Hilang

Hilang
Bab 43 : Tenggelam



Aku hanya ingin hidupku kembali seperti dulu. Aku bisa bermain dengan teman-teman. Bisa hidup bebas, bisa kesana kemari tanpa ada yang melarang. Tetapi setelah aku menikah semuanya berubah seolah ada rantai di leher mencekikku. Aku tidak bisa bebas, aku selalu dimata-matai oleh orang yang bernama suami.


Aku tahu jika dia sangat menyayangiku tetapi aku sungguh belum siap dengan pernikahan ini.


Aku berpikir, daripada aku membunuh kedua bayiku lebih baik aku mati saja dan bisa mati bersama-sama dengan bayiku.


Selamat tinggal semua, selamat tinggal. Aku akan pergi meninggalkan kehidupan pahit ini.


Zara menenggelamkan diri di kolam renang milik Sean pada tengah malam. Air seakan menariknya untuk tenggelam sampai dasar. Dia memang sengaja melakukan itu karena sudah tidak ada pilihan lain.


Zara menutup mata, nampak air sudah masuk ke telinga, hidung dan mulutnya. Dia sengaja menyiksa dirinya sendiri dan berharap malaikat maut segera mengambil nyawanya.


Sampai ketika seseorang menarik tangannya lalu membawanya keatas permukaan. Siapa lagi jika bukan Sean? Sean sangat terkejut melihat adiknya tidak ada di kamar. Dia melihat pintu luar yang terhubung di kolam renang terbuka. Sean melihat kolam renang seperti ada yang janggal, ketika ia mendekat ia melihat adiknya sudah tenggelam di kolam renang. Sean tanpa pikir panjang segera menolong Zara.


Ketika sudah sampai atas, Sean meletakan Zara di tepi kolam renang. Zara sudah tidak sadarkan diri.


Sean berteriak membangunkan Zara sampai Mauren yang sudah tidur lalu terbangun dan menghampiri mereka.


"Zara kenapa oppa?" tanya Mauren.


"Dia tenggelam, cepat panggilkan Juna!" ucap Sean.


Mauren segera menelpon Juna dan memberitahukan jika Zara tenggelam. Juna sangat terkejut lalu segera menuju ke apartemen Sean.


Juna yang baru saja terlelap karena mabuk ia paksakan untuk bangun. Walau kepalanya sangat pusing ia paksa untuk menyetir mobil.


Mendengar Zara tenggelam, ia begitu frustasi. Semua adalah salahnya.


Setengah jam kemudian.


Juna sampai di apartemen Sean, ia langsung menghampiri Zara yang sudah terlelap di ranjang. Setelah siuman, Sean menyuruhnya untuk tidur.


"Zara," ucap Dokter Juna sambil mengelus kepala Zara.


"Dia baru tidur Juna, sini kau! Aku ingin bicara denganmu," ucap Sean.


Juna dan Sean berbicara didepan kolam renang. Juna terus menyeka air matanya. Dia bingung dengan apa yang harus dilakukan.


"Kau mabuk, Juna? Apa kau tidak bisa menghilangkan kebiasaan jelekmu?"


"Sean, aku harus bagaimana? Kenapa Zara seperti ini? Aku sangat menyayanginya," ucap Juna.


"Aku juga tidak mengerti apa yang dipikirkan Zara tapi lebih baik kalian berpisah saja ketimbang Zara tidak bahagia," jawab Sean.


"Kau menyuruhku cerai dengan Zara? Teman macam apa kau?" ucap Juna marah.


Sean menghela nafas, ia memang tidak bisa membantu banyak tetapi melihat Zara sampai melakukan bunuh diri membuatnya merasa kasian dengan Zara.


"Zara masih labil, Sean. Aku sangat memakluminya dan aku yakin dia juga mencintaiku. Kau tidak ingat saat Zara memohon untuk meminta restu dari Tuan Askar? Itu menunjukan jika Zara mencintaiku. Aku justru curiga dengan Anita, pasti dia memprovokasi Zara. Wanita ular itu aku harus segera menyingkirkannya," ucap Juna.


"Masalah tentang kak Anita belum selesai juga?"


"Polisi masih menyelidiki kejanggalan hasil tes DNA tersebut. Jika memang hasil tes itu di palsukan maka aku akan menuntut pihak rumah sakit walaupun itu rumah sakit naungan milik Young Group," ucap Juna.


"Aku akan membantumu Juna. Sekarang kau harus memikirkan hubunganmu dengan Zara kedepannya," ucap Sean.


Juna menghela nafas, ia hanya berharap jika Zara dibukakan pintu hatinya. Juna yakin jika Zara juga mencintainya, mungkin emosi Zara yang tidak stabil membuat Zara selalu berpikir pendek.


