Hilang

Hilang
Bab 25 : Mengawali



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya.


Pukul 6 pagi Sera terbangun dari tidurnya, ia beranjak ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya. Setelah itu ia menatap kaca di depannya, ia melihat rambut sambungnya rontok. Sera lalu berinisiatif untuk melepasnya.


Sepertinya aku harus seperti ini saja. Aku tidak nyaman dengan jidatku yang tanpa poni.


Setelah itu ia menuju ke dapur, ia ingin memasak sarapan untuk pria yang telah merenggut keperawanannya.


DEG


Dada Sera terasa sakit, ia nampak memegangi dadanya. Dia berjalan menuju kulkas sambil berpegangan pada tembok.


Sera mengambil air putih di kulkas lalu menenggaknya.


Saat seperti ini pun masih sempat sakit.


Huh! Hidupku hanya tinggal beberapa bulan lagi. Aku harus menderita seperti ini, terkadang aku iri dengan Zara yang memiliki hidup sempurna tetapi ia tidak pernah bersyukur.


Setelah dirasa cukup baik, Sera lalu mengambil ikan yang berada di kulkas lalu menggorengnya dan tidak lupa memasak nasi.


Sera memang suka memasak bahkan cita-citanya menjadi chef membuat ia mengasah bakat memasaknya sesering mungkin.


Tiba-tiba Dokter Juna menuju ke dapur, ia terkejut melihat istrinya sedang memasak.


"Zara? Sedang apa sayang?"


"Good morning honey. Aku masak ikan untukmu, hari ini gak sempat masak sayur jadi makannya ini aja ya"


Dokter Juna makin heran dengan sang istri yang mendadak perhatian dengannya. Dia juga memperhatikan rambut sang istri yang mendadak memiliki poni.


"Rambutmu, Sayang?"


"Oh... aku ingin terlihat beda aja. Gapapa 'kan honey?" ucap Sera sambil memainkan poninya.


"Tapi jika begitu kau sangat mirip dengan Sera. Bagaimana cara membedakan kalian?"


"Iiiih... Honey lucu. Masak dengan istri sendiri tidak bisa membedakan," ucap Sera sambil membalik ikan tersebut.


Dokter Juna tersenyum, ia lalu memeluk Sera dari belakang. Dia menghirup aroma rambut sang istri tetapi ia mengernyitkan dahi karena aroma tersebut sangat berbeda dari biasanya.


"Kau ganti sampo sayang?" tanya Dokter Juna.


"Iya honey. Kenapa? Honey tidak suka?"


"Aku suka"


Setelah ikan itu matang, Sera segera menyajikan ikan itu di meja makan.


Lalu mereka makan bersama-sama.


Dokter Juna memperhatikan Sera makan, ia masih curiga dengan gadis itu.


"Honey? Bolehkah aku home schooling?" tanya Sera sambil mengunyah makanannya.


"Boleh sayang. Maafkan aku yang tidak sempat memikirkan itu. Aku akan mencarikan guru untukmu"


Dokter Juna terkejut, ia menatap Sera dengan lekat.


"Kenapa kau bertanya seperti itu sayang?"


"Tidak apa-apa, Honey. Emmm... temanku akan di prediksi meninggal beberapa bulan lagi oleh dokter. Apakah kita bisa mempercayai ucapan dokter itu?" ucap Sera berkaca-kaca.


"Kematian memang tidak ada yang mengetahui sayangku. Dokter hanya berusaha semampunya untuk menyelamatkan pasiennya. Terletak percaya atau tidak, kami seorang dokter akan melakukan yang terbaik untuk pasien kami"


Sera menganggukan kepala, ia melanjutkan makannya dengan lahap.


Dokter Juna masih menatap Sera yang ingin menangis.


"Temanmu sakit apa sayang?"


"Oh tidak apa-apa. Dia tidak ingin ada yang tau penyakitnya"


Dokter Juna menganggukan kepala, mereka melanjutkan makannya sampai habis tak tersisa setelah itu mereka mencuci piring bersama.


Disisi lain Zara terbangun dari ranjangnya. Semalam ia pulang kerumah Mamanya dan tidak lupa memotong poninya terlebih dahulu.


Cukup senang karena ia bisa menjalani kehidupannya dengan normal lagi.


Tetapi ia teringat dengan kehamilannya, ia mengelus perutnya. Ada dua janin kembar yang bersarang di perutnya.


"Sera, bangun sayang! Kau harus sekolah," ucap Mamanya berteriak dari luar kamarnya.


"Iya Mama," jawab Zara.


Dia berjalan menuju ke kamar mandi lalu teringat dengan Dokter Juna yang setiap pagi memasakan untuknya.


Cih! Kenapa aku teringat dokter mesum itu?


Zara masuk ke kamar mandi lalu melepas pakaiannya, dia bisa melihat bekas cupangan di dadanya dan ia teringat lagi cupangan itu dari Dokter Juna.


Dia merasa kesal lalu menyiram tubuhnya dengan air dingin dan melampiaskan kekesalannya karena mengingat Dokter Juna.


Apa bagusnya pria itu?


Pria tidak tahu diri.


Dasar playboy.


_______________


Maaf jika alur cerita ini tidak sesuai ekspektasi kalian.


Dan untuk cerita ini akan tamat minggu depan...


Mereka akan happy ending.


mereka itu siapa?


ikuti setiap babnya dan jangan protes setiap cerita yang author buat.