
Amira mengerjap ngerjapkan mata nya
" kau sudah bangun"
Tanya Amira yang membuat Byan melongo kesal
" eh.. bukan kah kau sudah melihatnya.. aku dimana.. kenapa aku disini.."
Byan melihat dirinya lalu melihat sekeliling.
cih.. lihatlah sikap dia.. menyebalkan sekali..
" Anda di toko ku.. sepertinya sepeda motor anda menabrak mobil ku yang terparkir di depan.. bukankah begitu..?"
Byan mencoba mengingat nya.. tapi rasa sakit di kepala dan sekujur tubuh nya lebih mendominasi hingga ia meringis memegang kepalanya menahan sakit..
" euh.. kepala ku sakit sekali.. perut ku sangat mual.. bisakah aku menggunakan kamar mandi mu.."
Dia memegang perut dan mulutnya menahan rasa mual nya..
"e.. euhh.. baiklah.. ayo cepat ikuti aku.."
Amira bergegas bangun..
" Bisakah kau berjalan sendiri..?"
Dia mengulurkan tangan nya pada pria itu untuk membantu nya terbangun.. setelah terbangun Amira mencoba membopong nya tetapi pria itu menepisnya.
" Tidak usah trimakasih.. sepertinya aku mampu berjalan sendiri.. tunjukkan saja jalannnya.."
Mereka melewati barisan sepatu dan baju di toko tersebut.. ruko Amira terbilang cukup luas bahkan di lantai bawah masih ada gudang stok barangnya, ruang istirahat dan kamar mandi jika dia sedang malas naik ke atas..
Byan melewati ruang istirahat yang lumayan luas terdapat sofa dan televisi yang lumayan besar dan satu hal yang membuat dia tertarik adalah foto keluarga yang cukup besar..
*P*ria yang di foto itu sepertinya tidak asing..
Dia melirik Amira yang berjalan di belakang nya..
Amira berfikir Byan melirik nya karna ingin mengetahui letak kamar mandi nya
" Itu di sana tuan silahkan.."
Amira membuka kan pintu kamar mandi nya..
Byan membasuh muka nya.. dan melihat pantulan nya di cermin.. dia berfikir keras..
Sementara di luar Amira mondar mandir di depan pintu karna Byan sangat lama dan tak ada suara apapun..
" Tuan apakah anda baik baik saja..? apakah anda membutuhkan sesuatu..? "
Amira memberanikan diri mengetok pintu kamar mandi nya..
iss kenapa dia lama sekali.. apakah terjadi sesuatu.. haduuhhh aku sangat takut.. bagaimana kalau dia mati di dalam.. mungkin kah aku jadi tersangka.. aku takuut.. baiklah gedor lagi..
" Tuan anda sedang apa.. saya masuk ya.."
Ceklek..
Byan membuka handle pintu dengan sebelah tangan menopang kepala nya.. terlihat dia meringis kesakitan..
Tuh kan pasti terjadi sesuatu dengan nya.. apa yang harus aku lakukan.. aku sangat menyesal tak membawa nya ke rumah sakit..
" Tuan apa yang anda rasakan.. ayo duduklah.. istirahat kan saja dulu disini.. "
Amira membopong tubuh pria itu dan mendudukan nya di sofa depan foto kelurga nya..
Sepertinya aku harus memulainya sekarang..
" itu foto keluaga mu..? "
Byan menunjuk foto itu
"Ya tuan.. kenapa memang nya..?"
kenapa juga dia bertanya foto bukan nya menanyakan kecelakaan
"e.. euh.. sepertinya aku tidak ada di foto itu.."
cih sial kenapa aku bertanya seperti itu.. aku sangat gugup.. biar lah bodoh bodoh deh sekalian..
*K*enapa dia bertanya begitu apa dia lupa.. atau hilang ingatan..
" tentu tuan anda tidak ada disitu.. karna anda bukan keluarga saya.. bukankah saya tadi mengatakan kalau anda menabrak mobil saya.. apakah anda lupa..? lalu siapa nama anda.. kenapa anda tidak membawa identitas apapun saat berkendara..? "
" euh.. benarkah saya tidak membawa identitas.. lalu saya siapa..? "
Byan memasang wajah se bodoh mungkin..
aaaaahhhh bagaimana ini.. benarkah dia lupa... bagaimana kalau dia benar benar hilang ingatan.. tuhaaaannn... tolong lah.. bagaimana dengan mobil ku.. apa aku mengusirnya saja.. aaahhh apa aku setega itu... hiks hiks.. aduuuhh aku bingung