
Suasana di dalam sebuah lapangan kosong bekas konstruksi terasa sedikit menegangkan. Arsiel mengikat tubuh pria rubah pada tiang besi yang berdiri kokoh di sana. Mulut pria rubah dijejali oleh kain seadanya untuk menghindari lelaki itu mengeluarkan suara.
"Baiklah, Tuan Dadu Kedelapan. Haruskah kita memulai dari identitas anda terlebih dahulu?" Arsiel menarik salah satu ujung bibirnya, membuat pria yang berada di depannya saat ini menjadi sangat marah.
"Mr. Alexe Jacob, berusia 27 tahun dan sudah pernah menikah. Sayangnya anda membunuh satu-satunya istri anda ketika dia baru saja mengandung anak anda sendiri. Sungguh manusia biadab." Arsiel menampar pipi pria rubah alias Jacob dengan keras hingga mampu membuat wajahnya berpaling ke arah lain.
"Melihat reaksi anda tanpa adanya rasa bersalah sedikitpun waktu itu membuat saya merasa iba. Bagaimana bisa wanita sepertinya jatuh kedalam pelukan penuh duri." Arsiel merasa kesal untuk sesaat sebelum kembali menampar sisi lainnya. Setelah menerima tamparan keras untuk kedua kalinya pria rubah semakin murka.
Arsiel memejamkan mata untuk mengatur emosinya, entah mengapa dia ikut terbawa saat membayangkan nasib malang yang menimpa wanita itu. Bagaimana bisa pria biadab ini tega melakukan hal keji kepada darah dagingnya sendiri? Sungguh manusia serakah!
"Memang ciri khas Agen A-09, sangat cepat dalam mengorek informasi. Tidak heran jika kamu bisa menjadi silver card dalam waktu dua tahun." Marchel terkekeh pelan menatap punggung Arsiel.
"Aku akan mengambil keperluannya." Arland berlari menuju pojok lapangan, dengan tergesa dia menghampiri sebuah koper krisbow dan beberapa kertas yang telah disiapkan. Pergerakannya tidak lepas dari tatapan mata Arsiel, dia seolah menunggu Arland kembali dengan membawa koper juga kertas bersamanya. Setelah Arland menaruh koper itu tepat di samping Jacob tangannya terjulur memberikan kertas pada Arsiel.
Secara mendadak suasana menjadi sunyi. Dengan telaten Arsiel menyusun berkas informasi yang dia kumpulkan beberapa waktu yang lalu. Kertas itu bukan hanya sebuah kertas biasa, butuh waktu berjam-jam untuk mengumpulkan beberapa lembarnya. Setelah tersusun sesuai dengan tahunnya Arsiel kembali memfokuskan tatapannya pada Jacob.
"Sudah lama saya tidak melakukan hal seperti saat ini. Saya berharap anda dapat bekerjasama agar semua ini cepat berakhir." Setelah menyelesaikan kalimatnya Arsiel menjulurkan tangan ke arah Arland. dengan segera Arland mengeluarkan memory card yang dia simpan lalu menyerahkannya ke tangan Arsiel.
"Mr. Fox. Tidak, lebih tepatnya Jacob, ancaman kami bukan omong kosong belaka. Jika anda menolak untuk bekerja sama dengan kami, maka dengan senang hati semua kedok anda akan saya bongkar. Kertas dan benda ini menyimpan segala rahasia yang anda kubur selama bertahun-tahun lamanya." Arsiel menggoyang-goyangan kertas yang berada di tangannya, menatap Jacob dengan penuh ancaman. Kemudian dia menarik kasar kain yang menyumbat mulut Jacob agar pria itu bisa berbicara.
"Apa yang kalian inginkan?" Dengan suara yang bergetar akibat menahan amarah, Jacob berusaha untuk memastikan kepalanya tetap dingin supaya tidak menimbulkan kesalahan.
"Sederhana saja. Bekerjasama dengan kami dan menjalankan semua perintah dari kami." Marchel yang sedang berada di balik punggung Arsiel menjawab dengan nada angkuh khas miliknya.
