Hilang

Hilang
Bab 40 : Pesta



Zara masuk ke rumah. Juna memperhatikannya sambil tersenyum. Dia melihat Zara yang tengah manyun.


"Sudah pulang sayang?" tanya Juna.


"Iya"


Juna melirik jam lalu membuatkan susu hamil untuk Zara. Dia sangat perhatian dengan istri kecil dan imutnya. Juna menuangkan susu 3 sendok ke dalam gelas lalu memberinya air hangat dan mengaduknya sampai larut.


Setelah itu, ia memberikannya kepada Zara.


"Minum dulu sayang. Tadi pagi kau tidak minum susu 'kan?" ucap Juna.


Zara langsung meraihnya lalu menenggaknya sampai habis. Sambil meminum susu ia masih berpikiran dengan ucapannya tadi kenapa ia bisa salah bicara.


"Zara sayang. Gaun pestamu sudah datang. Kau mau mencobanya?"


"Mau, honey"


Juna mengambil gaun milik Zara di lemari, ia langsung menyerahkannya ke Zara.


"Wah... bagus banget. Zara suka"


Juna tersenyum lalu menyuruh Zara mencobanya. Juna membantu memakaikan gaunnya. Zara sangat cantik dengan gaun yang cocok untuk seusianya.


"Tapi nanti Zara harus dandan gak?" tanya Zara.


"Pakai bedak dan lipstick saja sayang. Jangan terlalu menor!"


Zara menganggukan kepala. Dia lalu berjalan didepan cermin. Dia mengaca sambil melihat bentuk tubuhnya yang masih indah.


Juna lalu memeluk Zara dari belakang dan menatap cermin di depannya.


"Zara sayang, aku mencintaimu"


"Aku juga mencintaimu, honey"


Juna mengecup pipi Zara, Zara tersenyum manis. Juna kini harus membuat Zara semakin nyaman di dekatnya.


***


Malam hari telah tiba, mereka telah memakai pakaian dengan rapi dan siap untuk berangkat ke pesta milik temannya. Zara sempat ragu untuk datang karena ia malu dengan teman-teman Juna.


Zara masih minder dengan diusianya yang masih sangat muda sudah menikah dengan Om-om seperti Juna.


Di dalam mobil, Zara hanya melamun.


Juna selalu mengajaknya mengobrol tetapi Zara hanya menjawab iya atau tidak saja.


"Sayang, kau kenapa? Aku tidak ingin memaksamu datang ke pesta temanku. Jika kau keberatan lebih baik kita pulang saja," ucap Juna.


"Enggak kok honey. Kita sudah rapi begini masak mau pulang"


Zara, aku hanya ingin kau bahagia.


Sebenarnya apa yang membuatmu melamun? Aku khawatir dengan kesehatanmu.


Hawa malam ini cukup dingin, sedingin hati Zara. Juna menggengam tangan Zara sambil menyetir mobil. Sesekali Juna tersenyum hangat untuk sang istri kecilnya.


Senyuman Om Juna emang tulus tapi sorot mata tidak bisa berbohong jika Om Juna hanya merasa kasian denganku dan tidak mencintaiku.


Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam mereka sampai di rumah teman Juna. Mobil mewah banyak yang sudah terparkir di halaman rumah yang sangat luas itu.


Juna membukakan pintu mobil untuk Zara lalu menggandengnya masuk ke rumah temannya.


"Hey bro... terima kasih sudah datang. Wah... istrimu cantik sekali," ucap teman Juna yang langsung menyambut kedatangan mereka.


"Terima kasih Arya"


Para wanita melirik ketampanan Juna, ia memakai jas rapi dengan pesona yang luar biasa. Juna yang bertubuh tinggi serta berwibawa membuat mereka terkesima.



Disudut ruangan, seorang wanita tengah meminum minuman memperhatikan Juna dan Zara dengan tatapan sinis. Siapa lagi jika bukan Anita. Anita menatap dengki dengan keharmonisan mereka.


"Kau pasti menyesal melepas Juna"


"Juna akan kembali padaku," ucap Anita.


"Bagaimana caranya? Istrinya berasal dari keluarga Adinata dan sulit disingkirkan"


"Aku akan membuat Zara yang akan meninggalkan Juna. Lihat saja nanti!" ucap Anita.


Zara disana hanya diam disebelah sang suami karena ia tidak mengenal satupun teman Juna. Juna terlihat sedang mengobrol dengan rekan-rekannya.


"Juna, kau pandai juga mencari yang muda dan bening," goda temannya.


"Ah iya, namanya pun jodoh mau bagaimana lagi?"


