Hilang

Hilang
Bab 23 : Tukeran



Di apartemen.


"Zara sayang, mau kemana?"


"Honey, aku mau main sama Sera," jawab Zara sambil mengambil tasnya.


Dokter Juna melarangnya karena Zara sedang hamil tetapi Zara bersikeras ingin pergi bersama Sera.


Zara juga mengancam tidak mau makan jika tidak diizinkan pergi membuat Dokter Juna menyerah lalu mengizinkan Zara pergi tapi dengan syarat jam 7 malam harus sudah sampai rumah.


"Iya honey, paling jam 6 Zara udah pulang. Lama gak main dengan Sera"


"Baiklah sayang, hati-hati dijalan! Atau mau honey antar?"


"Tidak usah, kami memakai supir. Aku pergi dulu honey, muah"


Setelah Zara keluar dari apartemen, ia bergegas menemui Sera yang sedari tadi menunggu di mobil.


Sera sangat gusar dengan permintaan saudari kembarnya untuk bertukar posisi dalam semalam saja.


Setelah Zara masuk mobil, Sera mulai mengoceh untuk membatalkan ide gila itu.


"Kau gila Zara, kau sudah bersuami malah akan pergi dengan pria lain. Pikiranmu dimana, Zara? Kau tidak kasian dengan Paman Juna? Dia sangat mempercayaimu tetapi kau malah menipunya dengan pergi ke hotel dengan Kak Reno. Aku juga tidak habis pikir dengan Kak Reno, ku pikir dia baik ternyata juga brengsek," ucap Sera.


Zara tidak memperdulikan ucapan Sera, ia lalu memasang earphone pada telinganya supaya tidak mendengar ocehan Sera.


Sera sangat kesal, ia menarik earphone itu terlihat Zara mulai menatap Sera dengan rasa jengkel.


"Apaan sih, Sera? Kau tau sendiri 'kan aku tidak suka Om Juna? Kau hanya melakukan apa yang kusuruh saja untuk jadi diriku sampai besok pagi"


"Za... ini sangat keterlaluan. Kasian Paman Juna dan lagipula kau dengan Kak Reno ngapain di hotel?"


"Kak Reno mengajakku kesana karena menghadari pesta ulang tahun perusahaannya. Gak usah mikirin macem-macem, Sera!"


Sera terdiam ia lalu bersandar dan bersedekap, ia tak habis pikir mempunyai saudari kembar yang sangat keras kepala. Sera khawatir jika penyamarannya akan ketahuan. Dia juga sangat takut harus semalaman dengan suami saudari kembarnya itu.


Mereka kini menuju ke salon untuk menyambung poni milik Sera supaya bisa seperti Zara yang tanpa poni.


Tukang salon itu sangat lihai menyambung rambut Sera dan hanya membutuhkan waktu 15 menit saja untuk menyambung poni tersebut.


"Lihat, Sera! Kau sudah mirip denganku. Pasti Om Juna tidak akan mengenalimu,' ucap Zara.


Sera memutar bola matanya jengah, ia sungguh malas melakukan hal tak masuk akal itu.


Setelah itu mereka bertukar pakaian dan bertukar tas dan kini mereka siap untuk bertukar posisi.


"Sera, kau harus memanggil Om Juna dengan sebutan 'Honey' dan kau jangan pecicilan disana," pinta Zara.


"Hem"


Setelah itu Sera menuju apartemen Dokter Juna, dia saat ini sudah sangat mirip dengan Zara.


Dia mengetuk pintu apartemen itu dan tidak lama Dokter Juna membukanya.


Dokter Juna terkejut karena menganggap Zara pulang cepat tidak ada satu jam.


"Sayang? Kok sudah pulang? Dan kenapa kau mengetuk pintu? Kau 'kan tau nomor pinnya pintu ini," tanya Dokter Juna heran.


Sera kebingungan, ia langsung masuk tanpa menjawab pertanyaan dari Dokter Juna. Dia terduduk di pinggir ranjang sambil merem*s jemari tangannya.


Dia sangat bingung harus melakukan apa setelah ini.


Cup...


Sebuah kecupan mendarat di pipi Sera, gadis itu sangat terkejut lalu melompat menjauhi Dokter Juna dan terjatuh di lantai.


Dokter Juna langsung membantunya berdiri, ia heran kenapa Zara bersikap aneh setelah pulang.


"Kau tidak apa-apa sayang? Kau sedang hamil jadi harus hati-hati," ucap Dokter Juna sambil membantu Sera berdiri.


Padahal Paman Juna sangat perhatian tetapi kenapa Zara begini kepadanya?


Sera kini terduduk lagi di pinggir ranjang, Dokter Juna masih heran dengan gelagat Zara yang sangat aneh.


Dia lalu menawari gadis itu untuk makan sesuatu.


"Mau makan apa sayang? Dan kenapa kau seperti kebingungan?"


"Gapapa Honey. Oh ya honey mau ku masakin sesuatu?"


Sera yang menyadari hal itu lalu membodohkan dirinya.


"A--aku bisa masak yang mudah saja seperti mie goreng," jawab Sera.


Dokter Juna tersenyum lalu mencoba mengelus rambut Sera tetapi gadis itu malah menghindar.


Bagaimana ini? Paman Juna selalu kontak badan denganku.


Apa aku bilang saja ya jika aku bukan Zara? Batin Sera.


Kenapa Zara jadi aneh begini? Apa jangan-jangan efek dari bayinya membuat mood Zara berubah-ubah?


Sera beranjak dari tempat tidur, ia menuju ke dapur dan membuka isi kulkas yang kebanyakan buah-buahan.


Dokter Juna menghampirinya lalu memeluknya dari belakang membuat Sera mati gaya karena kebingungan.


Aduh... Paman Juna. Aku Sera. Jangan main peluk dong!


"Sudah sayang tidak usah memasak, kita pesan makanan saja. Kau ingin makan buah apa biar honey kupaskan?"


Padahal Paman Juna baik banget dan perhatian. Dasar si Zaratun keterlaluan!


"Aku ingin makan apel dan pir"


Dokter Juna tersenyum, ia langsung mengecup pipi Sera lagi membuat Sera semakin terkejut.


Aduh... bagaimana ini? Pulang dari sini pasti aku sudah tidak perawan lagi.


Bagaimana ya menghindari kontak fisik dari Paman Juna?


Dokter Juna mengambil buah apel dan pir lalu mengupaskannya dengan hati-hati. Sera nampak memperhatikan pria itu dengan seksama, memang tampan dan sangat baik.


Beberapa menit kemudian.


Dokter Juna sudah mengupas kedua buah itu, ia lalu menggandeng Sera menuju ranjang dan menyuapinya.


Sera semakin takjub dengan Dokter Juna tetapi juga semakin kasian dengan pria itu karena sudah di khianati dengan sang istri yang sangat dicintainya.


Sera menguyah buah itu sambil melamun, ia jadi teringat Angga yang sebagai kekasihnya tidak pernah seperhatian ini.


"Zara sayang?"


"Ha?" jawab Zara terkejut.


"Kenapa? Ada masalah?"


"Emm... Honey sangat cintakah denganku?"


Dokter Juna tersenyum, ia menganggukan kepala dan mengelus kepala Sera.


"Tapi jika suatu saat aku mengkhianatimu bagaimana?"


"Aku akan memaafkanmu dan akan memberimu kesempatan lagi"


"Tapi jika aku selalu mengulangi kesalahan yang sama bagaimana?"


Dokter Juna terdiam, ia memandang gadis itu dengan lekat. Dokter Juna tiba-tiba mencium Sera membuat Sera sangat terkejut dan syok. Karena saking syoknya ia malah membalas ciuman itu dan seolah terhipnotis dengan pesona Dokter Juna.


Matilah aku! Bagaimana ini?


Sera mendorong tubuh Dokter Juna, dia lalu mundur menjauhi pria itu.


Dia mengambil ponselnya lalu mengirimi Zara pesan.


Sera


Cepat pulang, Zara!


Aku takut jika Dokter Juna melakukan hal aneh kepadaku.


Zara, plis pulanglah!


Aku sangat takut.


"Kenapa sayang?" tanya Dokter Juna kebingungan melihat gelagat gadis itu.