
Aku akan buktikan Zara jika anak yang di kandung Anita bukan anakku. Batin Dokter Juna.
"Aku tidak mau pulang, aku mau tidur disini dengan Kak Mauren"
"Yasudah... biarkan Zara tidur disini dokter, biar pikiran Zara tenang," ucap Mauren.
Dokter Juna menghela nafas, ia menatap Zara yang memalingkan wajah. Dia lalu membiarkan Zara tidur disini sedangkan Sean bingung Zara harus tidur dimana.
"Zara biar tidur bersamaku di ranjang, Oppa dan Dokter Juna tidur di apartemen Kak Kim saja," pinta Mauren.
"Enak saja, kau pulang saja, Zara! Ini malam jumat aku ingin berduaan dengan istriku," ucap Sean.
"Aku tidak mau, aku ingin tidur dengan Kak Mauren"
Mauren memberi kode kepada Sean untuk mengalah. Sean lalu akhirnya mengalah dan membiarkan mereka tidur bersama di ranjang termahalnya.
Keesokan harinya.
Zara bangun pagi-pagi ia merasa begitu mual tak tertahankan, ia segera menuju ke kamar mandi. Mauren terbangun ketika mendengar Zara mual-mual, Mauren masuk ke kamar mandi dan melihat Zara sudah tergeletak lemas bersandar di dinding.
"Zara... kau tidak apa-apa?" tanya Mauren.
Mauren berinisiatif menggendong Zara, ia sangat panik dan membawa Zara ke Dokter Juna yang berada di apartemen Asisten Kim.
Zara begitu lemas dan pucat membuat Mauren semakin khawatir.
Dengan nafas terengah-engah, Mauren menggendong Zara dengan sekuat tenaga.
Tok... tok... tok...
Asisten Kim membuka pintu, ia terkejut melihat Zara berada di gendongan Mauren. Dia lalu memanggil Dokter Juna yang masih tertidur pulas.
"Dokter Juna? Bangun, Dok!"
Dokter Juna bangun, ia mengucek matanya dan melihat Zara sudah berbaring di sofa.
"Ada apa dengan Zara?"
"Dia pingsan setelah mual-mual," jelas Mauren.
Dokter Juna panik, ia berlari mendekati Zara. Dia memeriksa denyut nadi Zara dan mendengar nafas Zara yang teratur dan mengira Zara bukan pingsan tetapi tertidur.
"Aku akan membawa Zara ke rumah sakit, aku akan memberinya vitamin," ucap Dokter Juna sambil menggendong tubuh Zara yang sangat ringan.
Dokter Juna lalu beranjak pergi dari apartemen Asisten Kim tetapi sebelum itu ia berterima kasih kepada mereka karena sudah merepotkan.
Setelah berpamitan, Dokter Juna berjalan menuju keluar gedung apartemen dan saat perjalanan seketika Zara mengigau membuat Dokter Juna terkejut.
"I love you, Om Juna"
Dokter Juna tersenyum, hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan Zara. Sepertinya memang Zara sudah mulai mencintai sang suami.
Setelah sampai mobil, Dokter Juna membaringkan Zara di kursi belakang lalu ia menatapnya dan mengecup pipinya.
"I love you too, Zara"
**
Setelah sampai di rumah sakit, Dokter Juna membawa Zara di ruangan VIP dan memasangkan infus di tangan Zara yang berisi cairan vitamin.
Dia sadar jika Zara memang susah meminum vitamin dan susu hamil yang diberikan Dokter Juna untuk sang istri tercinta.
Tiba-tiba Dokter Alan masuk, ia heran dan sangat kepo tentang hubungan Dokter Juna dan Zara.
"Gadis ini pacarmu, Dok?" tanya Dokter Alan.
"Dia istriku"
"Apa? Bukannya Dokter Juna baru bercerai sebulan yang lalu?"
"Kenapa? Yang penting aku sudah bercerai dan bebas untuk menikah lagi," jawab Dokter Juna seakan tidak suka dengan ucapan rekan kerjanya itu.
Dokter Alan menatap lekat wajah Dokter Juna, dia tidak menyangka jika temannya begitu brengsek.
"Tapi bagaimana dengan Anita? Dia berkonsultasi denganku tentang kehamilannya yang kini akan menginjak 3 bulan. Dia bilang jika itu anakmu dan kau menelantarkannya," ucap Dokter Alan.
Dokter Juna yang masih mengelus kepala Zara terkejut, ia menatap Dokter Alan dengan penasaran.
