Hilang

Hilang
Bab 37 - Keromantisan



"Honey, cepat naik honey! Dingin lho, ntar masuk angin," ucap Zara melihat sang suami yang tengah berenang di kolam renang hotel yang langsung berdekatan dengan danau besar itu.


Dokter Juna segera berenang ke tepi lalu naik menghampiri Zara. Zara segera memberikan handuk putih kepada Dokter Juna.


Dokter Juna yang sangat tampan dan tidak lupa roti sobeknya membuat Zara menelan ludah.


Om Juna emang tampan. Kenapa aku baru tau sekarang? Batin Zara.


Dokter Juna lalu duduk di kursi dan Zara mengambilkan jus jeruk untuk sang suami tercinta.


"Makasih sayang," ucap Dokter Juna.


Zara menganggukan kepala lalu ikut duduk di sebelah sang suami.


Dokter Juna merangkul Zara lalu mencium pipi Zara membuat gadis itu tersenyum malu.


"Kau ingin makan apa sayang?" tanya Dokter Juna sambil mengelus perut Zara.


"Belum ingin honey"


"Kenapa sayang? Wajahmu sedih begitu?" tanya Dokter Juna.


"Dingin honey, aku ingin masuk ke dalam"


Dokter Juna lalu merangkul Zara masuk ke kamar hotel, ia langsung ke kamar mandi untuk membilas badannya sedangkan Zara berbaring di kamar. Walaupun kini mereka berbulan madu tetapi pikirannya meracau memikirkan anak yang di kandung Anita.


Aku percaya sama Om Juna, dia gak akan mengkhianatiku. Tapi aku takut setelah anak yang di kandung tante Anita lahir nanti pasti Om Juna akan bingung dan pasti akan lebih memilihnya karena Om Juna sudah menunggu anak itu selama 5 tahun.


Zara membaringkan tubuhnya lalu memeluk guling dan tak terasa air matanya menetes. Dia menangis mengingat akan hal itu, ia takut kehilangan sang suami yang mulai di cintainya.


Aku harus gimana? Aku gak ingin kehilangan Om Juna. Dia baik banget dan sabar menghadapi sikapku yang kekanakan ini. Om Juna, ku mohon jangan tinggalkan aku.


Dokter Juna yang selesai mandi terkejut melihat Zara menangis. Dia mulai mendekatinya.


"Sayang? Kenapa menangis?" tanya Dokter Juna membuat Zara terkejut.


"Gak papa honey," jawab Zara sambil mengusap air matanya.


"Jangan bilang tidak apa-apa! Pasti ada apa-apa. Kenapa? Kau tidak suka dengan bulan madu kita? Mau pindah tempat?" tanya Dokter Juna.


"Aku suka disini kok, honey"


"Lalu kenapa sayang? Kau masih belum menerimaku menjadi suamimu?" tanya Dokter Juna.


Zara menggelengkan kepala lalu memeluk sang suami yang masih bertelanjang dada. Dia sangat mencintai Dokter Juna, dia sudah menerima Dokter Juna sebagai suaminya.


"Aku masih kepikiran dengan anak yang di kandung tante Anita," ucap Zara.


"Zara, kau tidak usah berpikiran yang macam-macam. Fokuslah kepada bayi kembar kita"


"Tapi honey akan kembali ke tante Anita lagi kan? Honey akan tinggalin Zara sama si kembar kan? Honey kan masih cinta sama tante Anita," ucap Zara sambil menangis terisak.


Dokter Juna menangkup wajah Zara, ia mengelap air mata Zara yang berlinang membasahi pipi.


"Itu semua hanya ketakutanmu. Aku tidak akan meninggalkanmu, aku sangat menyayangi mu dan si kembar. Apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu"


Entah kenapa hati Zara masih tidak percaya karena pria di depannya ini terkenal brengsek dan playboy. Zara menganggukan kepala seolah mempercayai ucapan sang suami.


"Ayo kita makan sayang! Sekarang pikirkan saja bulan madu kita. Disini kita untuk bersenang-senang bukan untuk bersedih," ucap Dokter Juna sambil memeluk Zara.


Zara menganggukan kepala, tetapi tiba-tiba Dokter Juna mencium bibirnya. Mereka melakukan ciuman panas itu dengan romantis. Sampai Dokter Juna mulai meraba apa yang harusnya di raba. Zara tidak menolak justru ia melepas handuk yang terlilit pada tubuh dokter Juna.


"Curang Zaa, aku sudah telanjang sedangkan kau masih mengenakan baju," ucap Dokter Juna.


Zara tersenyum lalu melepas pakaiannya dan menyerang sang suami. Mereka melakukan perkelahian hebat itu , entah berapa kali mereka melakukan tetapi selalu tidak pernah puas. Mereka ingin lagi dan lagi. Ya, begitulah pengantin baru.


Setengah jam kemudian.


Zara sudah lemas, ia terbaring di sebelah sang suami. Setelah melakukan pergulatan hebat, mereka akhirnya terkapar juga.


"Honey curang. Aku kan tidak ingin melakukan itu," ucap Zara cemberut.


"Nanggung sayang. Lagian kau membuatku selalu tegang"


Dokter Juna lalu memakai pakaiannya dan membantu Zara memakaikan pakaiannya.


"Ayo makan! Biar honey buatkan makanan," ajak Dokter Juna.


"Ayo honey, aku juga sudah lapar"


Mereka lalu menuju ke dapur, Dokter Juna sore ini ingin masak sendiri. Para pelayan hotel sudah menyiapkan bahan-bahan makanan lalu Dokter Juna segera mengolahnya.


Kali ini ia akan memasakan Zara makanan seafood.


Zara cukup kagum dengan sang suami karena selain menjadi dokter ia bisa menjadi chef handal untuknya.


"Aku pengen yang pedes, honey"


"Jangan sayang! Tidak baik untuk si kembar"


"Isssshh... mana enak kalo gak pedes?" tanya Zara sambil cemberut.


Dokter Juna mengerutkan dahi melihat tingkah gemas sang istri kecilnya. Dia lalu memasukan 2 buah cabai ke dalam masakannya.


"Tambah lagi dong honey, 20 cabe baru mantab," ucap Zara.


"Mau nambah lagi?" tanya Dokter Juna.


"Iya dong tambah lagi"


Dokter Juna mematikan kompor lalu ia berjalan kearah Zara lalu ******* bibirnya. Zara sangat terkejut tetapi tidak menolaknya. Jantung mereka berdua berdetak dengan kencang sampai terdengar satu sama lain.


Pergulatan lidah itu selesai setelah mereka kehabisan nafas.


"Sudah puas?" tanya Dokter Juna.


"Emmm... maksud Zara kan nambah cabenya bukan nambah ciumannya"


"Itu hukumanmu jika selalu bandel dan susah di atur," ucap Dokter Juna sambil menghidupkan kompor.


"Itu hukumanku? Wow... kalau begitu aku ingin selalu membantah saja biar honey menciumku lagi"


Dokter Juna mengerutkan dahi, ia lalu mendekati Zara lagi. Entah kenapa makin hari ia makin gemas dengan sang istri.


"Ingin ku cium lagi?" tanya Dokter Juna.


Zara menganggukan kepala. Dokter Juna lalu menciumnya lagi, ia ******* bibir mungil itu. Entah kenapa berciuman dengan Dokter Juna menjadi candu.


Zara melepas ciumannya setelah mencium bau gosong.


"Honey? Gosong"


Dokter Juna terkejut, bawang dan cabe yang ia tumis menjadi gosong. Dia lalu membuangnya dan mengganti dengan yang baru.


"Gara-gara ciuman jadi gosong kan honey?" tanya Zara mengejek.


"Tidak apa-apa, kita bisa membuatnya yang baru"


Zara tersenyum lalu ia duduk memperhatikan Dokter Juna. Suaminya begitu tampan.


"Honey, apakah melahirkan itu sakit?" tanya Zara.


"Pasti sakit Zara, tapi itulah kelebihan seorang wanita"


"Aku takut honey. Kalo aku mati gimana?"


"Husssss... mulutmu Zara. Kau akan sehat dengan bayi kembar kita. Jangan berpikiran konyol sayang"


"Honey yang akan membantuku melahirkan?" tanya Zara.


"Bukan Zara, aku bukan dokter kandungan. Tetapi aku akan menemanimu saat melahirkan nanti"


"Honey sudah menyiapkan nama?"


"Emmm... sudah sayang. Aku akan memberitahumu setelah makan," jawab Dokter Juna.