Hilang

Hilang
Bab 47 : Naira dan Naiza



"Honey, dengarkan aku! Di dalam perutku ini ada dua bayi kita. Aku tidak mungkin akan bermain-main dengan pernikahan kita. Aku janji. Maka dari itu honey harus tetap berada disini," ucap Zara sambil menggenggam tangan Juna.


Juna melihat wajah Zara yang nampak tidak berbohong. Guratan-guratan penyesalan terlihat diwajah Zara. Juna menganggukan kepala lalu tersenyum.


"Aku akan memberimu kesempatan ketiga. Kau harus berjanji supaya tidak akan mengulangi kesalahan pertama dan kedua waktu itu. Aku mencintaimu dan sangat menyayangi bayi kita," jawab Juna.


Zara menangkup wajah suaminya dan memberikan kecupan dibibir Juna. Zara sangat berterima kasih kepada Juna karena sudah sabar dan mau menerima Zara lagi.


Juna membawa Zara masuk kamar. Dia mendorong kursi roda dengan pelan. Hati bocah itu semakin senang dan ia merasa kedua bayi dalam perutnya menendang dengan kuat.


"Honey, si kembar nendang-nendang. Kenceng banget," ucap Zara antusias.


Juna lalu berjongkok di depan Zara dan menempelkan telinganya diperut Zara. Hatinya terasa tersentuh dan ia secara tidak sadar meneteskan air mata.


"Maafkan papa yang tidak menemani kalian," ucap Juna.


Zara mengelus kepala Juna. Dia juga ikut menangis karena sebentar lagi mereka akan menjadi orang tua.


Mama mengintip dari balik tembok, ia senang jika mereka kembali bersama.


Semoga saja ini awal kebahagiaan mereka. Semoga saja setelah ini tidak ada masalah diantara mereka.


Selama 4 bulan ini aku terus mengomeli Zara sampai bocah itu bosan. Tapi pada akhirnya Zara sadar jika perbuatannya sangat salah.


Juna mendorong kursi roda Zara masuk kamar. Dia membantu Zara untuk berbaring di tempat tidur. Perut Zara yang sangat besar membuat gadis itu tidak bisa bergerak leluasa.


"Zara, selama kau hamil ada keluhan?" tanya Juna.


"Ini honey bertanya sebagai dokter atau sebagai suami?" ucap Zara.


Juna tersenyum. Dia mengelus pipi Zara. "Aku bertanya sebagai suamimu, sayang"


"Aku selalu sesak nafas, honey. Kakiku juga sangat bengkak jadinya Zara gak bisa jalan"


"Maafkan honey, sayang! Gara-gara honey kau jadi seperti ini," ucap Juna menyesal.


Zara menggelengkan kepala. Justru ia sangat senang dengan kondisinya sekarang. Dia menjadi banyak belajar bagaimana cara menjadi seorang ibu yang baik, yang tak pernah mengeluh dan selalu sabar.


"Terima kasih," ucap Juna sambil mengecup tangan Zara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alurnya aku cepetin ya gaes ;)


1 bulan kemudian.


Zara dilarikan ke rumah sakit setelah ia merasakan sakit perut. Dia terus saja menangis karena semakin lama sakit perutnya semakin sering.


Juna selalu berada disamping Zara, dia selalu memberikan semangat untuk sang istri tercinta.


Hati Juna terasa sakit ketika Zara sudah menyerah akan rasa sakitnya. Juna terus saja memberikan semangat.


"Sakit sekali, honey. Aku gak kuat," ucap Zara.


"Kau bisa sayang. Kau sudah melewati 9 bulan dengan susah payah. Kau pasti bisa melewati seharian ini. Aku ada disini menemanimu. Bayangkan tangisan anak kita menggema di ruangan ini! Pasti kita begitu bahagia," jawab Juna.


Kini Zara berada di ruang operasi. Karena umurnya yang masih belia dan beresiko untuk melahirkan normal maka ia harus menjalani operasi caesar apalagi ia mengandung dua bayi kembar.


Operasi caesar dilakukan selama berjam-jam. Juna masih setia disamping Zara dan mengelus kepala Zara. Tangisan Zara sudah mulai berkurang dan kini ia bisa tersenyum saat Juna menyanyikan lagu untuknya.


Zara menggenggam tangan Juna begitu erat. Hampir setahun mereka menikah sudah melalui banyak kejadian tidak terduga.


