
"Naira, Naiza,Vero. Ayo makan dulu!" teriak Zara.
Mereka berlari dan rebutan kursi. Inilah pemandangan Zara setiap harinya. Ketiga anaknya selalu bertengkar memperebutkan sesuatu.
Zara menghela nafas sedangkan Juna yang baru saja keluar dari kamar melihat anaknya yang sedang gaduh.
"Jangan berebut! Nanti papa tidak mau mengajak kalian berlibur akhir pekan," ucap Juna.
Mendengar kata berlibur. Mereka bertiga langsung diam. Masing-masing duduk di kursi dengan tenang sambil menatap papanya.
"Kalian bertiga jangan bertengkar! Kasian mama sampai pusing jika kalian bertengkar," ucap Juna.
"Maafkan kami mama! Pah, papa mau mengajak kami kemana?" tanya Naira.
"Ke pulau seberang," jawab Juna singkat.
Mereka bertiga bersorak kegirangan. Juna dan Zara tersenyum melihat anak-anak mereka begitu bahagia.
Setelah itu mereka menyantap makanan masing-masing. Kini Zara sudah pandai memasak tidak seperti dulu. Dia begitu dewasa dan keibuan membuat Juna semakin sayang kepadanya.
Setelah selesai makan, Juna mengantar anak-anak mereka untuk berangkat sekolah. Dia sangat menyayangi ketiga anaknya.
"Pah, nanti jangan telat ya jemputnya!" ucap Naiza.
"Oke sayang. Disekolah jangan bandel! Dengarkan kata guru kalian!"
"Baik bos," ucap mereka bersamaan.
Dalam perjalanan menuju ke sekolah. Juna melihat anak pertama Sean yaitu Seina berada dipinggir jalan. Juna segera menepikan mobilnya lalu membuka kaca.
"Seina? Kenapa disini? Ayo naik! Biar Uncle antar ke sekolah," ucap Juna.
Seina menggeleng-gelengkan kepalanya. Juna bisa melihat jika Seina baru saja menangis.
Juna membuka pintu dan turun menghampiri Seina.
"Kenapa menangis?" tanya Juna.
Seina terus saja menggelengkan kepalanya. Tanpa pikir panjang Juna langsung menggandeng Seina masuk ke dalam mobil. Seina hanya diam.
"Kak Sein kenapa menangis?" tanya Naira.
Seina menggelengkan kepala. Dia tetap tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah 20 menit perjalanan menuju ke sekolah akhirnya sampai juga.
Naira dan Naiza turun dari mobil tidak lupa memberi salam kepada papanya.
"Seina tidak mau turun?" tanya Juna.
"Antar Sein pulang aja, uncle"
"Oke baiklah. Jika ingin curhat bilang saja. Uncle pendengar setia yang baik," ucap Juna.
"Makasih Uncle. Tapi aku gapapa kok"
Juna mengantar Seina ke apartemen. Juna juga memiliki anak perempuan pasti tahu apa yang tengah dirasakan oleh Seina. Walau begitu ia tidak mau memaksakan untuk Seina bercerita.
Setelah sampai. Juna mengantar Seina sampai ke apartemen. Mauren terkejut saat melihat anaknya jam segini sudah pulang.
"Sheren? Kau sakit? Kenapa pulang cepat?" tanya Mauren.
"Tadi dia berdiri di tepi jalan. Dia tidak mau berangkat sekolah. Ya sudah Mauren. Aku pulang dulu, salam untuk Sean," ucap Juna.
"Makasih dok, hati-hati di jalan," jawab Mauren.
Juna kembali ke mobilnya. Dia meninggalkan Xavero di mobil sendirian. Kini mereka pulang ke rumah. Hari ini Juna mendapat cuti sehari. Dia memanfaatkan waktunya untuk bermain dengan Xavero di rumah.
"Vero mau mampir beli es krim?" tanya Juna.
"Gak mau, pah. Nanti kena marah sama mama," ucap Xavero.
"Anak pintar," jawab Juna sambil mengelus kepala Xavero.
Wajah Xavero sangat imut, dia sangat mirip dengan Juna. Bahkan nakalnya hampir mirip Juna sewaktu masih kecil.
"Vero kok gak punya adik sih, pah? Vero ingin punya adik," ucap Xavero membuat Juna terkejut.
Juna tersenyum lalu menyuruh Xavero membujuk mamanya untuk minta dibuatkan adik lagi. Juna memang ingin mempunyai momongan lagi tetapi ia tidak tega dengan Zara yang sudah 2 kali operasi caesar menahan sakit yang luar biasa saat melahirkan.
Sesampainya di rumah.
Juna menemani Xavero bermain. Dia adalah seorang ayah idaman untuk anak-anaknya. Jika dengan si kembar bahkan ia mau di dandani dan tidak marah. Baginya kebahagiaan anak-anaknya adalah prioritas utamanya.
"Ini camilannya. Mama bikin pisang goreng coklat keju," ucap Zara.
"Wah... asyik enak sekali," jawab Juna.
