
WARNING!!
Bab ini mengandung adegan yang tidak pantas untuk beberapa kalangan tertentu. Harap bijak dalam membaca! Adegan dalam bab ini tidak diperbolehkan untuk dipraktikkan dalam dunia nyata. Seluruh kejadian murni hasil imajinasi penulis semata.
~~~
Ruangan luas yang dipenuhi oleh kegelapan membuat seorang perempuan yang berada di dalam sana merasakan ketakutan dan kegelisahan yang tidak dapat dijelaskan. Lalu secercah cahaya menyeruak memasuki ruangan dari balik pintu yang tengah di dorong dari luar, memperlihatkan dua sosok yang berjalan mendekatinya.
Lampu dihidupkan. Ruangan gelap gulita itu kini dipenuhi oleh cahaya yang terang. Berbagai macam benda yang asing bagi perempuan itu terpampang dan tertata dengan rapi di dinding ruangan.
Orang-orang yang tadi membawanya ke ruangan ini mendekat, kembali membawa tubuh perempuan itu untuk terbaring di atas kasur kayu. Tangan dan kakinya diikat menyatu sehingga dia tidak dapat bergerak sedikitpun.
Dengan ini dia tahu nasib seperti apa yang sudah menantinya. Dia berpikir bahwa ruangan yang sedang menahannya adalah ruang penyiksaan dan dugaan itu diperkuat oleh ucapan Mikhael yang mengatakan untuk membawanya ke ruang teratu atau disebut juga dengan ruang penyiksaan.
Perempuan itu mencoba memberontak, namun tenaganya tidak mampu untuk menghancurkan tali yang mengikatnya saat ini. Dua agen yang bertugas untuk interogasi tidak lain adalah Harwich dan Mikhael, jika memakai nama asli mereka.
"Apapun yang kalian lakukan, aku bersumpah tidak akan membuka suara!" Perempuan itu memekik, menampakkan wajah yang tidak bersahabat.
"Terserah saja! Berbicaralah sesuka hatimu, karena kami tidak akan menanyakan apapun." Harwich beralih mengambil dua kursi lipat yang tergeletak tidak jauh dari sana, membawa kursi itu ke tempat sebelumnya.
Harwich menyerahkan satu kursi pada Mikhael, mereka duduk di dua sisi gadis itu. Harwich duduk di samping kanan dan Mikhael duduk di samping kiri. Perempuan itu menahan napas karena mereka duduk sangat dekat dengannya.
Meski mereka bilang tidak akan menanyakan apapun, tapi perasaan perempuan itu justru lebih tidak karuan ketika mendengar hal gila seperti ucapan gadis di samping kanannya.
Harwich mengambil sebuah alat seperti pisau dalam ukuran yang sangat kecil. Ujung pisau itu tidak meruncing, hampir mirip seperti pisau pemotong kue. Disisi lain, Mikhael memegang alat yang sangat besar, berkebalikan dengan Harwich yang mengambil alat mini.
"Menurutmu, sampai kapan perempuan ini akan bertahan?" Mikhael melontarkan pertanyaan pada Harwich yang kemudian dibalas dengan dengan senyuman kecil oleh gadis itu.
"Entahlah. Ruangan ini adalah tantangan terberat untuk menguji kesetiaan. Jika perempuan di depan kita memang setia menjadi anjing pesuruh, seharusnya dia akan terus bertahan sampai akhir. Meski saya sendiri berharap dia membuka mulutnya." Harwich terkekeh diakhir kalimat.
"Bukankah itu tumpul? Bahkan mata pisau itu tidak mampu memotong rambut." Mikhael menatap heran pada Harwich yang memilih alat tidak berguna.
"Rasa sakit yang disebabkan oleh benda tumpul akan berkali lipat dibandingkan benda tajam. Waktu mengiris juga akan lebih lama, jadi alat seperti ini sangat cocok untuk orang sepertinya." Harwich tersenyum. Tangannya mulai meraba lengan perempuan itu dengan lembut.
"Wah, padahal saya yakin ini pertama kalinya bagimu berada dalam keadaan sepeti ini. Tapi sudah terlihat lebih profesional dari pada saya yang sudah menjalankan ini lebih dari satu tahun?" Mikhael tertawa keras. Dia mengangkat alatnya dengan sedikit bertenaga.
