
2 minggu kemudian.
Satu masalah telah selesai, 2 dokter di rumah sakit itu ditangkap pihak kepolisian karena diduga memalsukan hasil tes DNA. Ternyata anak yang di kandung Anita bukan anak kandung Juna. Anita memalsukan data itu supaya dia bisa kembali kepada Juna setelah selingkuhannya berkhianat menipunya.
Juna cukup lega dan pada akhirnya Anita juga harus mendekam di penjara karena ulahnya sendiri.
Setelah satu masalah selesai, Juna mengemas pakaiannya ke koper. Dia harus pindah tugas sebagai dokter di rumah sakit lain.
Bagaimana dengan Zara? Juna sudah tidak menemui Zara lagi apalagi Zara juga tidak mencarinya.
Juna menitipkan Zara pada mama Zara.
Dia berharap Zara bisa merenungi kesalahannya.
Sedangkan disisi lain, Zara tengah makan. Entah kenapa ia tidak berselera.
Dia asyik termenung sambil memainkan sendok pada makanannya.
"Zara, jangan memainkan makanan! Cepat makan!" ucap Mamanya.
"Gak selera makan, mah"
"Kasian bayimu. Jangan egois Zara!"
Zara berdiri. Dia berjalan masuk ke kamarnya. Mamanya hanya menghela nafas. Zara semakin kekanakan setelah menikah malah lebih parah dari Sera yang sekarang jadi pendiam.
Zara merebahkan dirinya diranjang empuknya. Dia memeluk bantal sambil memikirkan pria yang masih menjadi suaminya. Sudah 2 minggu mereka tidak bertemu dan berkirim kabar.
Kenapa hatiku sakit sekali? Padahal dulu jika aku marah kepadanya dia selalu membujukku dan meminta maaf. Tapi sekarang dia malah membiarkanku.
Terdengar pintu terbuka. Sera masuk lalu duduk disamping Zara. Sera tersenyum mengejek kepada Zara.
"Baru menyesal 'kan?" tanya Sera.
"Menyesal apaan?"
"Huh... masih gak mau ngaku"
Sera lalu mengelus perut Zara yang sudah membuncit. Zara menepisnya.
"Cih... kau gak kasian jika bayi kembarmu tumbuh tanpa seorang ayah? Kau kan sudah bisa merasakan gimana rasanya tumbuh tanpa ayah?" tanya Sera.
Zara menggigit bibir bawahnya. Dia menarik selimut sampai ke kepalanya. Pikirannya begitu bimbang apalagi dengan perasaannya.
Biasanya ia mendapat ekstra perhatian oleh Juna tetapi kali ini tidak ada seperti ada yang hilang.
"Mumpung belum terlambat lebih baik kau baikan dengan Paman Juna. Dia sangat sayang kepadamu," ucap Sera.
"Aku takut menyakitinya lagi," jawab Zara.
"Paman Juna akan terus memaafkanmu jika kau membuat kesalahan lagi"
Zara menangis dibalik selimut, Sera mengelus kepalanya. Dia membiarkan saudari kembarnya menangis merenungi kesalahannya sampai ia tertidur pulas.
Setelah memastikan Zara tertidur, Sera keluar dari kamarnya.
"Zara sudah tidur?" tanya Mama.
"Sudah mah, dia barusan menangis mungkin menyesali perbuatannya"
Sang Mama masuk ke kamar lalu melihat Zara, dia merasa kasian melihat Zara. Seandainya ia bisa memperhatikan Zara sedari dulu pasti Zara tidak akan seperti ini.
***
Juna di dalam kamar memikirkan Zara sambil memandang foto istrinya. Dia sangat merindukan Zara.
"Sampai kapan kita dalam kondisi ini, Zara? Aku merindukanmu," gumam Juna.
Dia memeluk foto Zara, dia terpaksa berpura-pura untuk menghindar dari Zara supaya gadis itu menyesali perbuatannya.
"Besok aku harus pergi, Zara. Aku tidak sanggup untuk pergi jauh darimu. Aku sangat menyayangimu," ucap Juna.
Tiba-tiba ponselnya berdering ternyata dari Sean. Sean mengajak untuk berkumpul di apartemennya. Juna dengan malas mengiyakan ucapan Sean.
Juna mengambil jaket dan menyisir rambutnya, ia sadar jika dirinya begitu tampan tetapi kenapa Zara seolah tidak menyukainya.
Juna keluar dari rumah lalu masuk ke mobil dan melajukannya ke apartemen Sean.
