
Visual Juna
Author fans nya Park Hae Jin garis keras apalagi saat rambutnya dinaikan.. Aduhhh meleleh...
***
"Honey, kita beneran mau pindah ke kota sebelah?" tanya Zara.
"Iya, bagaimana? Kau siap?"
Zara terdiam, ia tidak sanggup jika harus pindah jauh dari keluarganya. Dokter Juna mengusap kepala Zara, Zara menatapnya dengan lekat.
"Apa sebaiknya kita tunda dulu menunggu anak kita lahir?" tanya Zara.
Dokter Juna mengernyitkan dahi lalu tersenyum. Dia menganggukan kepala.
Zara tersenyum walaupun senyumannya itu palsu.
Hari ini mereka memutuskan untuk berada di rumah. Zara sedari tadi sibuk memainkan ponselnya dan Dokter Juna asyik menonton TV.
Zara melirik sang suami yang tengah serius menonton TV, dia mencari cara untuk bisa keluar menemui Anita.
Om Juna gak mungkin ngijinin aku keluar atau aku minta bantuan Sera. Aku tinggal bilang pada Om Juna jika aku akan main bersama Sera.
Eh... tunggu dulu! Entar si Seratun malah mengadu ke Om Juna.
Huh... susah sekali mencari alasan.
"Zara, nanti malam kau mau hadir di pesta ulang tahun pernikahan rekan kerjaku?" tanya Dokter Juna.
Zara menganggukan kepala.
"Honey sudah menyiapkan baju cantik untukmu," ucap Dokter Juna.
Zara tersenyum. Dia lalu melanjutkan bermain ponselnya. Pikirannya yang sedang kacau membuat ia tiba-tiba melemparkan ponselnya ke lantai.
PRAAANG...
Dokter Juna terkejut, ia melihat Zara yang mulai memegangi kepalanya. Zara mengerang dan merintih kesakitan seolah kepalanya dihantam batu bertubi-tubi. Sakit kepala menghujaninya membuatnya menangis semakin kencang.
"Ada apa sayang? Mana yang sakit?" tanya Dokter Juna panik.
"Pikiranku sakit sekali, rasanya ingin meledak"
Dokter Juna membaringkan Zara di ranjang lalu memanggil temannya yang seorang Psikiater. Zara masih saja berteriak membuat Dokter Juna semakin panik.
"Tarik nafas, sayang! Setelah itu keluarkan secara perlahan. Jangan merasakan kesakitan itu! Semakin kau berteriak maka rasa sakit itu semakin menyiksa," ucap Dokter Juna menenangkan Zara.
Dokter Juna lalu mengambilkan air putih tetapi Zara menolak. Dokter Juna sangat tidak tega melihat Zara kesakitan sampai berteriak histeris.
Dia kini memeluk erat Zara dan mengusap kepalanya. Zara menangis di dada sang suami.
Zara merasakan kehangatan pada tubuhnya. Gejolak api cinta merambat ke hatinya.
"Sudah sayang, honey ada disini. Jangan menangis!"
Maafkan aku sayang. Ini semua memang salahku.
Setengah jam kemudian. Zara telah terlelap, Dokter Juna membaringkan Zara dengan pelan di ranjang.
Dia kini mengambil ponsel milik Zara yang masih hidup. Dokter Juna melihat Anita menelpon Zara beberapa kali.
Apa gara-gara Anita, Zara jadi begini?
Anita bilang apa kepada Zara sampai membuat Zara histeris?
Dokter Juna merem*s tangannya. Dia kini menelpon Anita menggunakan telponnya sendiri.
"Hallo?" ucap Anita.
"Kau bilang apa dengan Zara? Jangan merusak hubunganku dengan Zara!" jawab Juna.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengatakan apapun kepada Zara"
"Terus kenapa kau menelpon Zara?" tanya Juna dengan emosi.
"Zara yang ingin mengatakan sesuatu kepadaku. Kau jangan memfitnahku Juna," jawab Anita.
Zara ingin mengatakan apa kepada Anita?
Juna menutup telponnya lalu memandang Zara yang tengah tertidur diranjang. Dia masih penasaran kenapa Zara ingin mengatakan sesuatu dengan Anita.
Beberapa menit kemudian, dokter psikiater yang ia panggil datang.