"Tapi kenapa Zara bisa tenggelam? Bukankah Zara pandai berenang?" tanya Juna heran.


"Kemungkinan ia sengaja menenggelamkan dirinya dan lebih baik kita bawa ke rumah sakit supaya diperiksa kandungannya"


Juna setuju, ia bersama Sean membawa Zara ke rumah sakit. Sean ikut mengantar karena Juna setengah mabuk dan tidak memungkinkan untuk menyetir.


"Oren, kau di rumah saja ya. Besok pagi oppa akan pulang," ucap Sean.


Sean menggendong Zara yang sudah terbangun di punggungnya. Zara terkejut karena ada suaminya disana.


"Kak Sean, aku baik-baik saja," ucap Zara.


Juna berusaha menggenggam tangan Zara tetapi Zara menepisnya. Dia memalingkan wajah. Juna sangat terluka, ia tidak menduga jika pernikahannya begitu banyak drama.


Sesampainya di rumah sakit.


Zara diperiksa oleh dokter yang sedang bertugas. Sean dan Juna menunggu diluar, mereka berdoa jika bayi didalam perut Zara tidak apa-apa.


Sean menepuk bahu Juna, ia memberikan semangat untuk teman dekatnya itu.


"Juna, aku bukannya ingin membuatmu tambah sedih tapi sudah kesekian kali Zara melakukan ini kepadamu. Lebih baik kau lepaskan Zara," ucap Sean.


"Apa salahku Sean? Aku yakin Zara hanya labil dengan pikirannya. Dia sangat mencintaiku"


"Jika memang Zara mencintaimu pasti dia tidak akan pernah mencoba untuk meninggalkanmu. Atau begini saja, kau berpura-pura untuk meninggalkan Zara, apa reaksi dia? Kalau dia memang mencintaimu dia pasti akan menyesal kehilangan pria sebaik dirimu," ucap Sean.


Juna meremas tangannya, dia takut melakukan itu. Dia takut jika Zara tidak menyesal kehilangan Juna.


Juna menyandarkan kepalanya lalu menyusun sebuah rencana.


"Apa aku harus berpura-pura meninggalkan Zara?"


"Benar, aku yakin Zara akan merasa kehilangan jika dia memang mencintaimu," ucap Sean.


Tiba-tiba dokter yang memeriksa Zara datang. Dia mengatakan jika Zara dan kedua bayinya baik-baik saja.


Juna bernafas lega.


"Sean, aku akan melakukan cara itu. Aku akan berpura-pura meninggalkan Zara. Aku yakin dia pasti mencariku dan memohon kepadaku untuk tidak meninggalkannya," ucap Juna.


"Semoga berhasil Juna. Aku akan selalu mendukungmu"


Juna memilih pulang dan tidak menemui Zara. Dia harus pandai berakting kedepannya.


Sedangkan Sean masuk lalu melihat Zara yang belum tidur.


"Tidurlah Zara, ini sudah tengah malam. Mamamu akan datang besok pagi," ucap Sean.


Zara tidak menghiraukan ucapan Sean. Dia sedang mencari keberadaan sang suami lewat pandangan matanya.


"Om Juna mana?" tanya Zara.


"Kenapa kau menanyakan Juna? Bukannya kau sudah berniat meninggalkannya?" jawab Sean.


Zara tercekat dengan ucapan Sean. Dia lalu mengalihkan pembicaraan. Sean tersenyum. Dia melihat Zara sangat malu.


"Juna berencana akan kembali kepada Kak Anita. Aku akan membantu mengurus perceraian kalian"


"Om Juna bilang gitu?" tanya Zara terkejut.


Entah mengapa Zara sakit hati walau itu memang yang diinginkannya. Sean tersenyum tipis, ia bisa melihat Zara kesal lewat ekspresi wajahnya.


"Iya, Juna bilang begitu"


"Benarkan jika Om Juna gak cinta sama Zara? Kenapa dia semudah Itu lepasin Zara?" ucap Zara.


"Bukannya kau yang menginginkan semua itu? Kenapa kini malah kesal sendiri?"


Zara terdiam, ia langsung menarik selimutnya sampai ke kepala.


Sean tersenyum lalu mengelus kepala Zara.


"Pikirkan baik-baik Zara. Jika kau melepas Juna begitu saja pasti kau akan menyesal," ucap Sean.


"Aku gak akan menyesal," teriak Zara.


"Aku tidak mau kau menangis jika Juna meninggalkanmu dan aku pasti akan mengejekmu habis-habisan karena kau malah menyesali perbuatanmu," ucap Sean.