Hilang

Hilang
Bab 34 : Resepsi pernikahan



Setelah kepergian Kakek Askar keluar negeri, Zara ikut bersama Dokter Juna menginap di hotel.


Setelah meninggalkan apartemennya, Dokter Juna berniat membeli rumah di kota lain tempat ia akan bekerja nantinya.


Saat ini mereka di hotel hanya beberapa hari sampai selesai resepsi setelah itu mereka akan bulan madu selama seminggu di Danau Toba.


Mengingat Zara sedang hamil, Dokter Juna memang sengaja memilih tempat yang tidak terlalu jauh dan itu semua untuk kesehatan Zara dan si kembar.


"Honey, aku deg-degan banget. Lusa kita sudah melakukan resepsi. Bahkan nih di internet udah ramai yang membahas pernikahan kita, banyak komen negatifnya juga. Tapi mereka memang benar jika aku hamil duluan," ucap Zara sedih.


"Aku sudah bilang kepadamu sayang. Jangan baca komentar dari mereka! Ini hidup kita jadi jangan hiraukan celotehan mereka," jawab Dokter Juna sambil mengusap air mata Zara.


Zara menangis memeluk Dokter Juna, ia terlalu memikirkan para komentar jahat tanpa melihat banyak komentar dukungan dan selamat dari yang lainnya.


Dia menghilangkan pikiran negatifnya lalu tersenyum dan mulai berpikir positif.


"Sayang aku sudah memesan tiket pesawat dan tour guide untuk kita saat di Danau Toba nanti"


"Benarkah honey? Aku sudah tidak sabar ingin jalan-jalan denganmu, bergandengan tangan lalu bermesraan tanpa ada yang mengganggu kita"


Zara lalu memeluk Dokter Juna, ia sangat bahagia bisa mendapat suami sebaik Dokter Juna. Lalu seketika ia mengingat sesuatu, sebuah rumah-rumahan barbie beserta boneka barbie sudah ia bawa dari gudang rumahnya.


Zara melepas pelukannya lalu membuka kain putih yang menutupi rumah-rumahan itu. Dokter Juna terbelalak seakan mengingat benda tersebut.


"Ini 'kan?" terka Dokter Juna.


"Benar, ini rumah barbie hadiah dari honey saat aku ulang tahun yang ke 10 tahun. Sempat tidak terawat tetapi aku sudah ambil dari gudang lalu akan kurawat dan akan kuberikan kepada si kembar jika mereka perempuan"


Dokter Juna tersenyum, ia mendekatkan diri pada rumah barbie tersebut.


Tangannya mengusap benda itu, benda yang ia berikan kepada calon jodohnya yang ia tidak ketahui.


"Aku sebenarnya gak suka hadiah dari Honey karena kupikir saat itu aku sudah besar tetapi Sera sangat menyukainya bahkan ia memainkannya setiap hari. Maafkan aku yang tidak menghargai hadiah dari honey. Tetapi saat ini aku akan merawat barang pemberian honey ini," jelas Zara.


Dokter Juna terharu, ia memeluk Zara lagi untuk kesekian kalinya.


Dia tidak menyangka jika pasien kecilnya bisa menjadi jodohnya.


Sebuah keberuntungan luar biasa dari Tuhan untuknya. Apalagi Zara sangat cantik dan anggun membuatnya tidak bisa melepaskan Zara begitu saja.


__________________________________


Hari resepsi telah tiba, Zara begitu takut dan tidak percaya diri padahal ia sangat cantik dengan gaun putih termahal yang didesain khusus untuknya.


Resepsi pernikahan ini adalah resepsi pertama dari generasi sekian dan maka dari itu dibuat semewah mungkin.


Terlihat banyak tamu dari perusahaan lain datang dan tak sedikit teman Dokter Juna datang untuk menyelamatinya.


Dokter Juna memberikan mas kawin kedua yaitu sebuah rumah mewah dikota lain dan beberapa berlian untuk sang istri tercinta.


Kali ini dia sangat tampan dengan jas hitam dan dasi kupu-kupu berada ditubuhnya yang tinggi dan maskulin itu.


Tak jarang wanita lain asyik menatap ketampanan Dokter Juna membuat Zara cemburu.


Tetapi kecemburuan Zara hilang ketika sang suami menggenggam tangannya diatas pelaminan yang didekor sangat mewah.


"Jangan khawatir! Aku milikmu sayang," ucap Dokter Juna.