"Diusia Zara memang ia masih mencari jati diri sebenarnya, apalagi dengan kasus yang ia dapatkan membuatnya menjadi bingung. Dia masih belum bisa mengendalikan emosi labilnya dan anda harus bersabar dengan pola pikir Zara yang berubah-ubah. Beri dia perhatian lebih dan buat dia merasa nyaman dengan kehidupannya sekarang. Karena Zara sedang hamil maka saya tidak berani memberi obat macam-macam. Jadi anda harus lebih banyak bersabar menghadapi sifat Zara"
"Tapi sampai kapan begini, dok?" tanya Juna.
"Sampai dia bisa mengerti dengan keadaannya sendiri"
Juna terdiam, ia harus ekstra bersabar menghadapi sifat labil Zara. Dia yakin jika Zara sudah ikhlas dengan pernikahan ini dan Zara sudah menunjukan beberapa bukti jika ia sudah menyukai Juna.
Setelah dokter itu pulang.
Juna kini duduk di samping Zara, ia mengelus kepala Zara.
"Aku mencintaimu, Zara," cuma Juna.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore hari,
Zara bangun dari tidurnya, ia melihat jam dinding. Dia terkejut karena ia harus bertemu dengan Anita siang tadi.
Ishhhh... Terlambatkan aku?
Zara langsung ke kamar mandi lalu mandi secepat kilat. Dia lalu memakai baju yang nyaman dan segera berangkat ke cafe.
"Mau kemana?" tanya Juna mengagetkan Zara.
"Zara mau ketemu temen"
"Mau honey antar?"
"Gak usah, gak sampe satu jam kok"
Juna menganggukan kepala. Dia memperbolehkan Zara pergi. Zara heran kenapa sang suami mengizinkannya pergi semudah itu padahal biasanya Juna melarangnya untuk pergi sendirian.
Mikirin apa sih aku? Ini kesempatanku untuk bertemu dengan tante Anita.
Juna mengantar Zara sampai depan pintu, ia mengecup kening Zara.
"Hati-hati, kalau sudah cepat pulang ya?" ucap Juna.
"Iya, honey"
Zara keluar dari rumah, dia memesan taksi online lalu menuju ke cafe X untuk bertemu dengan Anita.
Setelah Zara pergi, Juna menelpon seseorang untuk mengikuti Zara. Juna hanya ingin tahu apa yang dikatakan Zara kepada Anita.
Sesampainya di cafe, Zara melihat Anita sudah duduk disana. Zara segera menghampiri Anita.
"Tante, maaf tadi Zara ketiduran"
"Oke tidak papa. Jadi kau ingin bilang apa?"
Zara menarik kursi lalu duduk di seberang Anita. Dia ingin mengatakan jika Anita harus kembali kepada Juna lagi tetapi entah kenapa Zara sulit untuk mengatakannya.
"Zara?"
"Eh... Iya?" jawab Zara terkejut karena dia sedang melamun.
"Jangan buang-buang waktu, Zara! Kau ingin bilang apa?"
Duh... Kenapa susah sekali bilang jika tante harus merebut lagi Om Juna dariku?
"Aku cinta Om Juna. Jadi jangan pernah merebutnya dariku," ucap Zara.
Eh... aku kok malah bilang gitu?
Anita tertawa. Dia menatap Zara dengan tajam.
"Dengar Zara! Selama aku masih mengandung anak dari Juna kau bisa apa? Juna akan kembali kepadaku lalu meninggalkan bocah sepertimu. Juna masih menyukaiku dan dia tidak menyukaimu. Juna menikahimu karena kesalahan," jawab Anita.
Zara berdiri lalu menggebrak meja.
"Lakukanlah!" ucap Zara.
Zara meraih tasnya lalu keluar dari cafe itu. Entah kenapa Zara sakit hati dengan ucapan Anita.
Disisi lain, suruhan Juna menelpon Juna untuk melaporkan kejadian tadi. Juna tersenyum dan senang karena seolah Zara takut kehilangan nya.
"Ya sudah, kerja bagus! Jadi Zara sudah dalam perjalanan pulang 'kan?" tanya Juna melalui telpon.
"Nona Zara sudah menaiki taksi, bos"
Zara... kau sungguh menggemaskan.
Aku tidak akan meninggalkanmu sayang. Tentang anak Anita pasti aku akan membongkarnya.