Aku baru menyadari satu hal jika suamiku sangat sayang kepadaku. Aku menyesal jika aku pernah mempermainkan perasaannya. Aku berjanji tidak akan seperti itu lagi.


Jam demi jam berganti. Juna masih asyik mengajak mengobrol Zara supaya ia bisa mengalihkan pikiran Zara.


Gadis itu tertawa ketika Juna menceritakan kisah terlucunya sampai mereka mendengar suara tangisan bayi.


"Oeeee... oeee... oeeee..."


"Honey itu suara siapa?" tanya Zara.


Dokter memberikan bayi pertama ke dada Zara. Zara meneteskan air mata ketika melihat bayinya.


Juna membantu Zara untuk membuka kancing baju Zara lalu ia membantu bayinya untuk minum asi pertamanya.


Bayi perempuan itu nampak malu untuk membuka matanya. Dia meminum asi dengan kuat sampai Zara menahan kesakitan.


Mereka begitu sangat bahagia sampai tidak bisa berkata-kata. Tangisan haru selalu menetes disetiap detik melihat bayinya.


"Oeee... oee... oee..."


Tangisan bayi kedua terdengar, dokter langsung menyerahkan ke Juna.


"Selamat, kedua anak anda perempuan, Dokter Juna"


Juna memandang putri keduanya. Dia tak kalah cantik dari saudari kembarnya.


Rasa bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Kebahagiaanya kini sudah lengkap dengan kehadiran dua putrinya.


Tak lupa Juna mengucap doa untuk kedua putrinya lalu memberikan nama untuk mereka.


"Untuk putri pertamaku akan ku beri nama Naira Anggun Pahlevi dan untuk putri keduaku akan ku beri nama Naiza Anggun Pahlevi. Semoga kalian berbakti dan berguna kepada orang tua kalian dan orang di sekitar kalian," ucap Juna sambil mengusap air matanya. "Selamat datang kedua putriku. Terima kasih sudah hadir di kehidupan kami," sambung Juna.


Setelah menyusui Naira kini gantian Naiza yang disusui. Juna memandang secara bergantian dua bayi kembarnya. Sangat mirip dan tidak ada perbedaan.


"Sayang, kau bisa membedakan wajah mereka?" tanya Juna.


"Tentu saja bisa. Naira memiliki daun telinga sepertiku dan Naiza memiliki daun telinga seperti honey yang agak lebar"


Juna mengerutkan dahi. Dia memperhatikan dengan seksama.


"Pandai sekali kau sayang," ucap Juna.


"Maaf dokter Juna. Mari saya mandikan dulu bayi anda," ucap suster.


Juna langsung menyerahkan kepada suster. Begitupun dengan Naiza, ia setelah selesai menyusu diberikan kepada suster untuk ikut dimandikan.


"Terima kasih, Zara. Kau mau mengandung anak kita. Maaf jika aku terkesan egois," ucap Juna.


"Kenapa minta maaf terus, honey? Sudahlah, sekarang 'kan mereka sudah lahir dan aku bersyukur jika mereka sehat semua. Naira dan Naiza sangat cantik sepertiku 'kan?" tanya Zara.


"Dia sangat mirip denganmu sayang. Sekali lagi aku berterima kasih kepadamu sayangku. I love you"


**


4 hari kemudian.


Mereka dibolehkan untuk pulang karena ibu dan bayinya semua sangat sehat.


Terpancar kebahagiaan mereka saat keluar dari rumah sakit.


Mama dan Sera ikut bahagia. Sera tak hentinya memandangi keponakan kembarnya.


"Mah, Sera jika punya anak nanti bisa kembar gak?" tanya Sera kepada mama.


"Bisa sayang. Malah kesempatan mu besar untuk mendapat bayi kembar"


"Jika masih ada Om Ali pasti aku sudah menikah dengan Om Ali. Huh... aku berjanji pada diriku jika aku punya anak akan ku namai Ali," ucap Sera bersemangat.


"Jika kau menikah dengan Kim akan kau namai Ali juga?" ejek Juna.


"Yaiyalah. Yang hamil aku yang namain harus aku"


Asisten Kim melirik sinis Sera. Sera memandangnya seolah mengejek. Dia berdoa jika berjodoh dengan Asisten Kim yang selalu cuek kepadanya.


Mereka menaiki mobil. Mereka membantu Zara menaiki mobil dengan hati-hati. Terlihat kedua bayinya sudah terlelap.


Juna dan Zara pulang ke rumah mereka.


Terima kasih Tuhan. Kebahagiaanku sudah lengkap.