Zara tersipu malu mendengarnya, ia lalu bersandar dibahu sang suami sambil menatap para tamu berpakaian mewah dan para wartawan memperhatikan keromantisan mereka.


Sampai tatapan Zara terfokus pada gadis yang pernah menjadi calon kakak iparnya tetapi gagal, siapa lagi jika bukan Alana. Dokter Juna dan Zara lalu berdiri menyalami gadis yang berambut merah itu.


"Selamat Kak Juna dan Zara atas pernikahannya. Aku tidak menyangka kalian akan berjodoh"


"Terima kasih Alana, jodoh memang tidak ada yang tau. Kau baru sampai?"


Mereka lalu melanjutkan mengobrol lalu menikmati pesta meriah kali ini.


Terlihat para tamu silih berganti, ada yang berdansa, memakan kudapan mahal dan mewah lalu juga ada yang mengobrol dengan rekan sesama bisnis yang datang dipesta meriah itu.


Sedangkan Sean berdiri jauh dengan sorot mata yang tajam kearah sang asisten karena Asisten Kim menggandeng tangan Mauren seperti sepasang kekasih.


Mauren memang berpura-pura menjadi pacar Asisten Kim supaya ia bisa datang dipesta yang hanya ditujukan pada orang-orang tertentu saja.


"Nona? Anda menggenggam terlalu erat," bisik Asisten Kim kepada Mauren sambil melirik Sean yang melototinya.


"Tidak apa-apa Kak Kim. Kapan lagi kita bisa bergandengan tangan?" goda Mauren.


"Tuan Sean sepertinya akan membunuh saya setelah ini.


"Tidak apa-apa Kak Kim, sudah ada liang kuburnya juga kok"


Asisten Kim melirik dengan sinis, ia lalu beralasan ke kamar mandi supaya bisa menjauhi Mauren dan saat itu Sera mengikuti dari belakang.


Dia sangat terpesona dengan ketampanan Asisten Kim saat ini.


5 menit kemudian Asisten Kim keluar dari kamar mandi, tiba-tiba tangannya ditarik oleh Sera menuju salah satu ruangan kecil dan dengan cepat Sera mengunci ruangan itu.


"Maksud anda apa, Nona?" tanya Asisten Kim.


Tanpa menjawab pertanyaan dari pria itu dengan cepat Sera mencium bibir Asisten Kim. Asisten Kim terkejut lalu mendorong tubuh Sera tetapi Sera malah memasukan lidahnya semakin dalam.


Sera menarik tangan Asisten Kim ke pinggulnya, mereka berciuman dengan penuh sensual.


Setelah puas berciuman, Sera tersenyum kearah Asisten Kim tetapi pria itu malah menampilkan mimik wajah yang datar.


"Sudah puas, Nona?" tanya Asisten Kim.


Sera menganggukan kepala. "Aku sangat senang sekali"


Asisten Kim tidak memperdulikan ucapan Sera. Dia membuka pintu lalu pergi meninggalkan Sera yang bingung apakah Asisten Kim senang atau justru marah.


**


Sang pengantin kini berdansa mengikuti alunan lagu yang dikhususkan untuk mereka. Dokter Juna menatap Zara dan sebaliknya Zara menatap Dokter Juna.


Semua orang bersorak tatkala Dokter Juna mencium Zara dihadapan mereka.


Zara sangat bahagia dengan hari ini dan tidak akan pernah terlupakan.


"I love you, Zara Gianila"


"Love you too, Juna Aslan"


Mereka berciuman sekali lagi membuat suasana menjadi riuh karena sorakan dari para tamu.


Memang hari ini sang kakek tidak hadir dan membuat para tamu bertanya-tanya dimana Tuan Askar? Kenapa tidak menunjukan batang hidungnya di pesta terpenting ini.


Tetapi Zara tidak memikirkan semua itu, dia yakin setelah si kembar lahir pasti Kakek Askar akan merestui pernikahanya.


Setelah selesai berdansa, Dokter Juna memilih mengobrol dengan teman-temannya dan Zara memilih duduk dipelaminan ditemani Sera yang sedari tadi melamun.


"Kenapa Sera?" tanya Zara.


"Aku mencium Asisten Kim," jawab Sera dengan datar.


"Kenapa sedih begitu?"


"Aku tidak tau apakah dia merasa senang atau marah kepadaku saat aku cium. Pria itu sungguh misterius dan tidak mudah ditebak," jawab Sera.