Hilang

Hilang
Bab 33 : Sera dan Zara



2 minggu kemudian.


"Jadi Juna memperkosa Zara saat mabuk?" tanya Anita kepada orang suruhannya.


"Benar Nyoya dan itu membuat Zara hamil anak kembar,"kata


Anita meremas gelas yang digenggamnya. Dia tidak menyangka jika Juna akan melakukan hal sebejat itu. Pikirannya menjadi kacau melihat mantan suaminya masih brengsek membuat dirinya enggan untuk kembali kepada Juna.


"Mantan suami anda juga sudah diberhentikan secara tidak hormat oleh rumah sakit tempat ia bekerja"


Anita menaikan alisnya, ia nampak kebingungan. Dia semakin yakin untuk tidak meminta rujuk kepada Dokter Juna.


Sekarang dia sudah miskin. Untuk apa kembali kepadanya. Sudahlah... aku akan merawat bayi ini sendirian.


Aku akan merawat anak kita Juna, anak yang sudah kau dambakan 5 tahun terakhir. Batin Anita sambil melihat kertas hasil tes DNA nya.


Dia cukup mengambil resiko di usia kandungannya yang baru 3 bulan ia menerima tantangan Dokter Juna untuk melakukan tes DNA tanpa memperdulikan keselamatan janinnya.


Dan inilah hasilnya, anak yang dikandungnya adalah anak Dokter Juna bukan anak selingkuhannya.


Anita mengelap air matanya, ia sangat menyesal meminta cerai dengan Dokter Juna. Tetapi semua sudah terlambat, Dokter Juna sudah menikah dan tidak ada kesempatan lagi untuk rujuk dengannya.


Visual Anita



Anita mengibaskan jemarinya kepada orang suruhannya untuk menyuruh pergi darinya.


Anita menghela nafas panjang, ia menyandarkan kepalanya pada sofa empuk tempat favorit mereka menghabiskan waktu bersama.


Apalagi Anita masih tinggal dirumah Dokter Juna, tempat menyimpan penuh kenangan bersama mantan suami.


Ting... tong... ting... tong...


Anita terbangun dari sofa, ia lantas berjalan membuka pintu. Dia membulatkan matanya ketika melihat sang suami yang bertamu.


"Kau sudah mendapatkan hasil tesnya?" tanya Anita.


Dokter Juna terdiam sambil menatap perut Anita yang nampak menyembul karena ia memakai baju ketat. Anita yang sadar lalu menutup perutnya dengan kedua tangannya.


"Semua sudah terlambat, tidak ada yang harus disesali. Aku akan menjaga anak kita, fokuslah kepada keluargamu sekarang!" ucap Anita sambil menahan air matanya yang akan keluar tanpa malu.


Dokter Juna menatap Anita, ia lalu memberikannya undangan kepada sang mantan istri. Anita menerima undangan mewah itu, ia membaca sekilas undangan resepsi pernikahan sang mantan suami.


"Jika ingin datang maka datanglah! Pintu terbuka lebar untukmu," ucap Dokter Juna sambil membalikan badan untuk segera berjalan tetapi langkahnya langsung terhenti. "Aku akan mengirimkan uang tiap bulan untuk bayi kita. Rawatlah dia walau tanpaku! Jika tidak sanggup maka aku dan Zara sanggup merawatnya," sambung Dokter Juna.


Dokter Juna lalu berjalan meninggalkan Anita yang masih bergetar, ia menuju mobilnya. Terlihat Zara tersenyum kepadanya saat Dokter Juna masuk kedalam mobil.


Dokter Juna lalu mengelus perut Zara.


"Aku tau jika Honey masih mencintai Tante Anita, bisa dilihat dari sorot mata milik Honey," ucap Zara.


"Aku bukannya masih mencintainya tetapi aku merasa kasian dengan anakku yang berada di perut Anita, ia harus tumbuh tanpaku," ucap Dokter Juna sambil menyetir mobil.


Zara terdiam, hatinya merasa sakit mendengar itu. Dia langsung menatap kaca mobil dengan air mata yang menetes, entah mengapa sejak ia hamil menjadi sangat baper dan ingin menangis.


"Zara?" tanya Dokter Juna sambil menggenggam tangan Zara. "Maafkan aku! Maksudku bukan seperti itu. Aku sangat menyayangimu dan si kembar"


Zara menghadap Dokter Juna, ia menghapus air matanya sendiri dan tersenyum kearah Dokter Juna.


