Hilang

Hilang
Bab 48 : Keluarga utuh



"Oeeeee... oeee...oeeee..."


Pasutri itu kewalahan ketika kedua bayinya menangis secara bersamaan.


Apalagi Zara yang masih sangat kagok mengurus kedua bayinya.


Zara menyusui Naira terlebih dahulu sedangkan Naiza ditimang oleh Juna.


Waktu menunjukan 1 pagi tetapi kedua bayinya terus saja menangis.


Naira yang menyusu mama nya nampak masih menangis, ia seperti sangat kehausan tetapi air susu yang dikeluarkan Zara sedikit.


"Honey, Naira kenapa? Dia nangis terus," ucap Zara.


Juna mendekati Zara lalu menekan dada Zara sedikit kuat. Naira tetap saja menangis seperti kehausan.


"Coba gunakan dada yang satunya sayang," ucap Juna.


Zara mengubah posisi Naira menjadi disebelah dada kirinya. Naira mencoba mengisap put*ing susu tersebut tetapi sama saja dia tetap menangis.


"Asimu keluarnya dikit sayang. Anak kita termasuk bar-bar untuk minum. Bagaimana ini? Jam segini mana ada toko susu buka?" ucap Juna kebingungan.


Zara meraih ponselnya. Lalu menelpon Mauren di pagi buta ini. Dia tidak ada pilihan selain bertanya pada Mauren yang sudah berpengalaman mengurus bayi yaitu Seina.


"Hallo?" ucap Mauren setengah sadar.


"Kak, dulu Seina minum susunya kuat gak? Terus stok asi kak Mauren banyak gak?" tanya Zara.


Juna sempat terkejut mendengar pertanyaan Zara karena Mauren tidak menyusui Seina karena hanya anak angkat.


"Aku tidak menyusui Seina. Aku memberinya susu formula. Kau 'kan tahu sendiri jika Seina ku adopsi," jawab Mauren.


Zara sadar lalu meminta maaf. Dia tidak bermaksud menyinggung perasaan Mauren.


"Zara, bayi kembarmu menangis?" tanya Mauren mendengar suara tangisan bayi.


"Iya, kak. Kami kewalahan. Asi ku gak keluar banyak jadi mereka kurang puas," jawab Zara.


"Masa sih? Coba cek popoknya dulu! Siapa tahu penyebab mereka menangis karena pipis atau pup"


Zara memang belum sempat mengecek popok kedua anaknya. Dia berterima kasih kepada Mauren lalu menutup telponnya.


Setelah itu ia meletakan Naira ditempat tidur lalu mengecek popoknya.


"Pantes nangis, dia e'ek," gumam Zara.


Zara melirik Juna yang sedang menimang Naiza. "Honey, Naira e'ek. Bantu aku bersihin dong!"


Juna segera meletakan Naiza yang sudah tidur terlelap. Setelah itu ia mengambil handuk beserta sebaskom air untuk membersihkan kotoran anaknya.


Zara masih belum pandai mengurus bayinya, bahkan untuk memandikan kdua bayinya adalah tugas Juna.


Juna tidak masalah melakukan semua itu mengingat bekas operasi Zara belum kering dan masih terasa sakit.


Zara memperhatikan dengan seksama cara sang suami membersihkan. Juna memang sangat pandai mengurus anak-anaknya. Dia juga tidak pernah mengeluh untuk membantu Zara.


"Maafin aku gak bisa bantu honey. Aku Ibu yang gak becus," ucap Zara sedih.


"Kenapa bilang begitu? Kau ibu yang hebat sayang. Perjuanganmu mengandung dan melahirkan Naira dan Naiza sangat luar biasa bahkan mungkin jika aku jadi kau tidak sanggup melakukannya," ucap Juna.


Zara tersenyum, dia selalu senang jika Juna memuji nya.


Setelah selesai membersihkan kini Naira di timang oleh Juna dan beberapa menit kemudian Naira tertidur membuat Juna lega.


"Akhirnya mereka tidur juga," gumam Juna.


Juna meletakan Naira disamping Naiza yang berada ditengah tempat tidur mereka. Pasutri itu memandangi kedua putrinya yang tidur terlelap dan kadang tersenyum sendiri.


"Sekarang kau tidur sayang atau kau mau aku timang juga?" goda Juna.


"Apaan sih honey? Enaknya makan mie ya? Aku mau bikin mie rebus deh, honey mau?" tanya Zara.


"Biar honey buatkan saja"


"Gak usah! Aku aja, tinggal nyalain kompor langsung cemplung-cemplung udah jadi deh," ucap Zara sambil turun dari tempat tidur.


Juna tersenyum. Dia membiarkan Zara memasak mie rebus sendiri.


Kebahagiaan kini menyertainya, Zara semakin bersikap dewasa, kedua buah hatinya yang sudah hadir menambah kebahagiaan mereka.


Maaf alurnya aku cepetin.


Beberapa tahun kemudian.


Dokter Juna sedang bekerja seperti biasanya. Dia kini berada di ruangannya untuk sekedar istirahat makan siang.


