Hilang

Hilang
Bab 27 : Mimpi buruk?



2 hari berlalu.


Zara terbangun dari mimpi buruknya setelah mengalami demam tinggi.


Dia membuka matanya dan melihat infus terpasang lagi di tangannya.


Dia berusaha bangun dari posisi tidurnya tetapi seorang lelaki yang familiar mencegahnya untuk bangun.


"Zara sayang tetap tidur saja! Kepalamu masih sakit? Kau tidak sadar selama 2 hari," ucap pria itu yang ternyata Dokter Juna.


Zara terkejut, ia juga melihat sang Mama berada di sampingnya.


Dia tersenyum kearah Zara. Zara semakin bingung dengan situasinya.


Apakah ia hanya bermimpi? Dia kini menjadi Zara atau Sera?


"Aku siapa, Mah?" tanya Zara kebingungan.


Dokter Juna terkejut, ia menggenggam tangan Zara dan mendekatkan wajahnya ke wajah Zara.


"Kau ingat siapa aku, Sayang?"


"Kau Om Juna?"


"Dan wanita ini siapa? Kau ingat?"


"Dia Mama ku"


Dokter Juna mengerutkan dahi menyadari jika Zara tidak mengingat dirinya sendiri tetapi malah ingat orang di sekitarnya.


"Aku Zara atau Sera?"


"Kau Zara sayangku," ucap Mama nampak khawatir.


Zara mengingat kembali kejadian demi kejadian yang ia lalui sebelumnya. Apakah ia hanya bermimpi saja? Dia memegangi kepalanya, setelah kejadian bertengkar dengan Sera di hotel milik Reno, kepalanya terasa sakit dan pandangannya menjadi kabur lalu setelah itu hanya ingatan samar-samar yang teringat.


"Apakah Om Juna tidur dengan Sera?" tanya Zara meyakinkan ingatannya.


"Maksudmu apa sayang? Kau sepertinya bermimpi buruk"


"Aku mengingat jika kalian melakukan itu bersama karena dia menjadi aku dan aku menjadi Sera," jelas Zara.


"Kalian memang sempat bertukar posisi dan Mama sangat kecewa dengan kalian. Kenapa kau begitu, Zara? Segitu bencikah dengan suamimu sampai kau tidak suka dengan kehidupanmu sekarang?" ucap Mama kesal.


Dokter Juna menenangkan Mama Zara, sepertinya tidak harus membahas itu sekarang karena Zara baru sadar dan masih kebingungan.


"Kau hanya bermimpi sayang. Aku tidak mungkin melakukan itu kepada Sera. Walaupun kalian kembar tetapi kalian masih mempunyai perbedaan, Sera mempunyai lesung pipi dan kau tidak mempunyai lesung pipi"


"Lalu dimana Sera?"


"Sera sedang sekolah sayang. Sepulang sekolah dia akan kesini"


Zara tersenyum lalu Mamanya berpamitan untuk pulang karena semalaman menjaga Zara yang demam tinggi dan mengigau tidak jelas.


Sedangkan Kini Dokter Juna menjaga Zara dan memperhatikan kesehatannya yang sekarang mulai membaik.


Dokter Juna duduk di samping Zara, ia membelai rambut Zara.


"Maaf"


Sebuah ucapan Maaf terucap dimulut Zara sambil matanya menatap langit-langit ruangan itu.


Dokter Juna menatap Zara dengan lembut.


"Sudahlah sayang, aku memaafkanmu. Tapi lain kali jangan di ulangi lagi. Kasian Sera, terlambat sedikitpun pasti aku sudah melakukan itu kepadanya," ucap Dokter Juna.


"Dasar Om mesum!"


Ceklek...


Dokter Juna langsung berdiri dan menjabat tangannya.


"Kak Reno?" ucap Zara terkejut.


Dokter Juna langsung mengerti situasi ia memutuskan untuk keluar dan membiarkan mereka berbicara.


Sedangkan Zara masih tersenyum manis kepada pria yang di sangat di kaguminya.


"Bagaimana Zara? Apakah sudah lebih baik? Aku sangat khawatir tiba-tiba kau pingsan"


"Aku baik-baik saja, Kak"


Reno menarik kursi lalu duduk dan memperhatikan Zara.


"Kenapa kau tidak jujur Zara jika kau sudah menikah dengan Kak Juna?"


DEG


Zara tersentak, ia memalingkan wajah seolah malu dengan pria itu.


Dia menelan ludah dan mengumpati Dokter Juna yang ia kira memberitahukan hal tersebut kepada Reno.


"Zara, memang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dengan kehidupan ini dan jujur adalah cara yang terbaik untuk tidak melukaimu sendiri bahkan orang lain. Aku memang mulai membuka hati kepadamu tetapi dengan kebohonganmu kini membuat aku sangat kecewa," jelas Reno.


Zara menatap Reno sambil berkaca-kaca, ia melihat Reno yang tersenyum tulus kepadanya. Dia memang egois dan memikirkan dirinya sendiri membuat secara tidak langsung menyakiti dua orang pria sekaligus.


"Maafkan aku Kak Reno. Aku menyadari kesalahanku, aku terlalu menyukaimu membuat otak warasku mulai gila.


Maaf aku telah membohongimu," ucap Zara sambil terisak.


Reno mengusap air mata Zara, ia menenangkan Zara.


"Kau harusnya jangan meminta maaf kepadaku, harusnya kau meminta maaf kepada suamimu. Dia sangat menyayangimu"


Zara menganggukan kepala, ia menangis tersedu-sedu. Dia tidak menyangka cinta pertamanya tidak semulus yang ia pikirkan.


"Tapi setelah ini apakah aku masih bisa bermain bersama Dylan?" tanya Zara teringat anak Reno yang manis dan lucu.


"Bisa Zara, apalagi setelah bayi kembarmu lahir, Dylan pasti sangat senang dan pasti selalu mengajak bertemu denganmu"


Zara tersenyum, ia lalu meminta izin memeluk Reno untuk terakhir kalinya.


Reno memeluknya penuh kehangatan dan mulai kini menganggap Zara sebagai adiknya.


Sedangkan Dokter Juna mengintip dari balik pintu merasa lega dan terharu karena mereka bisa berbaikan tanpa memusuhi satu sama lain tetapi ia dikejutkan dengan kedatangan Sera yang sudah muncul di depannya.


"Cilup Baaaa," ucap Sera mengagetkan Dokter Juna.


"Sialan!" ucap Dokter Juna sambil refleks mundur.


"Payah sekali paman ini. Seorang dokter berbicara kotor"


"Kau mengagetkanku, Sera"


Sera tidak menggubris ucapan Dokter Juna, ia berusaha masuk ke ruangan Zara. Tetapi tiba-tiba Dokter Juna menggandengnya lalu membawa Sera ke ruangannya.


"Duduklah! Aku ingin berbicara penting kepadamu," ucap Dokter Juna.


Sera langsung duduk di pinggir meja milik Dokter Juna membuat pria itu terkejut.


"Turun Sera! Tidak sopan sekali kau"


"Paman Juna tidak bilang untuk duduk dikursi," ucap Sera sambil turun dari meja.


"Kau lucu Sera, disuruh duduk ya harusnya duduk di kursi. Tidak ada orang yang menyuruh untuk duduk di meja"


"Cepatlah Paman! Jangan basa-basi! Mau bilang apa, Paman?"