
"Tentang ciuman itu, Sera"
"Kenapa? Paman mau nambah lagi? Enak saja"
Ternyata memang benar Sera lebih menyebalkan dari Zara.
"Siapa juga yang mau nambah? Aku minta maaf, aku tidak sengaja"
Sera mendengus, ia pikir tentang apa ternyata tentang ciuman tidak sengaja itu. Sera tidak mau memikirkannya karena itu bukan ciuman pertamanya.
"Yaudah Paman, aku mau pergi dulu," ucap Sera sambil berjalan menuju pintu.
"Tunggu, Sera! Aku akan mengusahakan mencari pendonor hati untukmu secepatnya," ucap Dokter Juna menghentikan langkah Sera.
Sera menghentikan langkahnya, ia terkejut mendengar ucapan Dokter Juna. Dari mana Dokter Juna tahu tentang penyakitnya?
Apakah dari Dokter Vania?
"Aku mohon dengan Paman, jangan beritahu siapapun tentang penyakitku! Aku tidak ingin membuat mereka khawatir. Disisa waktuku ini aku hanya ingin mereka bahagia terutama Mama dan Zara. Aku tidak ingin mereka sedih," ucap Sera datar seolah tidak mempunyai harapan.
Dokter Juna berdiri lalu menepuk bahu Sera, ia memberikan semangat kepada Sera supaya jangan menyerah. Dia akan berusaha mencarikan donor hati untuknya walaupun sulit karena si pendonor hati akan mengalami kematian jika hatinya di donorkan kepada Sera. Sera tidak ingin mengorbankan orang lain, ia lebih memilih takdirnya yang harus meninggal di usia muda dari pada mengorbankan orang lain yang harus meninggal untuknya.
"Aku mempercayakan Zara kepada Paman, dia cinta sama Paman tetapi gengsinya yang gede. Bimbing dia Paman, Zara sebenarnya baik"
Dokter Juna memeluk Sera, ia bisa merasakan rasa sedih yang dirasakan Sera. Gadis ceria dan periang harus memiliki penyakit yang mematikan.
"Jangan khawatir, Sera! Aku akan menjaga saudaramu dengan baik"
"Terima kasih, Paman. Tapi aku belum sempat mewujudkan keinginanku untuk terakhir kalinya"
"Jangan bilang begitu, Sera! Umurmu masih panjang, aku akan usahakan mencari pendonor hati untukmu"
"Umur tidak ada yang tahu, Paman. Disisa waktuku ini aku hanya ingin berkencan dengan Asisten Kim karena dia sudah mengambil ciuman pertamaku. Bisakah kau mendekatkanku dengannya? Aku tidak mungkin meminta bantuan Kak Sean," ucap Sera memohon.
"Apa?"
_________________________________
Shift Dokter Juna telah selesai, ia kini bisa menjaga Zara yang terbaring di ruang VIP. Setelah berganti pakaian, ia menuju di ruangan Zara.
Tetapi matanya tercekat melihat Sera yang terbaring di ranjang sambil bermain game sedangkan Zara duduk di kursi sambil melamun.
"Oi Sera... kenapa kau yang tidur disana? Biarkan Zara berbaring"
Zara menggenggam tangan Dokter Juna lalu mendongakan kepala dan menggelengkan kepalanya.
Zara lalu menyuruh Dokter Juna duduk disebelahnya. Sedangkan Sera tidak merasa berdosa dan melanjutkan bermain gamenya.
"Honey. Bisakah kau melepas infus ini? Bergerak sedikit saja terasa sakit," pinta Zara.
"Tidak bisa sayang, kau harus di infus supaya mendapat vitamin untuk tubuhmu yang belum sepenuhnya vit. Mana yang sakit biar honey tiup?" ucap Dokter Juna.
Zara lalu mencubit paha Sera membuat gadis itu terduduk dan mengelus pahanya. Sera lalu teringat ciumannya bersama Asisten Kim saat hujan kala itu. Sungguh romantis dan membuat Sera jatuh cinta pada Asisten Kim yang cuek dan dingin itu. Tetapi harapannya musnah ketika mengetahui jika Asisten Kim mempunyai pacar.
"Ciuman pertama memang selalu terbayang, membuat jantung berdegup dengan kencang. Oh Asisten Kim ku tersayang. Bisakah kita berkencan?" ucap Sera sambil membayangkan pria idamannya.
Dokter Juna dan Zara hanya saling bertatapan. Mereka melihat Sera yang tersenyum sendiri sambil memegang bibirnya.
"Kau suka dengan Asisten Kim?" tanya Zara.
"Iya, pria itu sangat keren. Dia mencium bibirku dibawah guyuran hujan dekat warung bakso saat pertama kali kita jalan bareng. Huhuhuhu tapi sayangnya dia sudah punya pacar. Aku harus bagaimana? Apa aku harus tidur dengannya supaya dia juga suka denganku?" ucap Sera sangat polos.
Zara mencubit paha Sera lagi, sedangkan Sera mulai kesal lalu mengelus pahanya.
"Jangan begitu, Sera! Kau harus menjaga mahkotamu sebelum menikah," ucap Dokter Juna.
Sera tidak menghiraukan ucapan Dokter Juna, ia melihat ponselnya yang terdapat foto Asisten Kim. Dia mengelus foto itu sambil berguling-guling di ranjang sampai terjatuh.
Gubraaaak..
"Aawwww...."
Dan tiba-tiba ponselnya berbunyi yang rupanya dari Asisten Kim.
"Ayang Kim nelpon nih, ahhh panjang umur ayangku," ucap Sera girang.
Sera jika jatuh cinta sangat sinting. Batin Zara.
Tetapi Sera kecewa karena Asisten Kim hanya bertanya dimana ruangan Zara dirawat.
"Asisten Kim 'kan tau dimana keluarga Adinata dirawat. Ciee pura-pura nanya padahal hanya ingin denger suara Sera 'kan?" ucap Sera percaya diri.
"Maaf Nona Sera, saya hanya memastikan saja karena setelah ini saya dan Tuan Sean akan menjenguk Zara," jawab Asisten Kim.
"Cih... pura-pura deh ayangku"
"Maaf anda tadi berbicara apa?"
"Cih! Tidak jadi, bye sampai ketemu disini"
Sera sangat senang, ia lalu naik ke ranjang lagi dan rebahan tanpa berdosa membiarkan Zara yang sedang sakit malah terduduk di kursi.
"Zara, besok aku akan menemui kakekmu untuk memberitahukan yang sebenarnya terjadi. Beliau pasti sangat marah tetapi aku harus menerima konsekuensinya"
"Semangat honey! Aku juga akan membujuk kakek untuk menerima pernikahan kita," ucap Zara sambil bersandar pada bahu Dokter Juna.
"Terima kasih Zara. I love you sayang"
"I love you too, Honey"
"Hoaaaaam," ejek Sera menguap karena ia seperti obat nyamuk.