Sesampainya di apartemen. Sean menyuruhnya masuk.
Mereka mengobrol di pinggir kolam.
"Iya, berat sekali rasanya"
"Sabar saja. Zara akan kembali kepadamu. Biarkan dia merenungi kesalahannya lalu menyesal telah membiarkanmu pergi," ucap Sean.
"Aku titip Zara kepadamu, Sean. Tolong jaga dia"
Sean tersenyum lalu menganggukan kepala. Dia menepuk bahu Juna. Mereka sepertinya akan berhasil melakukan rencana tersebut. Rencana yang akan membuat Zara menyesal.
"Istrimu bagaimana? Tinggal menghitung minggu saja 'kan dia melahirkan?" tanya Juna.
"Iya, dia semakin tidak ingin ku sentuh. Aku sangat tersiksa sekali, Juna"
"Tahan Sean! Memang beresiko jika melakukannya saat hamil tua," jawab Juna.
"Kau tidak menyewa wanita malam 'kan saat kau jauh dari Zara?" tanya Sean.
"Tidak mungkin, Sean. Aku tidak mau mengkhianati Zara"
Setelah mengobrol kesana kemari akhirnya Juna berpamitan pulang. Dia harus segera mengistirahatkan diri setelah bekerja seharian.
**
Zara terbangun. Dia melihat disampingnya ada Sera yang sudah terlelap. Zara mengguncang tubuh Sera.
"Seratun, bangun!"
"Apaan sih?" tanya Sera sambil mengucek matanya.
"Aku haus, ambilin aku minum dong!" suruh Zara kepada saudari Kembarnya.
Sera berdecak, jika saja Zara tidak hamil ia tidak mau disuruh-suruh oleh Zara.
Ketika Sera mengambilkan minum, Zara mengecek ponselnya. Dia merasa sedih karena Juna tidak kunjung menghubunginya.
Beberapa menit kemudian, Sera datang lalu menyerahkan air putih kepada Zara.
Zara segera menenggaknya.
"Udah 'kan aku mau lanjut tidur," ucap Sera.
"Tunggu, Sera! Temenin aku bangun dong! Aku bakalan gak bisa tidur"
"Tidurlah Zara! Besok aku harus sekolah," ucap Sera.
"Biasanya Om Juna bakal nemenin aku begadang jika aku gak bisa tidur," ucap Zara sedih.
Sera tertawa, ia menyadari jika Zara mulai kehilangan sosok Juna pada kehidupannya. Zara yang tertawai Sera, menoyor kepala saudari kembarnya.
Sera sangat kesal tetapi tidak membalasnya, ia tidak mau menyakiti Zara yang sedang hamil.
"Sekarang kau baru sadar 'kan jika sudah kehilangan Paman Juna?" ejek Sera.
"Siapa bilang? Aku 'kan...."
"Ciyeee..."
Zara mendengus kesal, ia menarik selimut sampai kepalanya. Sera tetap menggodanya membuat Zara semakin kesal.
"Zara, aku akan menikah secepatnya supaya kau gak merasa nikah muda sendirian. Aku gak mau kau merasa iri denganku," ucap Sera.
"Nikah sama siapa?" tanya Zara.
"Kalo ada yang ajakin nikah aku bakal tetep terima. Selama ini kau tertekan dengan pernikahanmu karena merasa iri dengan teman-teman maupun diriku 'kan?" ucap Sera.
Zara terdiam. Memang benar ucapan Sera, tetapi bukan karena semua itu ia menyesal menikah muda.
"Eh, aku dengar Paman Juna akan pergi ninggalin kota ini," ucap Sera.
Zara cukup terkejut. Hatinya terasa tidak nyaman.
Om Juna mau pergi? Kenapa tiba-tiba? Apa dia sungguh ingin pergi dari kehidupanku?
Zara menarik selimut sampai kepala. Dia menggigit jemarinya sendiri. Sera tersenyum melihatnya. Ini adalah pembelajaran bagi Zara supaya tidak seenaknya mempermainkan perasaan seseorang.
"Za, besok kau coba temui Paman Juna. Pesawat yang dinaikinya pukul 10 pagi. Jika kau sayang dia coba temui dia dan memohon supaya tidak pergi. Jika kau gak sayang dia maka lebih baik besok bobok cantik aja di kamar," ucap Sera.
Sera merebahkan dirinya di samping Zara. Dia memeluk Zara dari belakang lalu mengelus perut Zara.
"Kasian keponakanku jika sampai gak punya papa," sindir Sera.