
Arland menahan napas menatap bangunan setengah jadi di depannya. Menurut Marchel alias Mikhael yang bersama dengannya saat ini, bangunan itu dibangun khusus untuk Gerryn. Arland masih belum mengerti untuk apa membangun bangunan setengah jadi seperti itu. Tempatnya sekarang berada hanya terlihat biasa saja, tidak ada yang mencurigakan.
Mereka terus berjalan mendekati tangga menuju lantai di atasnya. Arland hanya mengekor tanpa banyak bertanya. Betapa terkejutnya Arland saat mereka tiba dilantai dua. Bangunan ini memang terlihat usang seolah ditinggalkan begitu saja. Namun siapa sangka bangunan ini ternyata menyimpan banyak kejutan.
Tepat di tengah-tengah ruangan terdapat jeruji besi berkarat dengan rantai panjang yang mengelilinginya akan tetapi tidak selayaknya jeruji biasa, jeruji ini dibuat dengan ukuran yang hanya pas di tempati oleh satu orang. Benar-benar sempit membuat Arland merasakan sesak jika dia membayangkan masuk kedalam sana.
Jika diperhatikan lebih baik pada bagian dalam jeruji terdapat tulang belulang manusia lengkap dengan tengkoraknya. Arland yang baru saja melihat penampakan itu langsung menelan ludahnya kasar.
Marchel berjalan mendekati jeruji besi berkarat, sedangkan Arland bergeming di tempatnya. Setelah berada tepat di depan jeruji Marchel membalik badan menatap Arland. Raut pucat pasi yang ditunjukkan Arland tidak luput dari penglihatan Marchel.
"Ada apa dengan ekspresi wajahmu itu?"
"Tempat sialan macam apa ini?!" Setelah lamanya Arland tertegun menatap jeruji besi, akhirnya dia berani membuka suara bertanya untuk kedua kalinya karena merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Sudah saya jelaskan tadi, bukan? ini adalah tempat yang memang khusus dibangun untuk gadis itu." Marchel menatap bosan pada Arland, dia berpikir Arland mengerti niat terselubung mengajaknya ke tempat ini.
"Lantas apa hubungannya tempat ini dengan memberitahu alasan mengapa Gerryn menjadi targetnya?! jangan mempermainkan aku dasar brengsek!" Arland sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya, orang didepannya terlalu banyak basa-basi tidak langsung pada intinya.
"Tentu semuanya berhubungan. Bukankah lebih baik jika saya memberitahu kebenaran di tempat kejadian secara nyata?" Marchel kembali menunjukkan seringaian terkutuknya.
"Jangan banyak omong kosong! Aku tidak memiliki banyak waktu yang tersisa hanya untuk mendengarkan ocehan!" Arland mengeraskan rahangnya, menatap Marchel dengan jengkel.
"Baiklah, dengarkan ini baik-baik." Marchel merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah tape dan alat pemutar tape, tidak lupa juga dengan earphone yang ikut keluar dari saku besar di jas Marchel.
Arland menerima itu, memasang earphone dengan nyaman dikedua daun telinganya.
Tape diputar.
Zzzzttttt!!
.........
["Tolong maafkan aku! Maaf untuk sekali ini saja! Aku akan melakukan apapun yang kamu mau!"]
Terdengar suara wanita tua yang sedang memohon dengan diiringi suara tangisan.
[BRAAAK!!!]
["Kamu pikir aku orang yang bodoh, huh? Kamu menyembunyikan uang itu untuk cucumu tanpa sepengetahuanku! Dasar tua bangka sialan!"]
Suara seorang gadis yang tidak asing ditelinganya membuat Arland membelalak seketika. Dia mengenal pemilik suara itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Gerryn.
["Aku tidak mau tahu. Kamu harus menggantinya atau membayar semua uang itu dengan menjual bagian tubuhmu!"]
["Aku tidak mengambilnya sebanyak itu!"]
Suara isak tangis kembali terdengar. Arland yang mendengar itu spontan menutup wajah dengan telapak tangannya. Apa yang dia dengar saat ini, sungguh Arland tidak ingin memercayainya. Tapi ini adalah bukti, sebuah bukti yang tidak bisa dibantah olehnya.
