
"Plis kek. Restui kami, kalo nggak Zara mau bunuh diri nih. Zara mau lompat dari kolam renang," ucap Zara semakin merayu.
Sera mengerutkan dahi mendengar ucapan Zara. " Mana bisa mati, Za? Kau 'kan pandai berenang"
"Aku 'kan bisa pura-pura mati"
"Kenapa kau bilang itu Za? Tuh kakek udah denger kau akan pura-pura mati. Gagal deh rencanamu," ucap Sera.
Zara menatap Sera dengan kesal, ia berjalan kearah Sera lalu menjambak rambut Sera. Sera tidak mau kalah, ia juga menjambak rambut Zara.
Sedangkan sang kakek tidak memperdulikan mereka, beliau asyik mengirim pesan kepada gadis-gadisnya.
Saat itu juga Mama mereka masuk ke kamar Kakek Askar, ia terkejut melihat dua putrinya saling menjambak rambut sambil berguling-guling di lantai.
Mama melirik Kakek Askar, beliau malah senyum-senyum menatap layar ponselnya.
Ya Tuhan. Apa salah hamba? Hingga engkau memberikan keluarga aneh ini.
"Berhenti Sera, Zara! Kalian sudah besar masih saja bertengkar. Kau juga Zara, kau juga sudah menikah sampai kapan mau kekanakan seperti ini," ucap Mama.
"Kenapa emangnya, Mah? Zara udah menikah pun juga menjambak rambut Om Juna di ranjang. Apa bedanya? Zara memang suka menjambak rambut orang. Mama mau Zara jambak?" ucap Zara sambil berdiri.
"Menjawab lagi? Dasar tidak punya sopan santun!" ucap Mama geram.
"Ishh... Mama membingungkan, gak dijawab salah, dijawab juga salah. Orang tua selalu membingungkan gak sih? Benar 'kan Zara?" ucap Sera membela saudari kembarnya.
Sang Mama mengelus dadanya, ia tidak mau emosi dan membuatnya darah tinggi. Dia lalu menyuruh mereka keluar untuk menemui Sean dan kawan-kawan yang sudah menunggu di ruang keluarga.
"Untuk apa Sean kemari?" tanya Kakek Askar.
"Temui saja dulu, Yah! Dia ingin berbicara penting dengan Ayah"
Kakek Askar segera berjalan menuju ruang keluarga, ia terkejut ada Dokter Juna disana. Beliau duduk di seberang Sean dan Dokter Juna.
"Sudah ku duga jika kau akan meminta bantuan Sean," ucap Kakek Askar.
"Aku memang berniat membantu Juna tanpa Juna meminta kepadaku. Jadi maksud kakek apa tidak merestui hubungan mereka dan kakek memberhentikan Juna dari rumah sakit?" ucap Sean dengan santai.
Kakek Askar menatap tajam Sean, Sean tidak takut justru malah menantang.
Suasana menjadi tegang dan mereka pikir akan terjadi pertumpahan darah saat itu juga.
Mama Sean mengkode kepada Sean untuk mengalah tetapi Sean tidak menghiraukan.
Dokter Juna menatap Zara yang duduk disamping kakeknya. Dia tersenyum kepada Zara dan Zara membalas senyumannya.
Asisten Kim yang mengetahui ketegangan dari keluarga itu memilih berdiri diam di belakang Sean.
Sedangkan Sera yang baru datang tiba-tiba merengek kepada sang Mama. Dia menangis dipangkuan Mama membuat suasana yang tadinya tegang kini malah terfokus kepada Sera.
"Kenapa sayang?" tanya Mama.
"Mah, minta kiko"
"Dasar anak kecil! Sudah besar minta es potong," ejek Zara.
Sera menghentikan rengekannya, ia tiba-tiba menjambak rambut Zara tetapi Zara tidak mau kalah, ia menjambak rambut Sera dengan kuat.
Dokter Juna terkejut lalu meminta mereka berhenti untuk bertengkar.
Sang Mama juga terlihat melerai mereka.
Sean malah menyemangati mereka dan mengadu domba adik kembarnya.
Sang kakek mulai kesal lalu berjalan meninggalkan ruang keluarga yang mulai ricuh.
Sedangkan Asisten Kim, manusia paling waras diruangan itu hanya ternganga melihat keluarga aneh yang dicap sebagai keluarga terkaya dinegara ini sedang ribut gara-gara es kiko.
Mereka kini sudah tenang dengan Zara yang sekarang duduk disebelah Dokter Juna sedangkan Sera masih menatap kesal Zara.
Sean merasa puas melihat pertengkaran adik kembarnya.