Alat yang dipegang oleh Mikhael terlihat seperti sebuah tongkat baseball, namun permukaannya dipenuhi oleh duri-duri halus. Mikhael mengangkat tongkat itu tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya dan mendarat tepat pada pinggiran kasur kayu yang sebelumnya masih apik hingga terbelah awur.
"Sepertinya benda ini terlalu berlebihan sebagai pemanasan." Mikhael mendengus pelan. Dia tidak bisa menggunakan benda itu, karena target mereka bisa saja mati lebih cepat.
Harwich tidak menghiraukan Mikhael dan terus fokus pada lengan di depannya. Perlahan dia mengiris permukaan lengan itu dengan sangat hati-hati. Sedangkan perempuan yang tengah berbaring berusaha keras menahan suaranya agar tidak keluar.
Mikhael hanya bisa terdiam melihat itu. Entah kenapa tersirat sedikit rasa waspada terhadap gadis yang sedang mengejami dengan wajah datar.
'Tidakkah dia terlihat sedikit menakutkan?' Mikhael bergumam dalam hati. Dia beranjak mengambil sebuah gunting linggis berukuran sedang, kemudian kembali pada tempat duduknya.
Perempuan yang terbaring itu melirik pada Mikhael dan deru napasnya menjadi semakin kencang. Dia menggeleng-gelengkan kepala. Gunting linggis adalah alat yang umum digunakan untuk mencabut kuku satu persatu.
"Kenapa menggeleng seperti itu? Tenang saja. Selagi kamu menutup mulut, kami akan meningkatkan level kesulitannya seiring berjalannya waktu." Mikhael tersenyum lembut, membuat perempuan itu bergidik ngeri.
"AAARRGGHH!!!"
Sebuah teriakan terdengar ketika Hawich mempercepat tempo gerakannya, membuat lengan perempuan itu memanas dan terkikis perlahan.
"Berisik sekali. Haruskah saya memotong pita suaramu terlebih dahulu?" Harwich berhenti dengan lengan dan menatap wajah yang terbaring itu dengan tajam.
"Jika pita suaranya dipotong, bagaimana caranya memberikan informasi kepada kita?"
"Tinggal pasangkan alat yang bisa membaca pikirannya, kan?"
"Jika organisasi memang memiliki sesuatu seperti itu, maka kita tidak perlu merepotkan diri dengan melakukan hal seperti ini." Mikhael mendengus, melukiskan senyum tipis di permukaan wajahnya.
"Benar-benar menjengkelkan!" Harwich mengeraskan rahang, beralih menatap Mikhael yang masih belum melakukan tugasnya.
"Baiklah, ketika saya sudah bergabung, maka rasa sakitnya akan bertambah. Mohon untuk mempersiapkan diri dan motivasi yang cukup untuk tetap menutup mulut." Mikhael kembali melukis senyum, tapi kali ini bukan senyuman ramah yang dia tunjukkan melainkan seringai kejamnya.
"Dasar manusia iblis!!" Dengan suara yang mulai serak perempuan itu sedikit berteriak memaki mereka.
"Iblis? lantas perilaku lancangmu itu di sebut sebagai apa?! Dasar bajingan." Harwich berdecih pelan sambil melayangkan tatapan tajam kearahnya.
Tatapan Harwich dialihkan kembali untuk menatap lengan yang sudah tergores lumayan dalam Sedangkan Mikhael sibuk memilah kuku mana yang akan dia cabut terlebih dahulu. Setelah memutuskan pilihannya dengan perlahan Mikhael menghimpit kuku perempuan itu.
"AAAAKKHH!!"
Teriakan kencang kembali memenuhi seisi ruangan ketika secara bersamaan Harwich berhasil menyayat lengan itu hingga berdarah. Tepat setelahnya tangan Mikhael dengan gerakan cepat menarik gunting hingga kuku itu terlepas dari tempatnya. Tarikan itu mampu membuat darah segar merembes keluar dari sana.
Rasa sakit yang dirasakan membuat si perempuan kehilangan banyak tenaga. Tangannya mulai gemetar menahan sakit. Bola matanya juga bergetar hebat. Bahkan dia kesulitan hanya untuk menarik napas panjang.
"Harap tenang, karena kami baru saja memulai. Akan ada banyak kejutan yang menunggu setelah ini, Nona." Mikhael mengelus lembut punggung tangan perempuan itu.
"Haruskah kita menutup mulutnya? Teriakannya sangat menggangu."