Hening sejenak.
Kemudian suara tape kembali hening selama beberapa saat. Seperti sebuah jeda sebelum masuk ke rekaman selanjutnya.
["Hei, hentikan itu! Kamu terlalu melewati batasanmu!"]
Kali ini suara seorang gadis yang tengah berteriak terdengar dari speaker earphone hingga ditangkap oleh pendengaran Arland.
["Kamulah yang sudah melewati batas!"]
["AAARRGHHH!!"]
Setelah suara Gerryn terdengar, kemudian disusul oleh suara erangan seorang lelaki yang terdengar sedang kesakitan.
["Tidak! Tidak! Lepaskan dia! Apakah kamu masih manusia?"]
["Panggil aku sesuka hatimu. Ini adalah pekerjaanku!"]
Setelah itu rekaman tape berada pada ujungnya. Meski Arland tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi Arland dapat menyimpulkan satu hal. Sebuah kesimpulan yang mengatakan bahwa Gerryn bukanlah gadis yang selama ini dia kenal.
Lalu Arland kembali mengalihkan perhatiannya pada jeruji yang berada di belakang Marchel, menatap tumpukan tulang belulang di dalamnya sembari terus memutar ulang rekaman suara tadi di dalam kepalanya.
Seketika Arland merasa mual, namun dia berusaha menahannya. Daripada itu, Arland perlu menanyakan beberapa hal pada orang yang kini berada di depannya.
"Suara yang seperti milik Gerryn itu mengatakan bahwa yang di lakukan adalah pekerjaannya. Sebenarnya pekerjaan seperti apa itu? Dan darimana kamu bisa mendapatkan rekaman suara ini?" Arland menatap Marchel menyelidik. Namun, Marchel membalas tatap itu dengan dengusan dan kekehan pelan.
"Kamu tidak perlu tahu apa pekerjaannya. Yang sudah pasti disini adalah mengenai kepantasan gadis itu sebagai target kami. Lalu kamu bertanya darimana aku mendapatkan rekaman itu? Lucu sekali." Marchel menutup mulut dengan jari tangannya, menatap Arland dengan mata yang menyipit. Tatapan dan sikap seperti itu bukanlah sikap dari anak SMA biasa.
Melihat Marchel membuat Arland beringsut mundur. Setiap gerak-gerik Marchel selalu membuatnya semakin merasa waspada.
"Bagian mana yang terasa lucu dari itu?"
"Kamu! Kamu yang lucu disini. Bagaimana kamu bisa lupa bahwa aku adalah seorang agen? Apakah menurutmu menjadi agen itu bisa dilakukan oleh sembarang orang? Kami dilatih khusus untuk hal-hal semacam ini. Pertanyaanmu selain membuatku kesal tapi juga terdengar sangat konyol." Marchel meludah tepat di depan Arland.
"Sekarang tepati janjimu."
"Bagaimana jika aku mengingkarinya?"
"Yah, aku tidak akan banyak bicara. Kamu hanya perlu menunggu hal buruk yang akan menimpamu." Marchel mengeluarkan sebatang rokok dari saku jasnya lengkap dengan sebuah korek api.
Arland hanya bisa bergeming dengan itu. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Marchel atau seberbahaya apa lelaki itu. Arland tidak ingin mengambil resiko, tapi dia juga tidak ingin mengorbankan Arsiel hanya demi keegoisannya.
Hening untuk beberapa saat. Tidak ada percakapan apapun yang terdengar selain suara Marchel yang tengah menghirup asap rokoknya.
"Baiklah, keputusannya tetap ada padamu. Aku sudah memenuhi janjiku, dan jika kamu berani mengingkari janji yang sudah disepakati, maka terima akibatnya sendiri." Marchel membuang puntung rokoknya di sembarang tempat, tetap membiarkan ujung rokok menyala. Dia berjalan meninggalkan Arland tanpa menoleh ke arahnya sedikitpun.
Arland tetap mematung. Dia hanya menatap punggung Marchel dari kejauhan. Tidak ada satupun yang menyadari bahwa percakapan mereka telah bocor pada telinga Arsiel.
"Apa yang sedang kamu rencanakan, Tuan Mikhael?"