"Lalu apa yang kalian rencanakan dengan itu?" Jacob kembali melontarkan pertanyaan untuk memastikan jalan seperti apa yang akan ditapaki olehnya nanti.
"Maaf, tapi anda tidak memiliki hak untuk mengetahui hal itu. Anda cukup menjadi anjing kami yang penurut, maka semua rahasia anda akan aman bersama kami." Arsiel menepuk pelan pipi Jacob, lalu mundur dan digantikan oleh Marchel.
"Tuan, saya juga memiliki sesuatu yang spesial untuk anda. Apa anda bisa menebaknya? Itu adalah keahlian saya." Marchel menyipitkan mata dengan senyum tipis di wajah liciknya. Jacob mengerang pelan. Dia benar-benar merasa sedang dipermainkan.
"Apa ini? Seorang Mr. Fox yang selalu memberikan penjelasan seperti tali kusut tidak suka jika diperlakukan dengan hal yang sama?" Marchel mengangkat salah satu alisnya sambil memberikan sedikit cibiran ringan.
"Tuan Mikhael, saya harap anda bisa mempercepatnya." Arsiel memberikan peringatan pada Marchel untuk segera memulai pada topik utama.
"Baiklah, baiklah! Saya akan menembak pada intinya. Tuan Jacob, seperti yang anda tahu bahwa saya sebenarnya sudah menjadi diamond card jika saya mau dan card itu lebih tinggi dari anda. Menurut anda kenapa saya bisa sampai ke puncak dengan cepat?" Marchel memegangi dagu Jacob dengan tangan kanannya, sementara tangan yang lain mengeluarkan sebilah pisau lipat kecil dari dalam saku.
"Jawabannya sederhana, karena saya suka melakukan ini." Marchel dengan kasar menggores leher Jacob dengan pisau kecil di tangannya. Jacob sedikit mengerang, bukan karena sakit melainkan karena terkejut dengan yang dilakukan oleh Marchel barusan.
"Lihat? kejutan yang sangat spesial bukan? Jika anda menolak untuk merendah dan menjadi anjing kami, maka saya bisa melakukan yang jauh melebihi ini." Marchel terkekeh dengan ekspresi gilanya saat ini.
Jacob menelan ludah. Dia sadar instingnya mengatakan bahwa lelaki yang saat ini berada di depannya sangat berbahaya. Tidak ada pilihan lain untuk saat ini selain menyetujui pemintaan mereka.
"Baiklah, saya akan bekerjasama dengan kalian."
"Tidak, tidak! Bukan bekerjasama, tapi menjadi anjing kami. Ulangi lagi dengan benar." Marchel membulatkan matanya, menatap tajam pada Jacob. Melihat tatapan tidak biasa itu membuat Jacob hanya bisa menjadi anjing yang penurut.
"Saya akan menjadi anjing yang setia dan penurut. Saya tidak akan mengkhianati majikan saya." Jacob mengatakan itu dengan berat hati.
"Lalu apa bayarannya jika seekor anjing berani melanggar perintah majikan atau memilki lebih dari satu majikan?" Marchel kembali melontarkan pertanyaan itu dengan penekanan yang berat pada ucapannya.
Arland hanya bisa bergeming melihat kejadian yang berlangsung tepat di hadapannya. Dia tidak bisa berkata-kata dan tidak bisa bergerak ketika melihat cara Arsiel dan Marchel menjalankan ancaman mereka. Apalagi ditambah dengan kelakuan Marchel yang tanpa ragu menggores leher orang lain.
"Ternyata mereka benar-benar pandai bersandiwara." Arland bergumam pelan ketika mengingat bayangan keduanya sebelum dia mengenal identitas asli mereka.
"Saya akan merima hukuman apapun." Jacob kembali menelan ludah. Dia mulai bepikir kalau mungkin jalan yang dia pilih adalah jalan menuju neraka.
"Bagus, anjing pintar! Sekarang saya akan memberikan misi pertama padamu."