Hilang

Hilang
Bab 29 : Mimpi buruk



Setengah jam kemudian.


Sean dan kawan-kawan datang menjenguk Zara, Zara yang masih merasa pusing bersandar pada bahu Dokter Juna sedangkan Sera masih berada pada posisinya tidur berbaring sambil bermain game.


"Yang sakit siapa rupanya?" tanya Sean melihat Sera di ranjang.


"Oh Kakak datang juga," ucap Zara.


Sean mendekati Sera lalu menarik kuping gadis itu membuatnya kesakitan.


Sera mendengus kesal, ia tetap pada di posisinya dan tidak menggubris Sean.


"Turun kau!"


"Apaan sih Kak?"


"Saudaramu sedang sakit, kau malah tiduran di kasurnya"


Sera bangun dengan cemberut tetapi tatapannya tertuju pada Asisten Kim yang disebelah Sean. Sera terkesima melihat ketampanan Asisten Kim yang baru ia sadari akhir-akhir ini.


Dia mendekati Asisten Kim lalu berdiri disebelahnya. Matanya terfokus pada wajah pria itu, tetapi Asisten Kim tidak menyadari jika sedang di tatap Sera.


Sera berusaha mendekatkan dirinya pada Asisten Kim sampai menyentuh bahunya yang bidang. Asisten Kim melirik Sera, Sera mengedipkan mata berkali-kali seolah menggoda Asisten Kim.


"Mata anda kenapa, Nona?"


Sera menggelengkan kepalanya, ia tersenyum lebar kepada Asisten Kim tetapi pria itu cuek dengan Sera.


Asisten Kim lalu fokus kembali dengan percakapan Sean dan Dokter Juna, ia tidak memperdulikan Sera yang menyenggol bahunya berkali-kali.


Sera semakin kesal karena Asisten Kim tidak menggubrisnya, dengan sangat kencang ia menyenggol bahu tubuh Asisten Kim dengan kuat sampai pria itu menubruk Sean dan Sean terjungkal di tubuh Dokter Juna dengan kuat.


Duaaaaaak...


Sean dan Dokter Juna meraung kesakitan karena benturan kepala yang cukup kuat.


Asisten Kim langsung membantu Sean untuk berdiri, Sean terlihat memegangi jidatnya yang terbentur kepala Dokter Juna.


"Sialan kau, Kim! Sengaja kau ya?" ucap Sean sangat marah.


"Pecat saja dia, Sean! Kurang ajar, aduh... sakit sekali kepalaku," ringik Dokter Juna.


Asisten Kim meminta maaf karena membuat mereka berbenturan lalu ia melirik Sera yang cuek seolah tidak terjadi apa-apa.


Setelah rasa sakit Sean menghilang, Asisten Kim sangat lega, ia meminta maaf sebesar-besarnya.


Tetapi tiba-tiba ponsel Asisten Kim berbunyi yang rupanya dari sang kekasih. Dia langsung pamit keluar dan mengangkat telpon dari kekasihnya.


Sera mengikuti Asisten Kim, ia mendengar pria itu berbicara romantis kepada sang kekasih.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya Asisten Kim menutup telponnya. Dia membalikan badan dan terkejut ketika Sera sudah ada di belakangnya.


"Nona Sera?"


"Ayangku... kau tega denganku"


"Apa maksud anda?"


"Setelah ayang menciumku malah ayang mencampakanku. Ayo kita berkencan Ayang Kim!"


(Dan untuk kisah Sera dan Asisten Kim akan dilanjut di MENDADAK MENIKAH (Sean & Mauren) pada Season 2)


Yuk fokus ke Dokter Juna dan Zara lagi.


"Dia kelelahan dan tubuhnya masih rapuh di kehamilan mudanya. Oh ya Mauren tidak ikut?"


"Sialan kau malah menanyakan istriku. Sadar jika kau sudah punya istri," ucap Sean.


Sabar Juna. Dia kakak iparmu. Batin Dokter Juna.


Zara terlihat mulai lemas lagi, Dokter Juna membaringkan Zara di tempat tidur dan membiarkannya untuk istirahat.


Trio sinting itu kini terduduk di sofa sedangkan Sera tiba-tiba memeluk Sean yang terduduk di sofa, moodnya menjadi sedih setelah berbicara dengan Asisten Kim.


"Sera, kau sudah besar. Kau tidak boleh bermanja-manja dengan kakakmu," ucap Dokter Juna melihat Sera berada di pangkuan Sean.


Sera tidak memperdulikan ucapan Dokter Juna sedangkan Sean membiarkan sang adik berada di pangkuannya. Sera melirik Asisten Kim tetapi pria itu memalingkan wajah.


"Bagaimana dengan Kak Anita?" tanya Sean sambil mengelus kepala Sera yang berada pada dadanya.


"Beberapa hari lagi kami akan melakukan tes DNA," jawab Dokter Juna.


"Jangan sampai kakekku tahu! Akan panjang urusannya jika sampai ia tahu"


"Aku takut jika kakekmu tidak merestui kami"


"Kehamilan Zara bisa membuat tameng dan membuat kakekku luluh. Kau gunakan alasan itu untuk merebut hati kakek karena dia sudah mendambakan seorang cucu"


"Kau sendiri bagaimana, Sean?"


"Kau jangan memikirkan aku! Aku bisa urus diriku sendiri dan suatu saat aku akan membongkar pernikahanku dengan Orenku. Saat ini kami hanya fokus bercocok tanam"


"Bercocok tanam?"


"Aku menyirami sawahku setiap hari. Sawah lebat tersembunyi pada Orenku, hahahaha," ucap Sean nyeleneh.


Sinting sekali Sean. Batin Dokter Juna.


Disisi lain Zara berkeringat dingin, ia bermimpi buruk lagi. Dia melihat dirinya seolah terkurung di ruangan gelap dan sepi. Dia berteriak sekencang mungkin tetapi ia bahkan tidak mendengar suaranya sendiri.


Zara mulai mengigau membuat Dokter Juna menghampirinya, ia membangunkan Zara dan seketika gadis itu terbangun.


Zara memeluk Dokter Juna, ia sangat ketakutan.


"Mimpi apa lagi sayang?"


"Aku takut honey. Aku takut"


"Tidak apa-apa. Aku ada disini"


Zara melihat Sera yang sudah berada disebelahnya. Dia menggenggam tangan Sera dan menatap wajahnya.


"Jangan tinggalkan aku ya Sera!" ucap Zara membuat Sera terkejut.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, Zara"


Mama dimana? Saat seperti ini dia harusnya menemani Zara. Batin Sera.


"Kau juga honey. Jangan tinggalkan aku! Aku bermimpi jika honey rujuk dengan Tante Anita"


"Semua itu hanya mimpi sayang. Aku tidak mungkin kembali pada Anita"


Kenapa aku bermimpi yang tidak-tidak?


Kenapa aku harus bermimpi seperti itu? Batin Zara.