Mereka makan bersama-sama. Terlihat Xavero memakan makanan buatan sang mama dengan lahap.
"Mah, Vero pingin punya adek," ucap Xavero.
Zara tersedak. Juna segera mengambil kan nya minum. Zara menenggak minuman itu sampai habis.
"Pasti yang ngajarin papamu 'kan?" tanya Zara.
"Aku tidak mengajarinya sayang. Vero yang meminta sendiri," jawab Juna.
Zara mencubit pipi Xavero, ia tertawa geli dengan permintaan bocah kecilnya.
"Minta Onty Sera buatin adek. Kalo mama sudah tidak bisa lagi. Cukup kamu yang terakhir sayang," ucap Zara.
Ya Tuhan. Semoga keluarga kecilku selalu ceria seperti ini.
****
Malam hari.
Malam hari adalah waktu yang tepat untuk pasangan suami istri itu. Setelah beraktivitas melelahkan kini mereka akhirnya bisa berduaan tanpa di ganggu anak-anak mereka.
"Honey, badanku udah oke gak? Aku udah turun 6 kilo nih. Kurang 4 kilo lagi," ucap Zara sambil melenggang di depan Juna.
"Jangan kurus-kurus sayang! Segitu aja cukup"
Zara mendekati Juna yang sedang menonton TV. Wajah Juna masih tetap tampan tak ada perubahan.
"Mau bikin dedek lagi?" tanya Juna.
"Apaan sih? Gak dulu deh. Aku capek"
Juna tersenyum. Dia mengecup pipi Zara. Dia semakin gemas dengan istrinya yang masih muda dan menggairahkan.
"11 tahun kita sudah bersama sayang. Aku jadi teringat saat kita menikah dulu," ucap Juna.
"Waktu begitu cepat berlalu. Kadang aku masih merindukan masa dulu yang sering bertengkar"
Jun menarik tangan Zara sampai Zara menindih tubuh Juna. Mereka saling bertatapan, Zara berusaha berdiri tetapi Juna seolah menahannya.
"Sebentar saja seperti ini mumpung bocil-bocil kita sudah tidur," ucap Juna.
"Aku gendut lho honey, entar keberatan"
"Aku suka yang gendut-gendut. Lebih...."
"Lebih apa?" tanya Zara.
Juna menutup mulutnya dan menggelengkan kepala. Dia tidak ingin. melanjutkan kalimatnya.
Zara menggelitiki tubuh Juna. Juna memberontak lalu menurunkan Zara dari pangkuannya.
"Curang kau, Zara! Aku tidak suka di gelitiki," ucap Juna.
Zara lalu memegang yang sudah mengeras membuat Juna tersenyum.
"Kalo yang digelitiki ini masih geli?" tanya Zara.
"Itu pengecualian sayang," jawab Juna malu.
Juna mendorong Zara lalu menindihnya. Dia seperti singa yang kehausan. Zara memberontak tetapi Juna semakin kuat memegangi kedua tangan Zara.
"Aku mencintaimu," ucap Juna.
"Iya aku tahu. Lepasin dulu dong, honey!"
"Tidak mau"
Juna mencium bibir Zara dan memasukan lidahnya. Sudah seminggu mereka tidak melakukannya karena akhir-akhir ini si kecil Xavero meminta tidur di kamar mereka.
Juna menggigit pelan bibir bawah sang istri membuat Zara kesulitan untuk bernafas. Mereka berpadu dibalut kenikmatan yang tidak ada yang menandingi.
Tangan Juna bergerilya menyusuri lekuk tubuh istrinya. Zara mulai mendesah sampai akhirnya merelakan tubuhnya yang sudah lelah untuk dimainkan oleh suaminya.
"Mulai?" tanya Juna.
"Mulailah sayang. Aku milikkmu," jawab Juna.
Terima kasih.
Sungguh kehadirannya membuatku sangat bahagia. Walau masalah selalu menerpa tetapi kami sudah melewatinya dengan baik dan kini yang tersisa hanyalah kebahagian bersama anak-anak kami.
Aku mencintaimu, Zara. Aku juga sudah berhasil meluluhkan cintamu.
Terima kasih sayangku semoga kita selalu bersama.
I love you.
TAMAT
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tamat nya udah klimaks. Author lega dan berterima kasih pada pembaca setia yang udah baca sampai akhir.
Kurang ekstra part aja 1 atau 2 bab. Tapi entah kapan..hahaha..
Author bakal ada karya baru yang menceritakan anak-anak mereka.
Bercerita tentang Mafia tokoh utamanya Seina dan Daleon mereka anak Sean Mauren di novel Mendadak Menikah (Sean & Mauren)
akan mulai update 1 februari.
Disitu bakal bikin ngakak, tegang,,baper n lain2.
Jadi di novel itu hanya fokus pada anak-anak Sean, Juna dan Kim. Tetapi Sean Juna Kim masih tetep ada kok.
Novel itu dimulai saat anak-anak mereka udah pada SMA. yang pastinya bakal seru.
Jangan lupa update pada 1 februari dengan judul : DEAR MAFIA (Seina & Daleon)