Hilang

Hilang
Bab 46 : Menyesal



Juna diantar oleh Sean ke bandara. Dengan berat hati ia meninggalkan kota tersebut. Apalagi meninggalkan gadis egois yang masih mengandung anaknya. Sedari tadi Juna menghela nafas, ia masih menunggu kedatangan Zara untuk mengucapkan salam perpisahan.


"Kau jangan pikirkan Zara! Kami akan menjaganya," ucap Sean.


"Apa keputusanku sungguh tepat meninggalkan istriku yang sedang mengandung?" tanya Juna.


"Kau meninggalkannya untuk bekerja. Jadi sah-sah saja. Banyak pasangan lain juga meninggalkan istrinya ke perantauan"


Juna memejamkan mata dan mengatur nafasnya. Bayangan akan tangisan Zara tergambar dipelupuk matanya. Juna teringat akan sebuah kalung yang ia beli kemarin untuk Zara. Dia menitipkannya kepada Sean.


"Tolong berikan kepada Zara. Jika dia rindu denganku maka suruh dia menggenggam kalung ini," ucap Juna.


"Baiklah. Lebih baik kau segera masuk, sebentar lagi akan boarding pass 'kan?"


Juna menganggukan kepala. Dia berdiri lalu menarik kopernya. Sean dan Asisten Kim bersalaman dengannya tak lupa memberikan salam perpisahan.


Setelah itu Juna mulai masuk ke gate, rasa tidak ikhlas untuk pergi mengganjal di pikirannya apalagi mengetahui Zara tidak menemuinya.


Disisi lain, Zara berlari masuk ke dalam bandara. Banyak orang yang lalu lalang membuatnya kebingungan. Matanya menyapu ke seluruh pandangan untuk mencari keberadaan suaminya.


Tega banget kalo Om Juna bener-bener pergi. Dia jahat ninggalin aku dan bayinya.


Zara berjalan kesana kemari. Mamanya langsung menghentikan langkah Zara. Beliau memeluknya dengan erat.


"Mah, Om Juna tega ninggalin Zara. Zara 'kan masih istri sahnya Om Juna," isak Zara.


"Juna itu bekerja. Dia tidak serta merta meninggalkamu," ucap Mama.


"Harusnya aku diajak juga dong. Bukannya main tinggal aja"


"Itu semua salahmu Zara. Kenapa jadi menyalahkan suamimu?" ucap Mamanya.


Zara terus saja menangis sampai ia bertemu dengan Sean. Zara langsung menanyakan keberadaan Juna kepada Sean. Sean menghela nafas lalu mengusap kepala Zara sambil tersenyum.


"Juna baru saja masuk. Kau baru sadar betapa beratnya kehilangan suamimu 'kan?" ucap Sean.


"Aku menyesal Kak Sean. Tolong suruh Om Juna kembali," ucap Zara.


"Sudah terlambat Zara, dia sudah pergi. Ayo kita pulang saja!"


Zara menangis tersedu-sedu. Mama menenangkannya. Beliau mengajak Zara untuk pulang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


4 bulan kemudian.


Zara termenung di kursi roda. Perutnya yang sangat besar membuatnya susah untuk bergerak bebas.


Dia mengusap perutnya ketika dua buah hatinya bergerak semakin aktif.


Walau dia hamil tanpa ditemani suami tetapi keluarganya begitu perhatian dengan Zara.


Zara terus saja memikirkan suaminya. Dia sangat merindukan Juna.


Walau Juna setiap hari menelpon tetapi itu semua tidak cukup untuk Zara yang haus akan perhatian.


Zara masih menginginkan Juna untuk kembali. Dia selalu memohon maaf kepada Juna dan memintanya untuk segera kembali.


"Zara, ayo mandi!" ucap Mama.


"Enggak mau"


"Zara, kau harus mandi. Setelah ini akan ada yang ingin menemuimu," ucap mama.


Mama mendorong kursi roda Zara lalu membawanya menuju kamar mandi. Mama memandikan Zara dengan telaten, gadis itu hanya diam. Sambil merenungi nasibnya.


"Bulan depan Zara udah melahirkan. Apa Zara bakal melahirkan sendiri tanpa ditemenin Om Juna? Zara sangat sedih, mah," ucap Zara.


"Kan ada mama, Sera sama Kak Sean. Zara tidak sendirian"


"Tapi Zara hanya butuh Om Juna"


Mama mengambil sabun lalu menyabuni seluruh tubuh Zara. Mama memang sengaja jika tidak menjawab ucapan Zara.


Setiap hari sang mama yang mengurus Zara, ia semakin sayang kepada putrinya yang akan segera memiliki momongan.


Ketika Zara di mandikan. Dia hanya terdiam.


Setelah hampir 15 menit mandi. Mama mengeringkan badan Zara menggunakan handuk. Badan Zara semakin menggemuk seiring berjalannya waktu.


Setelah itu, mama memakaikannya baju senyaman mungkin dan memakaikan wajah Zara sedikit bedak dan lipstick.