"Anita berkonsultasi denganmu? Tolong lakukan tes DNA! Aku tidak percaya jika itu anakku setelah dia tidur dengan pria lain," ucap Dokter Juna.
Dokter Alan menganggukan kepala, ia menepuk bahu Dokter Juna lalu membisikan sesuatu di telinga Dokter Juna.
Dokter Juna mengepalkan tangan, ia sangat kesal kepada Dokter Alan yang terkenal licik dan menganggap Dokter Juna saingan terberatnya.
Dokter Alan tersenyum menyeringai lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.
Aku harus hati-hati dengan Alan.
Bisa-bisa dia memalsukan hasil tes DNA nya.
Setengah jam kemudian.
Zara tersadar dari tidurnya, ia langsung menatap wajah Dokter Juna yang berada di dekatnya. Zara menerawang melihat sekitarnya, dia menyangka jika berada di rumah sakit.
"Sudah bangun sayang?" tanya Dokter Juna.
"Apakah Om Juna Dokter spesialis jantung?"
Dokter Juna mengerutkan dahi, ia menatap Zara dengan heran.
"Coba tangan Om Juna letakan di dada Zara!" pinta Zara sambil menarik tangan Dokter Juna untuk memegang dadanya.
Dokter Juna bisa merasakan degup jantung Zara yang berdebar kencang.
"Aku menyukai Om Juna. Aku cinta Om Juna, tetapi ketika rasa cinta itu datang malah tante Anita mengusik kebahagian Zara. Zara cemburu jika Om Juna kembali pada Tante Anita. Zara juga sedih jika yang di kandung Tante Anita adalah anak Om Juna," ucap Zara sambil menggenggam tangan Dokter Juna.
Dokter Juna tersenyum bahagia, ia akhirnya bisa meluluhkan hati Zara yang sekeras batu. Dia lantas memeluk Zara, memberikan ciuman bertubi-tubi diwajah sang istri tercinta.
"Aku juga sangat mencintaimu Zara, aku tidak akan meninggalkanmu. Kau jangan hiraukan Anita! Aku akan segera membereskannya"
Zara menangis, ia bisa merasakan cinta dari Dokter Juna yang tulus untuknya.
Dia tidak menduga bisa mencintai seorang dokter yang sudah dikenalnya dari kecil. Bahkan saat kecil pun Dokter Juna lah yang memeriksa Zara dan Sera ketika sakit sebelum Dokter Juna ditarik untuk menjadi dokter pribadi Sean.
"Om Juna, setelah kakekku pulang kita bersama-sama meminta restu kakek, ya?" ucap Zara.
"Iya sayang. Aku akan meminta restu dari Tuan Askar supaya beliau merestui pernikahan kita"
"Terima kasih, Honey"
Honey? Batin Dokter Juna.
"Aku akan memanggilmu Honey, itu panggilan kesayanganku untuk Om Juna"
"Baiklah. Enaknya aku memanggilmu apa ya, sayang?"
"Panggil aku sayang saja, Honeyku"
Dokter Juna tersenyum, ia memeluk Zara dengan erat. Hatinya sangat bahagia ketika Zara menerima cintanya.
Dia juga terlihat mengusap perut Zara dan membenamkan wajahnya di perut sang istri tercinta.
Tampak Dokter Juna menangis membuat Zara khawatir lalu mencoba mengangkat kepala Dokter Juna untuk menghadapnya.
"Kenapa honey menangis?"
"Aku sangat beruntung Zara, sebentar lagi aku akan mempunyai anak kembar darimu. Aku sangat bahagia dan lebih bahagia lagi ketika kau menerima cintaku. Aku mencintaimu sayangku. Aku berjanji akan membahagiakanmu dan si kembar"
"Ku pegang janjimu, honey. Aku juga sangat mencintaimu"
__________________________________
So sweet....
Btw author memang sangat suka kisah Om2 menikah dengan gadis polos.
(om2 yg tampan ya).
Semua bacaan author di aplikasi ini memang kisah om2 semua... hehehe...
Dan dalam kehidupan nyata author juga Menikah dengan om2 tampan yang jaraknya 10 tahun lebih tua dari saya.. ya walaupun gak seromantis di novel2 sih wkwk curhat ****...
Okeee... aku ngefans banget sama Park Hae Jin yang kujadiin visual Juna.
Dia mendekati umur 40 tahun tetapi tetap keren dan tampan...
Siapa sih yang gak klepek2 sama pesona om2 satu ini? hehehe.