"Gapapa honey, aku ngerti kok. Pasti Honey bingung banget diposisi seperti ini"


"Aku tidak bingung sayang. Aku pasti memilihmu"


***


Zara menatap cermin, ia memandangi tubuhnya memakai baju pengantin. Sangat pas dengan lekuk tubuhnya, ia tersenyum lebar tatkala beberapa hari lagi akan digelar resepsi pernikahan yang tentunya sangat mewah.


Dia memfoto dirinya sendiri melalui pantulan cermin lalu mengirimkannya kepada Sera. Zara suka sekali memamerkan sesuatu pada Sera supaya Sera iri kepadanya.


Zara


Bagaimana aku cantik 'kan?


Sera


Biasa aja


Zara


Iri bilang bos!


Sera


Zara


Telanjang aja lah kau! Apaan tuh ayang Kim? Norak sekali


Sera


Ketimbang kau, honey, honey pe'ak. Wkwk


Zara mendengus kesal ia semakin mengirim pesan pertengkaran tetapi ia tidak mengetahui jika sang suami sudah berdiri dibelakangnya lalu memeluknya.


"Honey?"


"Terima kasih sayang. Terima kasih sudah mau menerimaku apa adanya, aku janji tidak akan mengecewakanmu"


"Aku percaya kepadamu honey. I love you"


"Love you too"


Dokter Juna lalu membuka resleting gaun milik Zara, Zara membiarkan sang suami mulai menggerayangi tubuhnya.


Gaun telah terlepas dari tubuh indah Zara, Dokter Juna mendorongnya ke tembok lalu melum*t bibir mungil Zara.


Tangannya mulai bergerilya keseluruh lekukan dengan sentuhan penuh sensual.


Tok... tok... tok... tok...


Pintu kamar Zara berbunyi, Zara melepas ciumannya dan berlari panik mengambil baju biasa di lemari.


Dokter Juna hanya tersenyum melihat tingkah sang istri yang menggemaskan.


Tok... tok... tok...


"Buka woy! Sera mau masuk nih"


Mengganggu saja kau Sera! Batin Dokter Juna.


Setelah memastikan Zara memakai bajunya, Dokter Juna membuka pintu dan terlihat Sera langsung masuk ke kamarnya dengan kesal.


"Ini kamarku, kenapa kalian mesum disini?" tanya Sera.


"Ini juga kamarku," balas Zara.


"Mana bisa? Kau sudah menikah dan kamar ini menjadi milikku sepenuhnya"


Dokter Juna melerai adu mulut mereka, ia meminta maaf kepada Sera dan menjelaskan jika tidak melakukan hal aneh dengan Zara di kamarnya.


Sera duduk di bibir ranjang sambil cemberut, ia kesal kepada sang kakek memilih ke luar negeri daripada menghadiri pesta pernikahan cucunya beberapa hari lagi.


"Jadi kakek sudah berangkat, Sera?" tanya Zara kecewa.


"Iya tuh, dia bawa koper besar. Sekalian tidak usah pulang saja. Tuh aki-aki nyebelin tinggal matinya aja banyak tingkah"


"Husss... kau tidak boleh berkata seperti itu, Sera! Dia tetap kakek kalian dan lagipula dari awal memang kesalahanku," ucap Dokter Juna.


Zara menyuruh Dokter Juna keluar, ia ingin berbicara empat mata kepada Sera.


Setelah memastikan sang suami keluar, ia menepuk bahu Sera lalu menyuruh menjaga sang Mama.


Zara menitipkan Mama kepada Sera karena ia kini sudah menikah dan akan fokus pada keluarga kecilnya.


"Ku harap kau setelah lulus sekolah nanti jangan terburu untuk menikah. Bahagiakan Mama dulu karena aku belum sanggup membahagiakan Mama," ucap Zara.


"Aku pasti akan membahagiakan Mama. Sekarang fokuslah kepada suami dan bayi kembarmu"


Mereka berpelukan meluapkan kebahagiaan dan kesedihan mereka.


Mereka lahir bersama dengan Sera yang lahir duluan lalu 10 menit kemudian Zara lahir.


Mereka dibesarkan dari keluarga konglomerat membuat kehidupannya terjamin.


Suka duka mereka lalui, pertengkaran selalu menbubui hari-hari mereka.


Tetapi kini gadis kembar itu harus berpisah karena setelah resepsi nanti Zara akan ikut bersama Dokter Juna ke luar kota untuk tinggal disana.


Dokter Juna harus mengurus rumah sakit milik Sean yang berada dikota tersebut. Dia bertekad untuk mengabdi kepada Sean yang selalu baik kepadanya.


Dia ingin membuka lembaran baru bersama keluarga kecilnya nanti.