I'M Not A Special Character

I'M Not A Special Character
Pertemuan dengan Black Card



Ruangan seluas satu lantai itu dipenuhi oleh ketegangan. Keringat dingin perlahan mengucur dari wajahnya.


"Saya mohon maaf. Ada beberapa kendala ketika menuju markas tunggal sehingga saya telah lancang membuat anda menunggu." Arsiel menelan ludah. Tanpa sadar lehernya menunduk semakin rendah.


Black card mengeraskan rahang, menatap gadis yang berlutut di hadapannya dengan air muka tidak senang. Dia sangat tidak menyukai jika ada anggota yang tidak menghargai waktu.


"Baiklah, aku maafkan untuk kali ini saja. Cepat duduk di tempatmu dan ikuti pertemuan ini dengan baik." Black Card melambaikan tangannya, memberi isyarat pada Arsiel untuk segera menyingkir dan menempati kursi yang tersisa.


Arsiel segera bangkit, melangkahkan kaki sedikit lebih cepat menuju kursi yang terletak tidak jauh dari tempat Marchel berada. Setelah tubuhnya berada di posisi yang sempurna, Arsiel segera mengalihkan pandangannya menatap Black Card, diikuti oleh tatapan agen lain yang mulai memusatkan fokus masing-masing.


Hening sejenak. Black Card terlihat sedang tenggelam dalam pikirannya, meski begitu tidak ada yang berani menegur. Semuanya hanya bisa menunggu. Sekilas mereka merasakan hal yang sama, yaitu mengenai lelaki kurus yang sedang menahan amarahnya.


"Apa agen generasi sekarang tidak dilatih dengan benar?"


Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Black Card sontak membuat mereka tertegun. Merasa antara marah dan kesal, atau perasaan semacamnya yang tidak bisa dijelaskan.


Kalimat itu berhasil membawa pikiran mereka kembali pada beberapa tahun yang lalu. Tahun-tahun ketika mereka menjalankan pelatihan keras dan sangat ketat. Mereka dilatih dengan metode yang diluar nalar dan diluar kemampuan mereka pada saat itu. Hari-hari yang dilewati bagai neraka.


Tentu saja mereka marah ketika Black Card mengatakan tentang pelatiahan yang tidak benar. Hati mereka memberontak ingin membantah ucapan itu, namun rasa takut berhasil membungkam mulut sehingga tidak bersuara sedikitpun.


"Yah, tidak mungkin level pelatihan menurun karena aku selalu mengawasi. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Apakah sekarang kalian menjadi pemalas dan menganggap misi sebagai lelucon belaka?" Black Card menghela napas berat, membuat napas para agen berhenti selama beberapa saat.


"Agen A-03, Gold Card. Sudah dua hampir dua tahun kamu berada di misi yang sama. Tapi kenapa sampai sekarang belum memberikan hasil yang memuaskan? Aku sampai harus memberimu rekan untuk menyelesaikan misi." Black Card menatap tajam ke arah Marchel, membuat lelaki di samping Arsiel itu diam membeku.


"Lalu kalian, Agen B-11 dan B-15. Kalian malah lebih parah daripada lelaki bajingan tadi. Aku hanya memberikan misi yang sangat mudah, tapi kalian butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikannya. Apa kalian bercanda denganku?" Black Card mengerang pelan.


Agen yang tersisa hanya bisa pasrah menunggu giliran mereka, namun tiba-tiba Black Card membanting gelas yang sedari tadi dipegang olehnya. Suara itu menyebabkan semua agen terkejut disaat yang hampir bersamaan. Mereka tidak berani untuk tidak bergeming. Bahkan beberapa sampai menahan napasnya.


"Kalian benar-benar membuatku merasa kesal." Black Card mengepalkan tangannya. Urat-urat di beberapa bagian tubuhnya mulai menonjol dari balik kulit. Wajahnya terlihat merah padam dengan deru napas yang terdengar memburu.


Tidak lama setelah itu, Black Card kembali tenang. Dia menyapu paras dengan kasar mencoba mengendalikan diri agar tidak sampai melewati batasan.


"Baiklah, terserah saja! Aku akan memberikan misi baru pada kalian. Lalu di misi ini aku tidak ingin mendengar adanya kegagalan sedikitpun. Kemungkinan persentase keberhasilan misi kali ini tidak boleh berada di bawah sembilan puluh persen." Black Card beranjak berdiri dari singgasana, berjalan melewati tengah-tengah deretan agen yang saling berhadapan.


"Jika kalian sampai gagal, akan aku jamin hukuman mati adalah hal yang setimpal." Lelaki kurus itu mendaratkan tatapan mengancam pada setiap agen yang berada di dekatnya.


"Mohon maaf atas kelancangan saya, Master. Tapi bukankah hukuman itu terlalu berlebihan?" Salah satu agen lelaki yang tidak berasal dari numbers mengajukan keberatan. Entah apa yang dipikirkannya saat ini, tapi seluruh perhatian teralihkan, tidak terkecuali dengan Black Card sendiri.


"Apa bajingan ini baru saja berbicara padaku?" Black Card menoleh pada asal suara. Tatapan yang diarahkan oleh Black Card mampu menyadarkan agen lelaki itu bahwa dia sudah melakukan kesalahan yang sangat besar.


Black Card berjalan ke arahnya dengan langkah yang berat. Sejenak terlintas di pikiran agen itu untuk melarikan diri, namun rekan disampingnya memgang pergelangan tangan sambil menggeleng pelan seolah tahu apa yang sedang dipiirkan olehnya.


"Saya mohon maaf. Saya sangat berharap Master memberikan sedikit belas kasihan pada saya." Sontak agen itu membungkukkan badannya. Napasnya mulai berada dalam tempo yang tidak beraturan. Jantung yang berdegup kencang berhasil mengeluarkan keringat dingin di wajahnya.


Black Card menarik rambut agen itu dengan kasar, menatap langsung mata coklat dari lubang topeng.


"Baiklah, harus aku apakan si berengsek ini?"