Dokter Juna selalu membawa makanan dari rumah tentu saja masakan istrinya yang tercinta walau makanan buatan Zara tidak begitu enak.


Dokter Juna selalu menghargai jerih payah Zara yang selalu membuatkan makanan untuknya dan ia selalu menghabiskan makanan Zara yang kadang asin, hambar atau terlalu pedas.


Dokter Juna membuka kotak makan dan ia terkejut melihat sesuatu dengan dua garis merah, apalagi jika bukan tespack?


Zara membungkusnya dengan plastik dan terlihat kotak makan itu bukan berisi makanan melainkan kaos kaki dan sepatu bayi.


Hari ini aku bahagia banget honey.


Aku merasa mual dan muntah. Aku pikir hanya masuk angin biasa tapi dengan iseng aku pipisin testpack itu dan terlihat dua garis merah tergambar.


Aku sangat bahagia. Aku hamil lagi, honey. Aku senang. Terima kasih honey sudah banyak memberiku banyak kebahagiaan. Keluarga kita udah lengkap dengan kehadiran si kembar Naira dan Naiza lalu kini bayi mungil di dalam perutku menambah kesempurnaan keluarga kita.


Dokter Juna terharu, ia memeluk surat itu di dadanya. Dia sangat bersyukur jika Zara hamil lagi. Dokter Juna lalu menelpon Zara dan mengatakan banyak terima kasih.


"Aku mencintaimu, Zara sayang. Aku sangat beruntung bisa menikah denganmu," ucap Dokter Juna melalui panggilan telepon.


"Sama-sama sayang, setelah ini aku akan mengantar makanan untukmu. Maaf aku tadi tidak sempat memasak karena saking lupanya karena senang atas kehamilanku"


"Sayang dirumah saja, jaga anak-anak kita dengan baik. Aku mencintaimu, Zara"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Naira dan Naiza kini berusia 10 tahun. Mereka tumbuh sangat cantik seperti mamanya. Walaupun mereka kembar tetapi sifat mereka berbeda. Naira begitu tomboy dan Naiza begitu feminin.


"Pah, kemarin Naira mukulin anak cowok," ucap Naiza melapor kepada Juna.


"Kenapa? Mungkin anak cowok itu yang mulai duluan?" tanya Juna sambil menyetir mobil.


"Pah, kemarin Xavero juga mukulin temennya," ucap Naiza.


Naira dan Xavero hanya diam saat Naiza mengadu kepada sang papa.


Mereka sudah tahu sifat Naiza yang selalu membuat mereka dimarahi sang papa.


Lalu siapa Xavero? Tentu saja anak ketiga dari Juna dan Zara. Xavero sangat tampan seperti Juna.


Naira, Naiza dan Xavero berjarak umur cukup jauh. Xavero belum ada berumur 5 tahun tetapi ia sudah bandel.


"Pah, Vero ingin main sama Uncle Sean," ucap Xavero.


Xavero sangat dekat dengan pamannya karena ia merasa pamannya sangat lucu.


"Besok kita kesana tapi sekarang ini kita jemput mama dulu," jawab Juna.


Mereka akan menjemput Zara yang sedang di mall bersama Sera. Kedua wanita kembar itu menikmati hari bebas mereka dengan jalan-jalan di mall.


Sesampainya di parkiran mall, Sera dan Zara langsung masuk mobil.


"Sudah shoppingnya?" tanya Juna.


"Gak jadi, kami lihat-lihat aja," jawab Zara sambil duduk didepan memangku Xavero.


Xavier menghadap belakang melihat tantenya. Dia juga dekat dengan Sera karena Sera selalu mengajaknya bermain.


"Onty Sera, Kak Ali mana?" tanya Xavero.


"Dia sekolah sayang. Nanti main ke apartemen onty, ya?" jawab Sera.


Xavero menganggukan kepala, ia lalu menghadap ke depan lagi.


"Sudah isi lagi kau, Sera?" tanya Juna.


"Iya baru ngisi sama Zara juga. Isi nasi," jawab Sera asal.


"Maksudku isi dedek bayi?"


Sera tersenyum kecut. "Enggak dulu deh. Masih trauma melahirkan"


"Kasian si Ali sudah besar tapi belum punya adik," ucap Zara.


"Kata siapa Ali gak punya adik? Navier dan Xavero adik Ali," jawab Sera.


"Itumah adik ponakan. Kasian Kak Kim pasti pingin punya anak lagi," goda Zara.


Sera tersenyum lalu mengalihkan pembicaraan. Mereka kini sudah bahagia dengan keluarga masing-masing.


########%%%%%


Nama anak Juna & Zara :


- Naira Anggun Pahlevi


- Naiza Anggun Pahlevi


- Xavero Anggara Pahlevi


Nama anak Sera & Kim :


- Ali Aldebaran Adinata


Nama anak Sean & Mauren :


- Arseina Putri Sheren Adinata


- Daleon Putra Arse Adinata


- Navier Alister Putra Adinata