Sedangkan Mama Sera dan Zara memegangi kepalanya yang berdenyut karena ulah kedua putrinya yang sangat memalukan.
"Loh... kakek mana?" tanya Sean tidak melihat keberadaan sang kakek.
Dia berdiri lalu mengajak Dokter Juna untuk menuju ke kamar Kakek Askar.
Dia langsung membuka pintu dan melihat kakek Askar sedang bertelpon dengan gadisnya.
Sean menghela nafas, ia tidak menyangka sang kakek semakin hari semakin parah.
"Kakek hanya menghamburkan uang untuk menyewa para gadis itu," ucap Sean.
Kakek segera menutup telponnya, ia menatap Sean dan berdecih.
"Itu bukan urusanmu"
"Tetapi kakek kenapa selalu mengusik kebahagiaan kami? Kakek tega sekali jika memisahkan Juna dan Zara. Kakek tidak kasian jika anak Zara tumbuh tanpa ayah?"
"Kakek hanya kecewa dengan Juna. Kenapa dia bisa memperkosa Zara? Apalagi umur Zara masih sangat muda"
"Juna tidak sengaja, dia mabuk saat itu. Sedangkan kakek dengan sengaja mengotori gadis-gadis itu," ucap Sean membuat Kakek Askar semakin terpojok"
Tiba-tiba Dokter Juna bersujud dibawah kaki Kakek Askar, ia meminta maaf sebesar-besarnya karena membuat kesalahan fatal. Dia juga memohon untuk mendapat restu dari sang tuan.
"Sudah kalian! Pergi sana! Sampai kapanpun aku tidak merestui kalian"
Sean mendengar hal itu lalu membantu Dokter Juna berdiri. Mereka keluar dari kamar Kakek Askar dengan kecewa.
Harapan Dokter Juna telah pupus, ia merasa gagal dalam mendapatkan hati Tuan Askar.
"Kau tidak usah menghiraukan kakekku. Segera lakukan resepsi pernikahan. Tidak usah meminta restu darinya yang terpenting kau sudah mendapat restu dari kami," ucap Sean.
"Mana bisa begitu Sean? Aku harus tetap meminta restu dari beliau"
"Zara sedang hamil, mumpung perutnya belum membesar lakukanlah resepsi pernikahan. Undang semua teman dan kolegamu supaya mereka tahu jika kau sudah menikah dengan Zara dan sudah menjadi bagian keluarga Adinata"
Dokter Juna terdiam. Apakah ia harus melakukan itu? Apalagi ia merasa tidak enak dengan Tuan Askar yang pernah menyelamatkannya. Menyekolahkannya sampai menjadi dokter hebat dan menjadikannya menjadi pimpinan rumah sakit naungan Young Group.
Tapi kini ia mengkhianatinya, membuatnya kecewa dengan perbuatannya.
"Buatlah resepsi pernikahan! Setelah itu aku juga akan menggelar resepsi pernikahan dengan Oren. Kadang hidup memang tidak sesuai rencana dan kita hidup tidak harus meminta izin kepada mereka. Pikirkan Zara! Dia perempuan dan dia juga memiliki banyak teman, dia pasti malu jika bertemu dengan mereka tiba-tiba perutnya sudah membesar," ucap Sean.
"Tapi Sean, aku tidak bisa mengundang banyak orang. Kau tau sendiri jika aku sudah diberhentikan dari rumah sakit dan hartaku sebagian sudah kuberikan kepada Anita, aku tidak bisa membuat pesta mewah untuk membanggakan keluarga Adinata"
Sean tersenyum kecut kepada Dokter Juna lalu menepuk bahu pria itu.
"Jangan khawatir! Zara adalah adikku, aku selama ini bekerja keras juga untuk dia yang sudah tidak memilih ayah sepertiku. Semua biaya pesta akan ditanggung oleh perusahaanku dan kau hanya siapkan mas kawinnya saja untuk Zara," ucap Sean.
"Tapi Sean, yang menikah adalah aku bukannya kau. Kenapa kau malah menanggung biaya pernikahanku?" tanya Dokter Juna.
"Sudah kubilang, aku melakukannya untuk Zara bukan untukmu. Jangan pede dulu kau!"
Dokter Juna tersenyum, ia memeluk Sean. Dia berterima kasih kepada Sean karena sudah banyak membantunya.
Sean melepas pelukannya seakan risih dengan pelukan itu.
"Cih! Menjijikan.. tidak usah memelukku kau!"
Terima kasih Sean. Walau kau kadang menyebalkan tapi sebenarnya kau sangat baik.