
"Sera... jangan pergi, Sera! Jangan tinggalin aku, Sera! Huhuhuhuhu..."
"Sayang, bangun Zara sayang! Kenapa? Ada apa sayang?" tanya Dokter Juna menepuk pipi Zara yang sedang mengigau.
"Seraaaaaaa....," teriak Zara terbangun dari mimpinya.
Nafas Zara terengah-engah, keringat dingin bercucuran terlihat Dokter Juna memberikan air putih kepada Zara.
Zara meminumnya sampai habis tak tersisa, dia lalu memegangi kepalanya.
"Mimpi apa sayang?"
"Aku bermimpi jika Sera akan pergi meninggalkanku"
Dokter Juna terdiam, ia menyangka jika naluri saudara kembar sangat kuat. Memang mimpi buruk Zara akhir-akhir ini tentang Sera membuat Dokter Juna semakin khawatir.
"Itu hanya mimpi sayang. Tenangkan pikiranmu! Ayo sekarang mandi! Kita harus berangkat bulan madu," ucap Dokter Juna menenangkan Zara.
Zara menganggukan kepala, ia bergegas ke kamar mandi dan mandi secepat kilat. Sedangkan Dokter Juna menyiapkan pakaian dan keperluan mereka.
Dokter Juna memasukan 4 pasang pakaian Zara dan 4 pasang pakaiannya.
Dia juga terlihat memasukan susu hamil dan vitamin untuk sang istri tercinta.
"Honey?"
"Ada apa sayang? Cepat sekali mandinya?"
Zara mendekati Dokter Juna sambil memakai handuk yang ia lilitkan pada tubuhnya, Zara merengek seperti anak kecil kepada Mamanya.
"Honey, susuku keras banget dan disentuh jadi sakit. Ini kenapa honey? Cepat periksa honey!" ucap Zara sambil menyodorkan dadanya.
Dokter Juna menelan ludah, pagi-pagi sudah sarapan susu segar. "Wajar sayang. Jika hamil tubuhmu akan mengalami perubahan misalnya pada dadamu akan mengeras dan semakin besar kandunganmu maka bersiaplah put*ingmu akan mengeluarkan air"
Zara sedikit terkejut lalu menganggukan kepala, ia lantas memakai pakaiannya.
Dia memakai dress putih pemberian Dokter Juna terlihat anggun dan sangat cantik.
"Pas sekali sayang di tubuhmu," ucap Dokter Juna.
"Terima kasih, honey"
Setelah siap mereka bergegas menuju bandara diantar supir. Zara tidak sabar dengan bulan madunya kali ini. Walaupun tidak jauh yang terpenting ia pergi bersama orang tercinta.
Mobil sedan hitam itu terlihat melaju menuju jalanan aspal hitam. Nampak lalu lalang tidak padat membuat mereka sampai dibandara tepat waktu.
Setelah sampai di bandara, Zara mendapat telpon dari Sera. Sera tidak ingin jika Zara pindah karena disisa waktunya ia masih ingin melihat Sera dan kedua keponakannya jika lahir.
"Kau 'kan bisa mengunjungiku Sera! Udahlah jangan sedih! Seperti mau mati saja kau," ucap Zara.
"Issh... pokoknya jangan pindah! Setelah bulan madu kalian disini saja!"
"Kau bantu bujuk Kak Sean dong! Semua itu 'kan tergantung Kak Sean," jawab Zara.
"Iya, entar aku nangis guling-guling didepan Kak Sean supaya Paman Juna tidak ditugaskan di luar kota," ucap Sera.
Setelah itu Zara menutup telpon, ia menghela nafas karena saudari kembarnya terus-terusan merengek supaya ia tidak pindah kota.
"Kenapa sayang?" tanya Dokter Juna.
"Gapapa sayang. Ayo masuk! Pesawatnya akan segera berangkat"
Mereka lalu masuk ke pesawat komersial, Zara duduk disebelah Dokter Juna lalu Dokter Juna memasangkan sabuk pengaman kepada Zara.
3 jam kemudian.
Mereka segera turun dan menemui tour guide yang akan mengarahkan mereka selama 3 hari.
Tour guide mengarahkan mereka ke hotel dulu untuk meletakan barang-barang mereka setelah itu mereka mendapat makan siang.
Dokter Juna mengambilkan lauk untuk Zara, ia mengambil daging sapi, sayur-sayuran dan beberapa buah untuk sang istri tercinta.
"Harus dimakan sampai habis!" perintah Dokter Juna membuat Zara manyun.
Zara segera melahapnya karena perutnya sudah kelaparan dan sesekali Zara meminta disuapi oleh Dokter Juna.
"Kau istri rasa anakku, Zara. Manja sekali tetapi aku sangat senang," ucap Dokter Juna.
"Kapan lagi bisa bermanja-manja dengan suami rasa papa?"
Dokter Juna terlihat gemas, ia mencubit pipi Zara. Sungguh bahagia pasangan baru menikah itu sampai seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Setelah selesai makan, mereka segera menuju ke danau besar itu yang berjarak setengah jam dari hotel mereka.
Dalam perjalanan, mata Zara terperanjat dengan keindahan danau raksasa itu. Dia baru pertama kali memang datang kesana.
"Sayang, dipinggir danau itu 'kan ada hotel juga? Kenapa kita tidak menginap disana saja?" tanya Zara melihat sebuah bangunan megah berwarna putih yang berada dipinggir danau.
"Jika kau mau kita bisa pindah kesana, aku akan bilang ke tourguidenya"
"Iya sayang. Kita menginap disana saja"
Dokter Juna menganggukan kepala, ia langsung meminta kepada tourguidenya untuk berpindah hotel walaupun dikenakan biaya lagi.
Beberapa menit kemudian.
Mereka turun dari mobil, terlihat pemandangan yang sangat menakjubkan. Sebuah hamparan bukit hijau disertai danau biru besar membuat mata tidak mau berkedip.
Zara berlarian dibukit hijau itu membuat Dokter Juna khawatir.
"Jangan lari-lari sayang! Bahaya"
Zara tidak memperdulikan ucapan Dokter Juna. Dia berlari sambil merentangkan tangan dan terlihat rambutnya disapu oleh angin kencang membuat kecantikannya keluar.
"Honey. Ayo kita berfoto!" ajak Zara.
Dokter Juna menganggukan kepala, mereka berfoto bersama menggunakan fotografer yang telah mereka sewa.
CEKREK
CEKREK
CEKREK
Pose demi pose berganti sampai sang fotografer menyarankan kepada mereka dengan berpose berciuman dengan latar belakang danau besar itu.
Zara cukup ragu tetapi Dokter Juna meyakinkan jika kapan lagi mempunyai foto berciuman di danau yang besar ini?
Mereka lalu berciuman dengan mesra dan terlihat fotografer segera memotret mereka beberapa kali.
Setelah cukup puas, Dokter Juna memandang Zara. Dia mengelus pipi Zara.
"Aku sangat beruntung memilikimu, Zara. Semoga cinta kita akan abadi bersama bayi kembar kita nanti. I Love you, Zara"
"I love you too, Honey"
Aktingku bagus kan? Batin Zara.
_______________________________