk seorang lelaki yang tidak dia kenal. Detik itu juga Arsiel menyesali keputusannya untuk menyetujui permintaan Arland.


Arsiel beranjak turun lebih dulu untuk menghampiri pria itu sedangkan Arland memarkirkan motornya di halaman rumah.


"Siapa lelaki di belakangmu?" Pria itu bertanya dengan nada angkuhnya.


"Dia temanku, ayah." Arsiel menjawab seadanya.


"Teman? Sejak kapan kamu mempunyai seorang teman?"


Arsiel ngerutkan dahi merasa heran. Rahangnya mengeras karena kesal mendengar perkataan ayahnya yang seolah merendahkan dia. Namun Arsiel memilih untuk tidak menghiraukannya, jika saja dilanjutkan mungkin akan memicu terjadinya perdebatan.


Karena merasa tidak didengarkan, pria yang di panggil dengan sebutan 'ayah' itu pergi masuk lebih dulu meninggalkan mereka begitu saja.


"Arsiel? Ada apa?" Arland bertanya dengan nada penasaran.


"Tidak ada." Arsiel menggelengkan pelan kepalanya.


"Kemarilah dan buka sepatumu."


Arland hanya menganggukkan kepala pelan sebagai jawaban. Kaki jenjangnya melangkah mendekati Arsiel lalu ikut mendudukkan diri di teras. Setelah selesai melepas sepatu, mereka dengan segera beranjak masuk ke dalam rumah.


Setibanya di ruang tamu mereka di sambut dengan tatapan yang tidak mengenakkan. Ayah Arsiel dan seorang wanita paruh baya sedang duduk di salah satu sofa panjang dengan tatapan yang mengarah ke arahnya.


Tatapan itu sontak membuat Arland merasa tidak nyaman berada di sana. Tetapi dengan segera Arsiel mencairkan suasana canggung dengan melempar sebuah pertanyaan yang sedari tadi tersimpan di benaknya.


"Apa yang ingin ayah sampaikan?"


"Jangan terburu-buru, duduklah dulu."


Arsiel dan Arland mendudukkan diri berhadap-hadapan dengan mereka. Cukup lama terdiam hingga pria itu kembali membuka suara.


"Bagaimana sekolahmu?"


"Seperti yang ayah lihat. Aku cukup merasa nyaman di sana."


Percayalah, kalimatnya itu penuh dengan dusta. Bahkan kehidupan sekolahnya tidak ada yang berubah, terkecuali dia memiliki satu teman baru dan satu partner baru.


"Jadi? Apa yang ingin kalian sampaikan?"


"Tidak banyak. Kami hanya ingin kamu kembali tinggal di sini." Wanita paruh baya itu membuka suara.


Suasana kembali hening. Arsiel sedang memikirkan sebuah jawaban yang tepat untuk menolak keinginan tersebut. Bagaimanpun dia tidak ingin kembali tinggal di rumah suram ini.


"Tidak, maksudku tidak bisa. Sekolah tidak memperbolehkan siapapun pergi jika sudah terdaftar di asrama."


Arland menatap cengo saat mendengar jawaban Arsiel. Alasan macam apa itu? Bahkan sekolah tidak pernah menerapkan peraturan seperti itu.


"Sekolah macam apa yang menerapkan peraturan seperti itu?!" Pria itu menaikkan nada suara merasa tidak percaya.


"Jika memang tidak bisa bagaimana jika kamu mampir saat akhir pekan tiba?" Kali ini wanita paruh baya bertanya dengan nada yang sedikit datar.


"Sebenarnya apa yang ingin kalian katakan? Jangan berbeli-belit dan langsung pada intinya! Aku yakin ada maksud tersembunyi atas permintaan kalian itu." Arsiel berdecak kesal. Dia sudah tidak tahan dengan gelagat mereka yang selalu berputar-putar tanpa langsung menembak pada intinya.


"Baiklah jika itu yang kamu mau. Sebenarnya kami ingin menjodohkanmu dengan seseorang."