Juna melanjutkan obrolannya. Dia masih saja di pandang wanita-wanita lain. Sedangkan Zara hanya kesal memutar mata dengan jengah. Menurutnya, Juna tetep jelek dan tidak ada bagusnya.


Tante Anita ada disini juga? Apa ini kesempatanku ya untuk bilang kepadanya?


"Juna?" ucap Anita yang tiba-tiba di depan mereka.


Juna terkejut lalu menarik Zara untuk menghindar.


"Mau kemana honey? Tante Anita sepertinya ingin berbicara dengan honey," ucap Zara.


Juna tetap menarik tangan Zara, Anita hanya berdecih dan ia pun mendapat lirikan tajam dari wanita-wanita di sekitarnya.


Juna menyuruh Zara duduk lalu mengambilkannya minum.


"Tante Anita..."


"Sudahlah, tidak usah dihiraukan. Minumlah sayang! Kau ingin makan apa? Biar honey amnbilkan," ucap Juna.


"Zara ingin makan kue," jawab Zara.


Juna tersenyum lalu mengambil kue untuk Zara. Zara memperhatikan sekitarnya, orang-orang seolah mengagumi kecantikan Zara. Tetapi tidak dengan rombongan teman-teman Anita, mereka melirik sinis kearah Zara.


"Wow... masih kecil sudah jadi pelakor"


"Iya, mau juga ya dia sama Juna?


"Ya jelaslah... Juna kan tampan. Kasian Anita, dia cerai karena kelakuan bocah SMA merebut suaminya"


Zara hanya merem*s jemari tangannya. Dia ingin sekali menampar mulut orang-orang yang sangat julid kepadanya. Padahal yang sebenarnya terjadi bulan seperti itu.


Zara berdiri lalu menuju ke kamar mandi. Dia tidak ingin mendengar celotehan mereka yang membuatnya emosi.


Saat masuk ke kamar mandi, ia tidak sengaja bertemu dengan Anita yang sedang memakai lipstick di depan cermin.


"Kau cantik sekali, Zara," ucap Anita.


"Makasih," jawab Zara sambil mencuci tangannya.


Anita mengelus perutnya yang sudah terlihat membuncit, Zara meliriknya dari pantulan cermin.


"Jika tante ingin mengambil Om Juna ambil saja!" ucap Zara.


Anita mengerutkan kening, "Wow... segampang itu kau menyerahkan Juna"


"Iya, aku sudah tidak kuat lagi bersandiwara. Tapi gak semudah itu Om Juna mau melepasku"


Anita bersedekap lalu memandang wajah Zara. Dia tersenyum melihat wajah Zara yang datar.


"Kau tinggal membuat kesalahan saja! Misalnya berselingkuh, aku yakin dia akan kecewa dan marah kepadamu," ucap Anita memberi saran.


"Atau gini aja, Tante Anita pepet terus Om Juna dan aku pura-pura marah lalu langsung minta cerai sama Om Juna," jawab Zara.


Anita tersenyum kecut, ia memandang perut Zara dan memberi saran untuk menggugurkan bayinya. Pasti Juna akan sangat marah dan saat itulah kesempatan Zara untuk meminta cerai.


"Tapi bagaimana cara menggugurkannya?" tanya Zara.


"Besok aku akan mengirimimu pil aborsi. Kau harus minum itu secepatnya"


Zara menganggukan kepala, ia mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Anita.


"Kita harus sekongkol, tante. Kita bukan musuh melainkan kawan yang harus bekerja sama," ucap Zara.


Anita menjabat tangan Zara, ia tersenyum senang karena Zara begitu sangat polos. Setelah itu Zara berpamitan untuk keluar. Dia menghampiri sang suami yang sibuk mencarinya.


"Darimana sayang?" tanya Juna.


"Zara habis dari kamar mandi"


"Huh... kau membuat honey khawatir saja. Ini makanannya, cepat makan!"


Zara langsung meraih piring yang berisi banyak makanan. Dia duduk sambil menikmatinya dengan tenang. Juna tersenyum melihat Zara yang mulai menjadi penurut.


"Ini minumnya sayang," ucap Juna.


Zara langsung menenggaknya dan setelah itu tersenyum kearah Juna.


"Makasih, honey"


"Sama-sama sayang. Oh ya... tidak ada yang mengganggumu kan?" tanya Juna.


"Gak ada. Honey jangan khawatir!"


Juna ikut duduk di sebelah Zara, mereka nampak menikmati pesta ini sampai Juna tersadar jika diseberangnya terdapat Anita yang memperhatikannya.


Juna memalingkan wajah, ia sudah tidak ingin lagi berurusan dengan mantan istrinya.


Awas Juna! Kau akan kembali kepadaku lagi. Istri bodohmu dengan mudahnya menyerahkanmu untukku.