"Dandan sedikit saja sayang. Supaya nampak segar," ucap Mama.


Setelah itu Zara diajak menuju taman di halaman rumahnya. Mama sengaja menjemur badan Zara dipagi hari ini supaya mendapat vitamin dari sinar matahari.


"Mah, harusnya jemur dulu baru mandi. Ini entar badan Zara keringetan terus bau lagi dong"


"Gapapa Zara. Oh ya mama masuk dulu ya. Kau tunggu disini bentar," ucap mama.


Zara kini sendirian sambil menikmati panas matahari pagi. Pikirannya termenung entah kemana. Perutnya tiba-tiba bergerak dan terasa tendangan dari dalam perut. Zara tersenyum lalu mengelus perutnya.


"Bulan depan kita sudah bertemu ya dedek. Mama gak sabar," gumam Zara.


Zara terus saja mengajak mengobrol kedua buah hatinya yang bergerak aktif diperut. Zara kini semakin sadar akan artinya sebuah hubungan berumah tangga. Sifatnya yang dulu kekanakan kini sudah mulai berkurang.


"Mama kangen papamu. Dia tega ninggalin kita," gumam Zara. "Mama sangat sayang sama papa kalian. Mama ingin dia pulang dan menemani kita," sambung Zara.


Zara tidak sadar jika dibelakangnya sudah berdiri Juna. Juna tersenyum dan senang saat Zara bilang sangat merindukannya.


"Apa disana papa kalian sudah ada pengganti mama? Apa disana papa kalian menikah lagi?"


Juna menahan tawa. Sampai Zara sadar jika dibelakangnya ada seseorang.


Zara mencoba menengok kebelakang tetapi sangat susah karena badannya sangat berat untuk di gerakkan.


"Mama? Ma... Ayo masuk! Zara udah kepanasan," ucap Zara.


Juna segera mendorong kursi roda Zara dengan hati-hati. Zara belum sadar jika didorong oleh suaminya.


Sampai ketika mereka masuk ke dalam rumah dan Zara melihat sang mama berjalan kearahnya. Zara sangat terkejut, lalu siapa yang mendorongnya?


"Mama kok disitu?" tanya Zara.


"Mama 'kan sedari tadi belum keluar"


"Yang dorong Zara siapa dong?"


Juna langsung berjalan di depan Zara dan berjongkok di harapan Zara. Zara sangat syok. Dia tidak bisa berkata apa-apa.


"Honey?"


"Happy birthday Zara sayang," ucap Juna sambil membawa kue yang diatasnya ada lilin bertuliskan 18 tahun.


Zara menangis menumpahkan rasa terharunya. Juna memeluknya.


"Honey tau ulang tahunku?"


"Zara sayang. Kita kenal 'kan sedari kau masih kecil. Dulu honey juga sering memberimu kado saat kau dan Sera ulang tahun," jawab Juna.


Juna lalu menyanyikan lagu ulang tahun untuk Zara. Setelah itu Zara berdoa sesuai keinginannya dan baru meniup lilin itu.


Sang mama juga terlihat bahagia. Dia mencium kening Zara.


"Mama kok gak bilang jika suamiku akan datang? Zara 'kan bisa dandan lebih cantik dari ini," protes Zara.


"Zara sayang. Kau begini saja sangat cantik. Aku semakin mencintaimu," jawab Juna.


Mama membiarkan mereka mengobrol. Sedangkan Kini mereka duduk berhadapan. Zara sangat malu saat ditatap oleh Juna. Dia terus saja menunduk.


"Aku makin jelek dan gendut ya honey?" tanya Zara.


"Kenapa berpikir begitu? Kau semakin cantik dan seksi"


Zara tersipu malu. Dia menggigit kukunya sampai terlihat rusak. Juna menarik jemari Zara lalu melihatnya dengan seksama.


"Zara, ini kebiasaan tidak baik. Jangan dilakukan lagi, ya? Tidak ada yang menegurmu jika kau melakukan ini?" tanya Juna.


"Makanya honey tinggal disini aja. Biar ada yang menegurku"


Juna mengacak gemas rambut Zara. Zara kini semakin cantik dan terlihat dewasa.


"Maafkan aku, honey! Aku sadar selama ini bersifat kekanakan. Selama 4 bulan ini aku merenungi kesalahanku. Aku menyesal telah bermain-main dengan perasaan honey," ucap Zara.


Juna mengambil sepotong kue lalu menyuapi Zara. Zara makan secara perlahan dan seolah menunggu ucapan dari Juna.


"Kau yakin sudah menyesal? Aku takut kau mengulangi kesalahanmu untuk ketiga kalinya"


"Honey, dengarkan aku! Di dalam perutku ini ada dua bayi kita. Aku tidak mungkin akan bermain-main dengan pernikahan kita. Aku janji. Maka dari itu honey harus tetap berada disini," ucap Zara sambil menggenggam tangan Juna.