
" huupptt... hooss.. hos,.hooss..."
Byan terbangun lagi dari tidurnya. Keringat dingin membasahi hampir sekujur tubuhnya.
"cih sial.. kenapa mimpi itu datang lagi padahal sudah hampir dua minggu ini aku bisa tidur nyenyak. Sepertinya aku harus melakukan sesuatu.. Bagaimana caranya supaya mimpi ini tidak datang terus menerus.. apa yang harus aku lakukan.. harus mulai dari mana.. tapi apa maksud dari semua adegan itu.. anak itu.. pohon itu.. danau itu.. aaaarrkkhh entahlah aku pusing"
Byan mengacak rambutnya dengan kedua tangan lalu menyibakkan selimut yg menutupi nya sambil beranjak dari ranjang nya mencari jaket hoodie kesukaannya..
" Sepertinya aku harus menenangkan otak ku dulu"
Byan pergi meninggalkan kamarnya berjalan perlahan menuruni anak tangga melihat sekeliling rumahnya.
"Sebagian lampu sudah padam berarti bibi sudah tidur"
Byan menghela napas lega
" Hempt.. aku aman"
Lalu Byan berjalan lebih santai menuju pintu belakang setelah melewati dapur daaann..
Cetrek..,
Lampu menyala.. seketika Byan mematung menghentikan langkahnya.
" Hey mau kemana tampan.. ini sudah larut.. apa kau tidak tidur.. pergilah kekamarmu lagi beristrahatlah kembali.. "
Seru bibi Ci..
Ya dia Suci keluarga satu satunya yg dimiliki Byan..
sebenarnya Byan sudah berumur 25 tahun.. tapi bibi Ci memperlakukannya masih sama seperti bocah kecil..
Dia pengganti sosok ibu dan ayah.. memperlakukan Byan penuh cinta dan kasih.. Byan sangat beruntung memiliki bibi Ci..
"Heemm..."
Byan sedikit berfikir untuk memberikan alasan yang tepat tapi setelah dia tak menemukannya akhirnya dia mengalah.
Seketika raut wajah bibi Ci terlihat muram..
Byan sadar akan hal itu akhirnya dia menghela napas panjang
"Maafkan aku bi.. baiklah aku akan kembali ke kamar.. sepertinya aku juga sudah malas keluar.. besok aku harus bangun pagi.. aku akan mengikuti orang yang sepertinya ada kaitannya dengan orang itu bi.."
Lalu Byan memutar badannya berbalik arah.
"Baiklah.. pergilah.. jangan berpikiran macam macam istirahatlah kembali anak muda"
kakak entah apa yang harus aku katakan pada anak mu.. sepertinya dia sangat terganggu dengan mimpi mimpi itu.. aku ingin sekali mengatakan semua padanya.. tapi aku telah berjanji padamu untuk melupakan segalanya dan menganggapnya seperti anak ku sendiri.. sejauh ini aku sudah memperlakukan nya sebaik yang ku bisa.. apa kau sudah bangga padaku kak
bibi Ci menengadahkan kepalanya ke atas seketika sesak di dadanya dan bulir air mata itu mengalir begitu saja.
"Kakak aku rindu"
gumam bibi Ci.. Dia mengatur napas nya kembali setelah merasa cukup untuk kesedihannya saat ini..
"Sebaiknya aku kembali tidur"
Sambil memebawa gelas di tangannya bibi Ci menuju kembali ke kamarnya.. sekilas dia melihat jam dinding di ruang keluarganya waktu masih menunjukan pukul 11 malam..
Di kamar berbeda Byan masih setia dengan kegelisahannya.. dia masih berguling kesana kemari memenuhi setiap inci kasurnya..
"Cih.. selalu saja begini.. dasar mimpi tidak berguna tak bisakah kau lenyap saja.. aku mulai frustasi setiap kau menghantuiku"
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 2 malam..
"Aku tak bisa menahannya lagi.. aku harus pergi"
Lalu Byan pergi meninggalkan kamarnya begitu saja tak perduli lagi kalau pun bibi Ci harus memergokinya.. dia berjalan keluar pintu belakang dengan tergesa.. mengeluarkan motor gedenya Byan memecah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi..