Hilang

Hilang
Bab 42 : Pergi?



Zara terbangun dari tidur singkatnya. Dia menatap jam dinding menunjukan pukul 10 pagi. Rasa lapar menyerangnya perlahan. Dia beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju kulkas, matanya melirik susu hamil yang sudah mendingin dan di sebelahnya terdapat nasi beserta lauk pauknya.


Zara menghela nafas, ia menarik kursi dan duduk dengan nyaman sambil menatap masakan buatan sang suami.


Baik Zara. Sandiwara selesai. Aku tidak ingin membuang waktu lagi. Aku ingin mengakhiri semuanya.


Om Juna memang baik tapi maaf, aku tidak sanggup terus tersiksa seperti ini.


Zara menyendokan makanan itu ke dalam mulutnya. Dia mengunyah dengan pelan, air matanya menetes merasakan tersiksanya batinnya.


Tetapi lamunannya tersadar saat ponsel miliknya berbunyi sangat kencang. Zara langsung menuju ke kamar lalu mengangkat telpon itu.


"Zara, ini tante Anita. Aku ingin bertemu denganmu. Tante sudah berada di depan rumah baru kalian"


"Baik tante"


Zara mengambil jaketnya. Dia segera keluar menemui Anita. Anita nampaknya memakai kerudung dan kacamata hitam untuk menutupi wajahnya. Dia langsung menyuruh Zara untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Kau setelah ini bisa hapus rekaman CCTV di depan rumahmu? Aku takut jika Juna tahu kalau kita bertemu," ucap Anita.


"Jangan khawatir tante! Aku akan menghapusnya"


"Anak pintar. Oh ya, ini adalah pil aborsi. Kau bisa meminumnya setiap hari. Disitu sudah tertulis bagaimana cara meminumnya"


Zara menerima obat itu, pikirannya menjadi bingung. Dia tidak tega menggugurkan dua bayi kembarnya.


"Baik tante. Sudah kan? Zara mau masuk"


"Jika tidak ada efek kau segera bilang. Tante akan memberikan mu dosis yang lebih tinggi," ucap Anita.


Zara menganggukan kepala, ia segera keluar dari mobil Anita lalu berjalan masuk ke rumahnya.


Disisi lain, orang suruhan Juna mengintai mereka. Dia langsung melapor kepada Juna.


"Bos, Anita menemui Zara. Saya tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan karena mereka di dalam mobil"


"Baiklah, kerja bagus!" jawab Juna lalu menutup telponnya.


Apa yang dilakukan Anita kepada Zara? Wanita ular itu pasti sedang memprovokasi Zara.


Disisi lain, Zara sedang duduk di ruang tamu. Dia ragu untuk meminum obat itu.


Kekhawatiran tentang bayi kembarnya menyeruak, ia tidak tega untuk membunuh kedua bayinya.


Aku harus bagaimana? Aku takut. Apa aku harus bilang baik-baik saja kepada Om Juna jika aku ingin berpisah dengannya dari pada aku harus membunuh bayi ini.


Zara menyandarkan kepalanya di sofa, ia terus menangis mengingat nasibnya yang tragis. Dia hanya ingin seperti anak-anak lain yang bisa bebas tanpa ikatan pernikahan yang mengekangnya.


***


Suasana siang ini cukup terik membuatnya Juna membelikan es kelapa muda untuk sang istri tercinta.


Saat istirahat ia memutuskan pulang untuk makan bersama Zara.


Sesampainya di rumah. Dia masuk ke kamar dan melihat Zara terlelap sambil menggenggam sesuatu.


Juna mengambilnya lalu terkejut mengetahui jika itu adalah pil aborsi.


Juna begitu geram, ia membangunkan Zara dengan kasar.


"Bangun Zara! Beraninya kau!" ucap Juna kesal.


Zara menguap lalu mengucek matanya. Juna langsung melempar obat itu kearah Zara.


"Apa-apaan ini Zara? Kau berniat menggugurkan anakku?" tanya Juna berapi-api.


Zara terkejut lalu menggigit bibirnya. Dia tidak berani memandang wajah suaminya marah.


"Apa maumu sebenarnya, Zara?"


"Om Juna aku minta maaf... aku tidak bisa hidup dengan Om Juna. Aku ingin berpisah dengan Om," jawab Zara takut.


"Kenapa kau selalu seperti ini Zara? Tidak bisakah kau jangan kekanakan? Apa ini gara-gara hasutan Anita?"


Kemarahan Juna sudah tidak terbendung, ia terduduk dilantai, hatinya begitu sakit sudah kesekian kali gara-gara ulah sang istri. Zara hanya memandang suaminya yang sudah putus asa, sebenarnya Zara tidak tega tetapi rasa ego mengalahkan semuanya.


"Sekarang terserah padamu, jika kau ingin pergi maka pergilah! Tetapi aku tidak akan menceraikanmu, aku tidak ingin melepasmu seutuhnya. Aku yakin jika kau juga mencintaiku," ucap Juna.


"Aku akan pergi ke luar negeri dan aku akan tetap menunggu surat perceraian dari Om Juna. Maafkan aku, lebih baik Om Juna kembali kepada tante Anita," jawab Zara.


Zara berjalan mengambil kopernya lalu memasukan semua bajunya di koper. Juna hanya bisa terdiam. Dia bingung harus melakukan apa.


"Kemanapun kau akan pergi, kumohon jangan pernah menggugurkan bayi kita," ucap Dokter Juna.


"Aku tidak akan menggugurkannya. Setelah lahir aku akan menyerahkannya kepada Om Juna"


Juna mengusap wajahnya yang telah dipenuhi air mata. Dia harus merelakan istrinya pergi meninggalkannya. Juna sudah tidak bisa menahan Zara lagi karena Zara sudah bersikap seperti ini kesekian kali. Juna harus mengalah demi kebaikan Zara.


Setelah beberapa menit berkemas, Zara berpamitan dengan Juna. Juna berdiri dengan lemas lalu memeluk istrinya.


"Aku mencintaimu, Zara. Ku mohon pikirkan keputusanmu," ucap Juna.


Zara melepaskan pelukan Juna, ia melihat wajah Juna teramat sedih.


"Selamat tinggal Om Juna, terima kasih sudah mencintaiku," jawab Zara.


Zara menarik kopernya sedangkan Juna memegang tangan Zara.


"Biarkan aku pergi, om. Aku ingin pergi dari kehidupan Om Juna"


Juna tidak bisa berkata apa-apa, ia melepas tangan Zara dengan perlahan. Dia melihat Zara berjalan keluar dari kamar sambil menarik koper.


Zara akan pergi ke luar negeri setelah ini. Dia akan menenangkan diri disana.


***


Malam harinya, seperti biasa jika Juna memiliki masalah akan berlari kepada alkohol sambil di temani Kim.


Kim menduga jika Juna memiliki masalah dengan Zara.


"Apa yang terjadi, dok?"


"Zara pergi"


"Pergi kemana?"


"Entah, dia membawa semua pakaiannya," jawab Juna sambil menenggak gelasnya yang ke 3.


Juna yang setengah mabuk lalu menangis menumpahkan seluruh kesedihannya. Pernikahan yang kedua kalinya rusak begitu saja.


"Aku sangat mencintai Zara tetapi dia selalu begitu. Aku kurang apa untuk Zara?" gumam Juna.


"Saya akan bilang kepada keluarga Zara," ucap Asisten Kim.


"Jangan! Mereka akan menganggap ku suami bodoh karena dengan mudahnya membuat Zara pergi"


Asisten Kim lalu membantu Juna untuk berdiri. Dia mengantar Juna untuk pulang. Juna pria yang menyedihkan, wanita yang dicintainya selalu meninggalkannya.


Disisi lain, Zara tengah diomeli oleh Sean. Ternyata Zara pergi ke rumah kakaknya. Sean sangat geram dengan kelakuan sang adik yang begitu sembrono merusak pernikahannya sendiri.


"Kau jangan hanya memikirkan egomu sendiri, Zara! Pikirkan bayi kembarmu! Memangnya kau pikir akan mudah lahir tanpa seorang ayah? Juna sangat menyayangimu. Walau dia brengsek tetapi kini ia sudah berubah demi kau," ucap Sean.


"Aku akan menyerahkan bayi ini jika sudah lahir kepada Om Juna"


"Cih... kau memang egois. Sekarang pulanglah atau akan ku laporkan kepada mamamu," ucap Sean.


Zara menggelengkan kepala sedangkan Mauren yang ada di sebelahnya menghela nafas.


"Katamu kau mencintai Dokter Juna? Kenapa kini kau ingin meninggalkannya?" tanya Mauren.


Zara terdiam ia menangis. Dia bahkan tidak yakin dengan perasaannya sendiri.


"Za, kau hanya butuh liburan. Besok kita ke pantai ya, kita bermain pasir bersama Sera juga," ucap Mauren.


Zara menganggukan kepala lalu Mauren mengajaknya malam ini untuk menginap bersamanya.