
Amira dan Rama bergegas mendekati belakang mobilnya terlihat beberapa bagian penyok dan juga ada sepeda motor besar tergeletak
" Ya tuhan mobilku.. bagaimana ini..? bahkan ini masih cicilan.."
Amira panik meraup wajah dan menutup mulutnya. Setelah di teliti lebih dekat ternyata kerusakannya mobilnya parah.
" Hey kakak kenapa kau hanya mengkhwatirkan mobilmu.. lihat lah itu disana seperti orang.. bisa jadi itu orang nya.. ayo kita lihat "
Tunjuk Rama sambil bergegas menuju orang yang tergeletak di pinggir jalan sebrang toko nya.
" Ya ayo.. baiklah.."
Amira menyusul Rama.
Setidaknya dia harus bertanggung jawab atas mobilku.
Mereka berjalan tergesa menyebrang jalan sepi untuk menghampiri orang yang tergeletak di sana.
"Kakak lihatlah.. sepertinya dia masih hidup.."
Rama mengecek denyut nadi orang tersebut sambil membuka helm yang menutupi wajah nya..
" Ayo cepat kita harus menolong nya.."
Rama memangku tubuh yang sepertinya berjenis kelamin laki laki itu sambil memberi isyarat kepada kakak nya untuk membantu mengangkat tubuh itu.
"Hey.. tunggu dulu kita akan membawa nya kemana..? disini bahkan tak ada saksi.. bisa jadi dia orang jahat"
Amira menjadi waspada
" Kau ini kak siapa yang mampu berbuat jahat dengan kondisi seperti ini.. ayo cepat "
Rama memalingkan muka memberi isyarat kakaknya agar segera membantunya.. wajahnya terlihat kesal.
"Baiklah.. baiklah.. ayo cepat.. aku kan hanya waspada bisa jadi dia pencuri motor.. atau orang yang berkendara dalam keadaan mabuk.. lihatlah mobil yang terparkir saja bisa dia tabrak.. jadi jangan kesal padaku.."
Amira membopong kaki laki laki penabrak mobilnya.
" Kita bawa ke toko saja "
"Ia ayo cepat"
Mereka pun tergesa membopong tubuh itu..
huh dia berat sekali
" Ayolah kakak yang benar pakai tenaga membantunya"
Akhirnya Rama mengomel melihat bantuan yang dilakukan kakak nya.
*L*ihatlah dia membantu hanya memegang sepatu yang menempel di kaki pria ini.. keterlaluan..
" Hey.. bukankah kau seorang pria.. bahkan kau tidak mau di panggil bocah.. jadi kau pasti kuat.. semangatlah! "
Amira mengepalkan kedua tangannya ke atas mengisyaratkan semangat kepada adiknya
*H*uh lihatlah sepertinya dia sangat kesal
*C*ih.. selalu saya bisa memutar balikan fakta
Rama berdelik jengah
"Jhahahahaha lihatlah bocah ekspresimu sangat lucu" Amira tertawa terbahak.
" Ayo cepat kita sudah sampai.. turunkan disini"
Mereka menurunkan pria itu sambil memeriksa keseluruhan tubuh laki laki itu
" Kak sepertinya dia hanya luka luka ringan.."
Rama memeriksa jaket yang sobek di siku lengan pria tersebut.
" Tapi kenapa dia belum sadarkan juga ya?"
" Kita tunggu saja sepertinya dia pingsan.. coba aku oleskan minyak angin"
Amira mengoleskan minyak angin di bawah hidung dan pelipisnya.. sambil memeriksa bagian tubuh yang lainnya
*Ti*dak ada darah yang keluar dari kepalanya..
mungkinkah dia tidur.. atau gegar otak.. atau dia sekarat akan mati.. ish tidak tidak.. tidak mungkin sepertinya dia baik baik saja.. oia dompet.. tanda pengenal.. ya dia pasti punya tanda pengenal.. aku harus menemukannya dan menghubungi keluarganya..
Fikir Amira sambil mencari cari mengangkat kaki dan membuka jaket pria tersebut.
"Kakak mencari apa..? "
Rama melihat ke arah kakak nya
" Aku mencari dompetnya.. disitu pasti ada tanda pengenalnya.. kita harus menghubungi keluarganya"
Amira masih menggeledah setiap saku yang dimiliki pria tersebut..
" Hah.. aku tidak menemukannya..apa kau menemukannya.."
Dia melirik adik nya
"Tidak.."
Rama menggeleng..
" Aku akan mencari di luar"
Rama segera bangkit keluar toko.
" Tidak perlu lah dik sepertinya percuma juga ini masih gelap.. sebaiknya kita mencari besok saja setelah terang.. lagian kita juga cape habis begadang.. kita perlu istirahat juga"
Amira menyarankan sambil sesekali menguap
" Aku hanya memeriksanya saja sebentar ya.."
Rama pergi keluar toko